Royalti Ardhito Pramono vs Sony Music: Drama 5,7 Miliar yang Bikin Geger!
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

- Ringkasan Singkat Ardhito Pramono gugat Sony Music Indonesia karena dituduh menahan royalti senilai Rp5,7 miliar.
- Gugatan mencakup tuduhan Sony beri izin sinkronisasi lagu ke drama Korea tanpa bayar.
- Persidangan pertama dijadwalkan 27 Agustus di PengadilanNegeriJakartaPusat .
Ringkasan Singkat
- Ardhito Pramono gugat Sony Music Indonesia karena dituduh menahan royalti senilai Rp5,7 miliar.
- Gugatan mencakup tuduhan Sony beri izin sinkronisasi lagu ke drama Korea tanpa bayar.
- Persidangan pertama dijadwalkan 27 Agustus di PengadilanNegeriJakartaPusat.
Musisi jazz sekaliber Ardhito Pramono resmi mengajukan gugatan perdata ke SonyMusicIndonesia. Ia menuduh labelnya menahan pembagian royalti selama tiga tahun terakhir dan bahkan mengizinkan lagu‑lagunya dipakai di serial drama KoreaSelatan lewat Sony Korea serta LMK KOMCA, tanpa mengirimkan royalti yang seharusnya.
Kuasa hukum Ardhito, Adityo Ramadhan, menjelaskan dua poin utama gugatan: pertama, penahanan royalti sejak 2023 yang dianggap tidak beralasan; kedua, izin sinkronisasi yang “mengalir” ke luar negeri tanpa kompensasi. Ia menambahkan bahwa sebelum melangkah ke ruang sidang, tim Ardhito sudah mengirim tiga surat somasi, namun Sony Music tidak menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan secara kekeluargaan.
Sampai kini, SonyMusicIndonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi. Sementara itu, Humas PengadilanNegeriJakartaPusat mengonfirmasi pendaftaran gugatan dengan nomor register 577/Pdt.G/2026. Sidang perdana dijadwalkan 27 Agustus pukul 10.00 WIB, dengan agenda pemeriksaan legalitas kedua belah pihak. Ardhito berjanji akan hadir langsung saat proses mediasi berlangsung.
Analisis Pakar
Kasus ini bukan sekadar pertikaian kontrak biasa; ia mengangkat pertanyaan penting tentang bagaimana hak ekonomi artis di era streaming dan globalisasi konten. Selama tiga tahun terakhir, industri musik Indonesia memang mengalami pergeseran besar, dengan platform digital yang menuntut model pembagian royalti yang lebih transparan. Jika tuduhan Ardhito terbukti, ini bisa menjadi preseden bagi ribuan musisi lain yang merasa “terkurung” dalam perjanjian label lama.
Di sisi lain, praktik sinkronisasi lagu ke drama Korea bukan hal baru. Banyak label melihat peluang pasar internasional sebagai sumber pendapatan tambahan. Namun, tanpa mekanisme pembagian royalti yang jelas, artis dapat kehilangan hak dasar mereka. Sony Music Indonesia seharusnya memiliki prosedur internal yang memastikan setiap penggunaan lintas negara tercatat dan dibayar sesuai kesepakatan.
Selain aspek finansial, ada dimensi budaya yang tak kalah penting. Ardhito, yang dikenal dengan nuansa jazz‑pop‑indie, telah menjadi ikon musik Indonesia yang menggabungkan elemen lokal dan internasional. Ketika karyanya “menyusup” ke layar drama Korea, sebenarnya ada peluang promosi besar‑besaran bagi musik Indonesia. Namun, peluang itu harus dibarengi dengan keadilan bagi pencipta aslinya.
Jika pengadilan memutuskan mendukung Ardhito, kita mungkin akan melihat revisi kontrak standar antara artis dan label di Indonesia, dengan klausul royalti yang lebih ketat dan transparansi penggunaan lisensi. Sebaliknya, jika Sony berhasil membuktikan bahwa semua prosedur telah dijalankan sesuai hukum, maka kasus ini akan menjadi catatan penting tentang pentingnya komunikasi dan penyelesaian damai sebelum melangkah ke ranah hukum.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa total kerugian yang diklaim Ardhito Pramono?
- A: Ardhito mengklaim kerugian materiil hingga Rp5,7 miliar akibat penahanan royalti.
- Q: Kapan persidangan pertama dijadwalkan?
- A: Persidangan perdana dijadwalkan pada 27 Agustus 2026 pukul 10.00 WIB di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
- Q: Apakah Sony Music Indonesia sudah memberikan respons resmi?
- A: Hingga saat ini, Sony Music Indonesia belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai gugatan tersebut.
BERITA TERKAIT (Selebriti)

Perpisahan Chimot: Permintaan Maaf dan Warisan 20 Tahun for Revenge

Sinematografi Romantis: Tian Xiwei Kembali ke Drama Modern 'Love Knows No Walls' dengan Nuansa Suspense Gelap

Reese Witherspoon Pangkas Separuh Staf Hello Sunshine, Fokus pada Proyek Film dan Buku
