Salah Kaprah Desil 9 dan 10: Mengapa Anda yang Merasa 'Pas-pasan' Bisa Masuk Kategori Terkaya?

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Salah Kaprah Desil 9 dan 10: Mengapa Anda yang Merasa 'Pas-pasan' Bisa Masuk Kategori Terkaya?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Desil 9 dan 10 sering kali disalahartikan sebagai kelompok "Sultan" atau super kaya, padahal ini adalah indikator posisi relatif kesejahteraan secara nasional.
  • Pengelompokan desil ditentukan secara ilmiah melalui 39 variabel sosio-ekonomi, bukan sekadar jumlah nominal isi rekening atau pendapatan bulanan.
  • Pemahaman yang keliru tentang desil berisiko menciptakan bias dalam penyaluran subsidi dan menekan kelas menengah yang rentan secara ekonomi.

Belakangan ini, istilah "Desil 9" dan "Desil 10" ramai diperbincangkan publik, terutama terkait dengan penyaluran bantuan sosial dan subsidi pemerintah. Banyak masyarakat yang terkejut ketika mendapati diri mereka masuk dalam kategori ini, padahal secara riil mereka merasa hidup pas-pasan di wilayah perkotaan. Banyak yang mengira bahwa mereka yang masuk dalam kategori ini adalah kelompok "Sultan" atau konglomerat bergelimang harta. Namun, secara statistik, anggapan tersebut keliru besar.

Desil bukanlah label mutlak untuk kelas kekayaan, melainkan posisi relatif rumah tangga dalam sepuluh kelompok kesejahteraan. Pengelompokan ini dihitung secara matematis berdasarkan data terpadu kesejahteraan sosial yang mencakup 39 variabel multidimensi—mulai dari kondisi fisik hunian, kepemilikan aset, hingga akses sanitasi. Oleh karena itu, seseorang yang merasa hidupnya pas-pasan di kota besar bisa saja masuk ke dalam desil atas jika dibandingkan dengan rata-rata nasional yang masih didominasi masyarakat berpendapatan rendah.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom, saya melihat polemik mengenai desil ini mencerminkan adanya gap komunikasi yang lebar antara pembuat kebijakan dan realitas masyarakat di lapangan. Penggunaan desil (1 hingga 10) oleh pemerintah—khususnya melalui instrumen kebijakan fiskal—sering kali mengabaikan disparitas biaya hidup antarwilayah. Seseorang dengan pendapatan Rp8 juta di Jakarta mungkin merasa kesulitan memenuhi kebutuhan hidup bulanan karena tingginya biaya hidup, namun dalam skala nasional, angka tersebut dengan mudah menempatkan mereka di Desil 9 atau 10. Di sinilah letak biasnya: statistik makro mengaburkan tekanan mikro yang dihadapi kelas menengah perkotaan.

Lebih jauh lagi, keandalan 39 variabel yang digunakan untuk menentukan desil ini patut dipertanyakan akurasinya di era digital yang dinamis. Metode survei konvensional sering kali lambat dalam menangkap guncangan ekonomi instan, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK) massal atau penurunan daya beli akibat inflasi pangan yang tinggi. Ketika data yang digunakan usang, maka penargetan subsidi (targeting accuracy) akan meleset. Kelas menengah yang rentan miskin (aspiring middle class) justru menjadi kelompok yang paling dirugikan karena mereka dianggap "terlalu kaya" untuk menerima bantuan, namun "terlalu miskin" untuk bertahan tanpa jaring pengaman sosial.

Pemerintah harus segera mereformasi metodologi penentuan desil ini. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan agregat nasional yang kaku. Perlu ada penyesuaian berdasarkan indeks biaya hidup daerah (regional purchasing power parity). Jika reformasi data ini tidak dilakukan, kebijakan pengetatan subsidi—seperti pembatasan BBM bersubsidi atau subsidi energi lainnya—hanya akan menekan konsumsi domestik, yang pada akhirnya akan memperlambat laju pertumbuhan ekonomi nasional yang saat ini sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa yang dimaksud dengan Desil 9 dan 10 dalam data pemerintah?
A: Desil 9 dan 10 adalah kelompok rumah tangga yang berada di posisi 20% teratas dalam tingkat kesejahteraan relatif secara nasional, dihitung berdasarkan 39 variabel sosio-ekonomi, bukan berarti mereka adalah kelompok konglomerat atau "Sultan".

Q: Mengapa orang yang merasa pas-pasan bisa masuk ke Desil 9 atau 10?
A: Karena desil dihitung secara nasional. Biaya hidup yang tinggi di kota besar membuat pendapatan menengah terasa pas-pasan, namun secara statistik nasional, angka tersebut sudah jauh di atas rata-rata kesejahteraan masyarakat di daerah lain.

Q: Variabel apa saja yang menentukan pengelompokan desil ini?
A: Pengelompokan ditentukan oleh 39 variabel, termasuk kondisi fisik rumah (jenis lantai/atap), kepemilikan aset (kendaraan, elektronik), jumlah anggota keluarga, tingkat pendidikan, hingga akses terhadap air bersih dan sanitasi layak.

Meow! Tanya Nesi!
😸