Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Udara Malaysia Terserang Kabut Asap: Indeks Polusi Mencapai Level 'Sangat Tidak Sehat' di 8 Kota

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Udara Malaysia Terserang Kabut Asap: Indeks Polusi Mencapai Level 'Sangat Tidak Sehat' di 8 Kota
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Indeks kualitas udara di delapan wilayah Malaysia, termasuk Sarawak, masuk kategori "sangat tidak sehat" akibat asap karhutla di Kalimantan.
  • Sistem APIMS mencatat nilai tertinggi 203 di Kota Serian pada 21 Agustus 2024.
  • Pemerintah Malaysia mengimbau publik mengurangi aktivitas luar ruangan dan memperkuat kesiapan layanan kesehatan.

Situasi udara di Malaysia semakin memburuk pada Jumat malam (21/8), ketika APIMS melaporkan indeks kualitas udara (AQI) mencapai 203 di Kota Serian, Sarawak. Nilai tersebut menempatkan kota tersebut dalam kategori sangat tidak sehat (201‑300). Tujuh wilayah lain—Sri Aman (182), Kuching (172), Samarahan (171), Sarikei (168), Samalaju (156), Bintulu (156), dan Mukah (144)—juga berada di zona tidak sehat (101‑200).

Indeks Polusi Udara Malaysia mengklasifikasikan nilai 0‑50 sebagai sehat, 51‑100 sedang, 101‑200 tidak sehat, 201‑300 sangat tidak sehat, dan di atas 300 bahaya. Kementerian Kesehatan menekankan bahwa warga yang terpapar harus mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama bila AQI melebihi 100, serta segera mencari perawatan medis bila mengalami sesak napas atau batuk berkepanjangan.

Asap ini berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda provinsi Kalimantan, Indonesia. Pemerintah Indonesia telah mengerahkan tim pemadam kebakaran, Badan Penanggulangan Bencana, militer, dan kepolisian untuk memadamkan api. Selain itu, otoritas Indonesia melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) guna memicu hujan serta mengeluarkan instruksi kepada pemerintah daerah untuk melakukan tindakan pencegahan masif, termasuk patroli gabungan, pemantauan muka air tanah gambut, dan pembasahan lahan rawan.

Kementerian Kesehatan Malaysia juga berjanji meningkatkan pengawasan penyakit terkait kabut asap, memperkuat kesiapan fasilitas kesehatan, menambah pasokan obat-obatan, dan menambah tenaga medis di daerah terdampak.

Analisis Pakar

Fenomena kabut asap lintas batas ini menegaskan betapa eratnya keterkaitan ekosistem hutan tropis di Asia Tenggara. Karhutla bukan sekadar masalah domestik Indonesia; ia menjadi ancaman regional yang memengaruhi kesehatan publik, ekonomi, dan keamanan energi di negara‑negara tetangga. Kualitas udara yang menurun drastis di Sarawak mengindikasikan bahwa sistem ventilasi atmosferik regional tidak mampu menyerap polutan dalam skala waktu yang singkat, terutama ketika kondisi meteorologi memperkuat stagnasi udara.

Respons Indonesia, termasuk penggunaan operasi modifikasi cuaca, menunjukkan upaya inovatif namun masih terbatas. Keberhasilan OMC sangat bergantung pada kondisi awan, suhu, dan kelembapan; sehingga hasilnya sering tidak konsisten. Lebih penting lagi, pencegahan jangka panjang harus berfokus pada pengelolaan lahan gambut, yang secara historis menjadi sumber utama kebakaran ketika tanah mengering. Kebijakan “pembasahan lahan rawan” dan “pemantauan ketat muka air tanah gambut” harus diintegrasikan dengan program rehabilitasi ekosistem dan pemberdayaan masyarakat lokal.

Dari perspektif kesehatan publik, peningkatan AQI ke level “sangat tidak sehat” menimbulkan risiko akut bagi kelompok rentan—anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Pemerintah Malaysia perlu memperluas program pemantauan kesehatan, termasuk skrining massal untuk gejala pernapasan dan distribusi masker N95 secara gratis di daerah terdampak. Selain itu, kerjasama bilateral dalam pertukaran data kualitas udara dan peringatan dini dapat mempercepat respons lintas negara.

Secara geopolitik, kebakaran hutan menjadi sumber ketegangan diplomatik antara Indonesia dan negara‑negara ASEAN. Dialog multilateral yang mengikat, misalnya melalui Kerangka Kerja ASEAN tentang Lingkungan, dapat menjadi platform untuk menetapkan standar mitigasi, pendanaan bersama, dan mekanisme kompensasi bagi negara yang menanggung dampak transboundary. Tanpa komitmen kolektif, upaya unilateral akan terus terhambat oleh dinamika politik domestik dan keterbatasan sumber daya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama kabut asap yang melanda Malaysia?
    A: Kabut asap berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia, yang menghasilkan asap tebal yang terbawa angin ke wilayah Malaysia.
  • Q: Bagaimana cara masyarakat melindungi diri saat indeks kualitas udara melebihi 100?
    A: Disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan, menggunakan masker N95, dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala pernapasan.
  • Q: Apa langkah yang diambil Indonesia untuk memadamkan kebakaran?
    A: Pemerintah mengerahkan pemadam kebakaran, militer, polisi, serta melakukan operasi modifikasi cuaca (OMC) dan menerapkan kebijakan pencegahan seperti pembasahan lahan gambut.
Meow! Tanya Nesi!
😸