Gempa M 5,6 Guncang Selatan Teluk Dalam Nias, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Wilayah Samudra Hindia di sebelah selatan Kepulauan Nias diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 pada Selasa pagi (18/8/2026) pukul 09:02:20 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pusat gempa berada di laut pada koordinat yang terletak 154 kilometer arah selatan-tenggara (SSE) Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara, dengan kedalaman hiposenter mencapai 22 kilometer.
Guncangan gempa ini dirasakan dengan intensitas bervariasi di wilayah Teluk Dalam dan beberapa pulau kecil di sekitarnya. Berdasarkan hasil pemodelan numerik BMKG, gempa bumi ini dipastikan tidak berpotensi memicu gelombang tsunami. Kendati demikian, masyarakat di sepanjang pesisir barat Sumatra diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Hingga berita ini diturunkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nias Selatan belum menerima laporan mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat peristiwa ini. Tim reaksi cepat di lapangan masih terus melakukan monitoring dan koordinasi dengan aparat desa di wilayah pesisir terdekat guna memastikan situasi tetap kondusif.
Analisis Pakar Geofisika
Secara tektonik, wilayah Kepulauan Nias dan sekitarnya merupakan salah satu kawasan seismik paling aktif di dunia karena berada tepat di atas zona subduksi (megathrust) Sumatra. Di zona ini, Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dengan laju pergerakan sekitar 5 hingga 6 sentimeter per tahun. Gempa bumi magnitudo 5,6 yang terjadi hari ini dikategorikan sebagai gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas deformasi batuan di zona transisi antara megathrust dan zona luar busur (outer-arc rise).
Melihat sejarah kegempaannya, kawasan Nias Selatan menyimpan memori seismik yang sangat kuat, termasuk gempa dahsyat M 8,6 pada tahun 2005 yang merusak sebagian besar infrastruktur di Pulau Nias. Gempa M 5,6 kali ini merupakan manifestasi dari pelepasan energi (stress release) skala sedang yang terus terjadi secara kontinu di sepanjang patahan aktif tersebut. Pelepasan energi berkala seperti ini sebenarnya berdampak positif untuk mengurangi akumulasi tegangan ekstrem yang berpotensi memicu gempa dengan magnitudo yang jauh lebih besar di masa depan.
Mengapa gempa ini tidak memicu tsunami? Secara ilmiah, prasyarat terjadinya tsunami tektonik adalah gempa dengan magnitudo minimal 7,0, memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) yang dominan, dan menyebabkan deformasi atau dislokasi dasar laut secara vertikal dalam skala luas. Dengan magnitudo 5,6, energi yang dilepaskan belum cukup kuat untuk mengangkat kolom air laut secara signifikan. Namun, masyarakat harus tetap mewaspadai potensi gempa susulan (aftershocks) yang biasanya terjadi dalam beberapa hari ke depan dengan magnitudo yang cenderung mengecil seiring dengan tercapainya kembali keseimbangan tektonik di area tersebut.