Jakarta Selatan Gali Saluran ‘Jacking’ Tanpa Gali Jalan: Janji Banjir Hilang atau Sekadar Janji Palsu?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Pemkot Jakarta Selatan memulai proyek saluran bawah tanah Jacking sepanjang 1,3 km di kawasan Karang Tengah‑Lebak Bulus.
- Wali Kota Syafrin Liputo menargetkan selesai awal Desember, dengan kedalaman 7‑12 meter untuk mengalirkan limpasan ke Kali Pesanggrahan.
- Proyek dijanjikan mengurangi genangan di Cilandak, namun menimbulkan gangguan lalu lintas dan menimbulkan pertanyaan soal efektivitas jangka panjang.
Pemkot Administrasi Jakarta Selatan (Jaksel) resmi memulai pembangunan saluran pembuangan dengan metode jacking di sepanjang Jalan Karang Tengah Raya, Lebak Bulus, Cilandak. Metode ini dipilih oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) karena saluran eksisting dianggap tidak mampu menampung limpasan hujan yang kian meningkat.
Menurut Wali Kota Syafrin Liputo, keunggulan jacking terletak pada kemampuannya menembus tanah tanpa harus membuka seluruh permukaan jalan. "Dengan cara ini, kami dapat menghindari gangguan besar pada mobilitas warga, sekaligus mempercepat proses pengerjaan," ujarnya pada Selasa (18/8).
Proyek direncanakan berlangsung selama enam bulan, dengan target penyelesaian pada awal Desember. Saluran yang akan dipasang memiliki kedalaman bervariasi: 7 meter di bagian hulu, meningkat menjadi 9‑12 meter di titik hilir, dan berdiameter 1,2 meter sepanjang 1.298 meter. Pipa ini diharapkan menyalurkan air hujan langsung ke Kali Pesanggrahan, mengurangi genangan yang selama ini melanda kawasan Karang Tengah hingga Adhyaksa.
Kepala Sub Direktorat SDA Jakarta Selatan, Santo, menegaskan bahwa pekerjaan saat ini berada di Pit 1 dari total 10 pit yang direncanakan. "Volume pengerjaan hampir sepanjang 1,300 meter, dari PHB Pertanian sampai PHB Adhyaksa. Kapasitas penampungan di PHB Adhyaksa sudah cukup besar untuk menerima aliran dari hulu," katanya.
Santo juga meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan, terutama gangguan lalu lintas. Ia menekankan pentingnya kepatuhan masyarakat terhadap rekayasa lalu lintas dan rambu‑rambu yang dipasang demi keselamatan bersama.
Analisis Pakar
Metode jacking memang menawarkan solusi teknis yang menarik, terutama di wilayah urban padat seperti Jakarta Selatan. Namun, keberhasilan jangka panjang tidak dapat dijamin hanya dengan menyalurkan air ke sungai yang sudah terkontaminasi. Kali Pesanggrahan selama ini menjadi tempat pembuangan limbah industri dan domestik; menambah volume air hujan tanpa peningkatan kapasitas penyerapan dapat memperparah pencemaran dan meningkatkan risiko banjir di hilir.
Selain itu, proyek ini tampak lebih fokus pada penampilan politik daripada penanganan akar masalah. Penurunan genangan di titik‑titik tertentu memang dapat dicapai, namun tanpa perbaikan jaringan drainase mikro, peningkatan intensitas hujan akibat perubahan iklim akan tetap mengancam. Investasi sebesar ratusan miliar rupiah seharusnya dialokasikan untuk revitalisasi seluruh sistem drainase, bukan sekadar “tali tambang” yang menembus tanah.
Penggunaan jacking juga menimbulkan risiko teknis yang tidak dapat diabaikan. Kedalaman hingga 12 meter menuntut pemetaan geologi yang akurat; kegagalan dalam mengidentifikasi lapisan tanah lunak atau jaringan utilitas bawah tanah dapat berujung pada kerusakan struktural jalan di atasnya. Sejauh ini, belum ada transparansi publik mengenai studi kelayakan atau audit independen yang mengawasi pelaksanaan proyek.
Terakhir, komunikasi dengan warga masih terkesan satu arah. Imbauan untuk mematuhi rekayasa lalu lintas memang penting, namun pemerintah harus menyediakan alternatif transportasi atau kompensasi bagi pelaku usaha yang terdampak. Tanpa mekanisme partisipatif, proyek ini berpotensi menimbulkan resistensi sosial yang pada akhirnya menghambat efektivitasnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu metode jacking dalam pembangunan saluran?
- A: Jacking adalah teknik pemasangan pipa bawah tanah dengan cara menekan (jacking) pipa melalui tanah tanpa menggali permukaan jalan secara terbuka.
- Q: Kapan proyek saluran jacking di Karang Tengah‑Lebak Bulus selesai?
- A: Pihak Dinas SDA menargetkan penyelesaian pada awal Desember 2026.
- Q: Bagaimana proyek ini akan mengurangi banjir di kawasan tersebut?
- A: Saluran baru akan menyalurkan limpasan hujan langsung ke Kali Pesanggrahan, mengurangi volume air yang menggenang di jalan‑jalan utama seperti Karang Tengah dan Adhyaksa.


