Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M5,0 Guncang Ruteng: Warga Diminta Waspada Gempa Susulan

BencanaBudi SantosoBudi SantosoSumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa M5,0 Guncang Ruteng: Warga Diminta Waspada Gempa Susulan
BAGIKAN:

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,0 mengguncang wilayah 37 km NNW Ruteng, Nusa Tenggara Timur, pada pukul 10:55:03 WIB, 20 Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kedalaman gempa sebesar 10 kilometer dan mengklasifikasikannya sebagai gempa dangkal.

Menurut laporan awal dari Satgas Penanggulangan Bencana Daerah (Satgas Bencana), tidak ada laporan kerusakan struktural signifikan maupun korban jiwa. Namun, gempa terasa kuat di pusat kota Ruteng dan beberapa desa sekitarnya, memicu kepanikan sementara dan menimbulkan keretakan minor pada bangunan tua.

BMKG menegaskan bahwa gempa ini belum menimbulkan peringatan tsunami, mengingat kedalaman yang relatif dangkal dan magnitudo yang berada di bawah ambang batas tsunami. Meskipun demikian, masyarakat di pesisir tetap diminta untuk tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat.

Pemerintah Kabupaten Manggarai mengaktifkan posko darurat di pusat kota dan menyiapkan tim relawan untuk membantu evakuasi bila diperlukan. Sementara itu, Pusat Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) menyiapkan logistik dasar, termasuk makanan, air bersih, dan obat-obatan untuk kemungkinan penempatan sementara.

Para ahli seismologi menilai gempa ini merupakan bagian dari aktivitas tektonik kompleks di zona subduksi Indo-Australia yang menukik di bawah lempeng Sunda. Aktivitas seismik di wilayah Flores dan sekitarnya memang sering terjadi, mengingat keberadaan beberapa patahan utama yang melintasi pulau tersebut.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Ruteng terletak di zona transisional antara patahan Flores Back‑Arc Thrust dan sistem sesar aktif di Pulau Flores. Patahan ini terbentuk akibat interaksi antara lempeng Indo‑Australia yang menukik ke bawah lempeng Sunda, menghasilkan tekanan tektonik yang terakumulasi di lapisan kerak bumi. Sejarah kegempaan di daerah ini mencatat beberapa peristiwa signifikan, antara lain gempa M6,2 pada 1992 yang menimbulkan kerusakan luas, serta gempa M5,8 pada 2018 yang memicu tanah longsor di daerah pedalaman.

Gempa M5,0 yang terjadi pada 20 Agustus 2026 berada pada kedalaman 10 km, menandakan sumbernya berada di zona patahan dangkal. Karena magnitudo masih berada di bawah 6,0, energi yang dilepaskan belum cukup untuk menggerakkan air laut secara signifikan, sehingga potensi tsunami dapat dianggap sangat rendah. Namun, gempa dengan kedalaman serupa seringkali menjadi pemicu gempa susulan (aftershock) selama beberapa hari hingga minggu ke depan.

Para peneliti memperkirakan bahwa zona sesar di sekitar Ruteng masih memiliki potensi akumulasi tegangan yang belum terlepas. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk memantau informasi BMKG secara berkala, terutama peringatan gempa susulan. Selain itu, penting bagi pemerintah daerah untuk memperkuat standar bangunan, terutama pada struktur tradisional yang rentan terhadap getaran.

Meow! Tanya Nesi!
😸