Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M 4,9 Guncang Ende, 76 km Barat Laut: Tidak Ada Kerusakan Signifikan, Waspada Gempa Susulan

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M 4,9 Guncang Ende, 76 km Barat Laut: Tidak Ada Kerusakan Signifikan, Waspada Gempa Susulan
BAGIKAN:

BMKG mencatat gempa bumi dengan magnitudo 4,9 yang terjadi pada 18 Agustus 2026 pukul 22.03 WIB di kedalaman 10 km, berlokasi sekitar 76 km barat laut kota Ende, Nusa Tenggara Timur. Guncangan ini terdeteksi oleh jaringan seismometer nasional dan dilaporkan secara real‑time melalui portal resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Menurut laporan lapangan, getaran terasa lemah di sebagian wilayah Ende dan sekitarnya, namun tidak menimbulkan kerusakan pada bangunan maupun infrastruktur kritis. Tidak ada laporan korban jiwa atau luka-luka, serta tidak ada laporan kebakaran atau tumpahan bahan berbahaya. Tim tanggap darurat setempat telah melakukan inspeksi awal dan menyatakan situasi aman.

Gempa ini terjadi di zona konvergen antara Lempeng Indo‑Australia yang menukik ke bawah Lempeng Eurasia melalui zona subduksi Sunda. Wilayah Flores dan sekitarnya dikenal memiliki kompleksitas tektonik tinggi, dengan keberadaan patahan‑patahan belakang (back‑arc thrust) serta sesar‑sesar transform yang aktif. Kedalaman yang relatif dangkal menandakan pergerakan pada lapisan kerak bumi, bukan pada zona subduksi utama.

Sejarah seismik di daerah Ende menunjukkan pola aktivitas moderat hingga kuat. Beberapa gempa signifikan tercatat, antara lain gempa M 6,2 pada Januari 1992 yang menimbulkan kerusakan struktural, serta gempa M 5,8 pada Februari 2018 yang memicu kepanikan publik. Meskipun magnitudo 4,9 berada di bawah ambang yang biasanya memicu tsunami, BMKG tetap mengeluarkan peringatan dini untuk wilayah pesisir, mengingat potensi gempa thrust yang dapat menghasilkan gelombang laut jika terjadi pada kedalaman yang lebih dangkal.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan (aftershock) dalam 24‑48 jam ke depan, serta mematuhi prosedur evakuasi jika terjadi peringatan tsunami. Pemerintah daerah telah menyiapkan posko darurat dan memastikan jalur evakuasi tetap terbuka.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Ende berada di antara zona patahan Ende‑Lio yang merupakan sesar strike‑slip dengan orientasi barat‑timur, serta zona thrust Flores Back‑Arc yang menyalurkan tekanan tektonik dari subduksi Sunda. Kedua struktur ini berinteraksi secara kompleks, menghasilkan pola seismik yang tidak teratur. Data katalog seismik menunjukkan bahwa sejak tahun 2000, rata‑rata frekuensi gempa M ≥ 4,0 di wilayah ini adalah 3‑4 kali per tahun, dengan puncak aktivitas pada musim hujan ketika beban hidrostatik menambah stres pada patahan.

Sejarah kegempaan mencatat beberapa peristiwa gempa thrust dengan kedalaman 10‑15 km yang berpotensi menimbulkan tsunami lokal, meskipun amplitudo biasanya di bawah 5,0. Gempa M 5,3 pada Agustus 2015 menghasilkan gelombang laut setinggi 0,3 meter di pantai selatan Flores, namun tidak menimbulkan kerusakan. Oleh karena itu, meskipun gempa M 4,9 kali ini tidak memicu peringatan tsunami, pemantauan terus‑menerus tetap diperlukan.

Potensi gempa susulan biasanya mengikuti hukum Omori, di mana frekuensi aftershock menurun secara eksponensial seiring waktu. Berdasarkan model statistik, peluang terjadinya aftershock dengan magnitudo ≥ 4,0 dalam 48 jam pertama diperkirakan sekitar 12‑15 persen. Masyarakat di daerah rawan sebaiknya tetap mengikuti instruksi BMKG dan mengaktifkan sistem peringatan dini di wilayah pesisir.

Meow! Tanya Nesi!
😸