PM Malaysia Anwar Ibrahim Dukung ‘Satu China’: Beijing Puji, Dunia Bimbang
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Anwar Ibrahim menegaskan dukungan Malaysia terhadap prinsip Satu China dan hak China menggunakan kekuatan militer bila reunifikasi damai gagal.
- Pernyataan tersebut mendapat sambutan positif dari Beijing, yang memuji komitmen Malaysia terhadap kebijakan tersebut.
- Reaksi internasional menyoroti potensi ketegangan di Selat Taiwan dan implikasi bagi hubungan ASEAN‑China.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera pada Senin (17/8), Anwar Ibrahim, Perdana Menteri Malaysia, menegaskan kembali dukungannya terhadap prinsip Satu China. Ia menyatakan bahwa Malaysia tidak akan mendukung upaya kemerdekaan Taiwan dan menegaskan kesiapan Beijing untuk menggunakan kekuatan militer jika proses reunifikasi damai tidak berhasil.
Pernyataan Anwar sejalan dengan kebijakan luar negeri Malaysia yang pada 2025 secara resmi mengakui pemerintah Beijing sebagai satu-satunya pemerintah sah bagi China, serta menyebut Taiwan sebagai “wilayah yang tidak dapat dipisahkan dari Republik Rakyat China”. Pemerintah Kuala Lumpur menekankan bahwa dukungan ini mencerminkan aspirasi publik domestik serta konsensus internasional yang “tidak tergoyahkan”.
Reaksi dari Beijing pun cepat. Kementerian Luar Negeri China melalui akun resmi X menyatakan apresiasi atas “sikap tegas” Anwar, menegaskan bahwa tidak ada yang dapat menghalangi reunifikasi China. Juru bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, menambahkan bahwa prinsip Satu China “mencerminkan aspirasi publik dan berpihak pada kebenaran”.
Para pengamat menilai pernyataan ini menambah dimensi geopolitik di kawasan Asia‑Pasifik, khususnya mengingat ketegangan yang terus memuncak antara Washington dan Beijing terkait Taiwan. Malaysia, sebagai anggota ASEAN, kini berada pada posisi yang harus menyeimbangkan hubungan ekonomi yang kuat dengan China dan komitmen keamanan kolektif yang dipengaruhi oleh kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Analisis Pakar
Secara strategis, dukungan Anwar Ibrahim terhadap prinsip Satu China dapat dipahami sebagai upaya menjaga stabilitas ekonomi bilateral dengan Beijing, yang merupakan mitra dagang utama Malaysia. Namun, langkah ini juga menimbulkan pertanyaan tentang independensi kebijakan luar negeri Kuala Lumpur dalam konteks dinamika keamanan regional. ASEAN secara historis mengedepankan prinsip non‑intervensi, namun tekanan dari kedua kutub besar—AS dan China—memaksa negara‑negara anggota untuk menegosiasikan posisi yang lebih fleksibel.
Selanjutnya, pernyataan yang mengesampingkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer oleh China menimbulkan kekhawatiran di kalangan komunitas internasional. Meskipun Beijing secara resmi mengutamakan reunifikasi damai, retorika tentang “opsi militer” tetap menjadi faktor risiko yang dapat memicu eskalasi di Selat Taiwan. Bagi Malaysia, mengadopsi sikap yang tampak mendukung kebijakan militer China dapat mempengaruhi hubungannya dengan negara‑negara Barat, terutama Amerika Serikat, yang secara terbuka menolak perubahan status quo melalui kekerasan.
Dari perspektif domestik, Anwar harus menyeimbangkan sentimen nasionalis yang menolak separatisme dengan kebutuhan untuk menjaga hubungan perdagangan yang menguntungkan. Kebijakan luar negeri yang terlalu condong ke satu pihak dapat menimbulkan kritik dari oposisi politik dalam negeri, yang mungkin melihatnya sebagai pengorbanan kedaulatan politik Malaysia demi kepentingan ekonomi.
Ke depan, dinamika ini akan menguji ketahanan diplomatik ASEAN. Jika ketegangan di Selat Taiwan meningkat, negara‑negara seperti Malaysia mungkin dipaksa untuk mengambil sikap yang lebih tegas, baik dalam mendukung resolusi damai maupun dalam menolak penggunaan kekuatan. Posisi Anwar saat ini mencerminkan kalkulasi jangka pendek, namun evolusi situasi di kawasan dapat memaksa penyesuaian kebijakan yang lebih kompleks.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa arti prinsip Satu China bagi Malaysia?
A: Prinsip ini menyatakan bahwa hanya ada satu pemerintah sah untuk seluruh wilayah China, termasuk Taiwan, dan Malaysia mengakui Beijing sebagai pemerintah tersebut. - Q: Bagaimana reaksi internasional terhadap pernyataan Anwar Ibrahim?
A: Negara‑negara Barat, terutama AS, mengkritik dukungan tersebut karena dapat memperkuat posisi China dalam sengketa Taiwan, sementara negara‑negara pro‑China memuji komitmen Malaysia. - Q: Apakah Malaysia akan ikut serta dalam konflik militer jika China menyerang Taiwan?
A: Pemerintah Malaysia belum mengumumkan kebijakan militer spesifik, namun pernyataan Anwar menekankan dukungan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah, tanpa menyebutkan keterlibatan militer langsung.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
