Freeport Siapkan Investasi Rp72 Triliun untuk Tambang Bawah Tanah Kucing Liar – Langkah Besar Jaga Produksi Tembaga

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Freeport Siapkan Investasi Rp72 Triliun untuk Tambang Bawah Tanah Kucing Liar – Langkah Besar Jaga Produksi Tembaga
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Freeport Indonesia mengalokasikan hingga Rp72 triliun untuk pengembangan tambang bawah tanah Kucing Liar di Mimika.
  • Proyek dijadwalkan masuk fase produksi 2029 dengan kapasitas 130.000 ton bijih per hari, menambah total produksi perusahaan menjadi 240.000 ton.
  • Jika IUPK diperpanjang pasca 2041, Freeport dapat melanjutkan eksplorasi dan menstabilkan output tembaga serta emas meski Grasberg menurun.

Freeport Indonesia (PTFI) mempercepat pembangunan blok tambang bawah tanah baru yang dinamai Kucing Liar. Proyek ini diproyeksikan menelan investasi total Rp72 triliun, termasuk Rp25 triliun yang sudah dikeluarkan hingga pertengahan 2026. Presiden Direktur Tony Wenas menegaskan bahwa dana tersebut merupakan bagian dari program keberlanjutan nasional, sekaligus upaya mengantisipasi penurunan produksi alami di Grasberg Block Cave (GBC).

Target produksi Kucing Liar adalah 130.000 ton bijih per hari pada fase ramp‑up, yang akan melengkapi kapasitas total perusahaan hingga 240.000 ton bijih per hari. Selama masa operasional penuh, blok ini diperkirakan menghasilkan lebih dari 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas, atau setara dengan 750 juta pon tembaga dan 735.000 ons emas per tahun.

Proyek semula dijadwalkan beroperasi pada 2028, namun mengalami penundaan satu tahun akibat longsoran material basah di GBC pada September 2025. PTFI kini menargetkan fase produksi dimulai 2029, dengan ramp‑up penuh sekitar 2030. Jika IUPK diperpanjang setelah 2041, perusahaan berencana memperluas eksplorasi untuk menemukan cadangan tambahan di luar blok Kucing Liar.

Analisis Pakar

Investasi Rp72 triliun ini menandakan komitmen jangka panjang Freeport Indonesia dalam menjaga posisi Indonesia sebagai produsen tembaga dan emas terbesar di dunia. Dari perspektif makroekonomi, aliran modal sebesar itu akan menstimulasi permintaan barang dan jasa lokal—dari bahan bangunan hingga tenaga kerja terampil—yang pada gilirannya dapat menurunkan tingkat pengangguran di Papua Tengah.

Namun, risiko operasional dan regulasi tetap tinggi. Keterlambatan sebelumnya mengindikasikan tantangan geoteknik yang harus diatasi dengan teknologi penambangan canggih dan manajemen risiko yang lebih ketat. Di sisi lain, perpanjangan IUPK menjadi faktor kunci; tanpa kepastian izin, investasi tambahan dapat terhambat, mempengaruhi proyeksi pendapatan perusahaan dan kontribusi devisa negara.

Dari sudut pandang investor, proyek Kucing Liar menambah diversifikasi aset Freeport, mengurangi ketergantungan pada tambang terbuka Grasberg yang semakin mendekati titik akhir produksi. Hal ini dapat memperbaiki outlook harga saham PTFI dan meningkatkan daya tarik obligasi korporasi yang didukung aset tambang.

Secara strategis, pemerintah harus memanfaatkan peluang ini untuk menegosiasikan nilai tambah—seperti peningkatan royalti, transfer teknologi, dan program pengembangan masyarakat—sehingga manfaat ekonomi tidak hanya terpusat pada perusahaan multinasional, melainkan juga pada komunitas lokal dan fiskal negara.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan blok Kucing Liar akan mulai berproduksi?
    A: Produksi diperkirakan dimulai pada tahun 2029 dengan ramp‑up penuh sekitar 2030.
  • Q: Berapa total investasi yang diperlukan untuk proyek ini?
    A: Total investasi diproyeksikan mencapai Rp72 triliun, dengan Rp25 triliun sudah dikeluarkan hingga 2026.
  • Q: Apa implikasi perpanjangan IUPK bagi Freeport?
    A: Perpanjangan IUPK setelah 2041 memungkinkan Freeport melanjutkan eksplorasi dan menjaga produksi tembaga serta emas di atas 240.000 ton bijih per hari.
Meow! Tanya Nesi!
😸