Mengapa 8 Negara Besar Tak Punya Hari Kemerdekaan? Simak Penjelasannya!
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Beberapa negara tidak merayakan hari kemerdekaan karena sejarahnya tidak pernah mengalami penjajahan.
- Negara‑negara seperti Denmark, Turki, dan Jepang memiliki hari peringatan nasional lain yang menandai pembentukan atau peristiwa penting lainnya.
- Fenomena ini menyoroti perbedaan cara bangsa‑bangsa mengartikulasikan identitas nasional di luar kerangka kemerdekaan dari penjajahan.
Setiap 17 Agustus, Indonesia memperingati Hari Kemerdekaan, menandai berakhirnya penjajahan Belanda pada 1945. Di banyak negara, tanggal tersebut menjadi simbol kebebasan dan kedaulatan. Namun, tidak semua negara memiliki perayaan serupa. Delapan negara—Denmark, Inggris, Turki, Thailand, Jepang, Arab Saudi, Bhutan, dan Spanyol—tidak memiliki hari kemerdekaan resmi karena mereka tidak pernah berada di bawah kekuasaan kolonial asing.
Denmark merayakan beberapa hari penting, seperti Hari Pembebasan (5 Mei) dan Hari Konstitusi (5 Juni), namun tidak ada yang ditetapkan sebagai hari nasional. Sejarah Skandinavia yang lebih dari seribu tahun tanpa pernah dijajah menjadikan konsep kemerdekaan kurang relevan. Seperti yang dilaporkan The Copenhagen Post, Denmark juga tidak mengalami proses pemecahan atau penyatuan wilayah yang mirip dengan pengalaman Jerman atau Vietnam.
Turki, bekas inti Kekaisaran Ottoman, tidak memiliki hari kemerdekaan karena tidak pernah dijajah. Sebagai gantinya, negara ini memperingati Republic Day pada 29 Oktober, menandai proklamasi Republik Turki pada 1923 dan penghapusan monarki Ottoman, menurut Britannica.
Thailand adalah satu‑satunya negara di Asia Tenggara yang tidak pernah dijajah. Karena itu, tidak ada Hari Kemerdekaan. Pemerintah Thailand memilih untuk menjadikan ulang tahun Raja Bhumibol Adulyadej (5 Desember) sebagai hari nasional, sebagaimana dilaporkan The Washington Post.
Jepang, yang pada abad ke‑20 menjadi penjajah di Asia, termasuk Indonesia, tidak pernah berada di bawah kekuasaan asing. Oleh karena itu, tidak ada Hari Kemerdekaan. Jepang memperingati Hari Pembentukan Nasional pada 11 Februari, mengacu pada legenda pendirian negara oleh Kaisar Jimmu pada 660 SM.
Arab Saudi tidak memiliki hari kemerdekaan karena sejarahnya tidak melibatkan penjajahan. Negara ini merayakan Hari Nasional pada 23 September, menandai pendirian Kerajaan Saudi oleh Raja Abdul Aziz pada 1932, sebagaimana dicatat oleh Kementerian Luar Negeri Saudi.
Bhutan, kerajaan kecil di Himalaya, juga tidak pernah dijajah. Hari Nasionalnya pada 17 Desember memperingati penobatan Raja pertama, Ugyen Wangchuck, pada 1907.
Spanyol pernah menjadi kekuatan kolonial, bukan koloni. Karena itu, tidak ada Hari Kemerdekaan. Negara ini merayakan Fiesta Nacional de España pada 12 Oktober, memperingati pendaratan Christopher Columbus di Amerika pada 1492.
Analisis Pakar
Fenomena tidak adanya hari kemerdekaan di delapan negara ini mengungkapkan bahwa konsep kemerdekaan bukanlah satu‑satunya cara bagi suatu bangsa untuk menegaskan identitas nasional. Bagi negara‑negara yang tidak pernah mengalami penjajahan, perayaan nasional cenderung berfokus pada momen-momen pembentukan negara, transisi politik, atau penghormatan terhadap tokoh‑tokoh penting. Ini mencerminkan cara historis yang berbeda dalam membangun narasi kebangsaan: daripada menekankan pembebasan dari penindasan eksternal, mereka menyoroti kontinuitas, legitimasi monarki, atau pencapaian diplomatik.
Selain itu, perbedaan ini menyoroti peran memorialisasi politik dalam pembentukan identitas kolektif. Di negara‑negara bekas koloni, Hari Kemerdekaan menjadi titik fokus pendidikan, patriotisme, dan legitimasi pemerintah pasca‑kolonial. Sebaliknya, di negara‑negara yang tidak pernah dijajah, hari‑hari peringatan lain berfungsi sebagai mekanisme untuk memperkuat kohesi sosial dan menegaskan kedaulatan internal, sering kali melalui simbol‑simbol monarki atau peristiwa historis yang menandai awal negara modern.
Dari perspektif hubungan internasional, keberagaman dalam perayaan nasional ini juga memengaruhi diplomasi budaya. Negara‑negara tanpa hari kemerdekaan cenderung menonjolkan warisan budaya dan pencapaian historis mereka dalam agenda soft power, alih‑alih menekankan narasi anti‑kolonial. Hal ini dapat memengaruhi cara mereka memposisikan diri di panggung global, terutama dalam forum‑forum multilateral di mana narasi sejarah menjadi bagian penting dari kebijakan luar negeri.
Terakhir, penting untuk mencatat bahwa meskipun tidak ada “Hari Kemerdekaan”, semua negara tersebut tetap memiliki hari libur nasional yang menandai momen penting dalam sejarah mereka. Ini menegaskan bahwa perayaan nasional bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan konteks historis masing‑masing, tanpa harus terikat pada kerangka kolonial‑postkolonial yang dominan di banyak bagian dunia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa negara‑negara seperti Denmark dan Jepang tidak memiliki Hari Kemerdekaan?
A: Karena mereka tidak pernah berada di bawah penjajahan asing, sehingga tidak ada peristiwa pembebasan yang dapat dirayakan sebagai Hari Kemerdekaan. - Q: Apa yang dirayakan oleh negara‑negara tersebut jika tidak ada Hari Kemerdekaan?
A: Mereka memperingati hari‑hari penting lain, seperti Hari Konstitusi, Hari Nasional, atau peringatan pembentukan negara. - Q: Apakah tidak adanya Hari Kemerdekaan memengaruhi identitas nasional mereka?
A: Tidak secara signifikan; identitas nasional dibangun melalui narasi sejarah lain, seperti monarki, reformasi politik, atau pencapaian budaya.


