Panik di Selayar: Warga Lari ke Gunung Usai Gempa 7,7 Magnitudo di NTT – Apa Sebenarnya yang Terjadi?

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Panik di Selayar: Warga Lari ke Gunung Usai Gempa 7,7 Magnitudo di NTT – Apa Sebenarnya yang Terjadi?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Gempa berkekuatan M7,7 di Nusa Tenggara Timur memicu getaran di Kepulauan Selayar dan menimbulkan kepanikan massal.
  • Warga pulau terluar berbondong‑bongong naik ke dataran tinggi meski otoritas belum mengeluarkan perintah evakuasi tsunami.
  • BMKG mencatat lebih dari 110 gempa susulan, namun peringatan dini tsunami kini telah dicabut.

Selasa, 15 Agustus 2026 – Gempa bumi berkekuatan M7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada pagi hari menimbulkan getaran yang terasa hingga Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Kepala BPBD Selayar, Ahmad Aliefyanto, melaporkan bahwa dampak yang dirasakan warga hanya berupa getaran singkat, namun kepanikan meluas, terutama di pulau‑pulau terluar.

"Situasi saat ini relatif aman. Hanya getaran saja yang terasa, itu hanya satu kali pada pagi tadi," ujar Alief kepada CNNIndonesia.com. Namun, ia menambahkan bahwa warga yang berada di daerah pesisir langsung berlari ke bukit atau gunung demi menghindari potensi tsunami, meski belum ada perintah resmi untuk evakuasi.

Komisioner KPU Selayar, Muhammad Arsat, mengonfirmasi bahwa guncangan terasa sangat keras, menimbulkan rasa ngeri di kalangan penduduk. "Di kota Benteng Selayar saja kuat sekali, tapi tidak ada bangunan rusak," jelasnya.

BMKG Stasiun Geofisika Kupang melaporkan bahwa hingga pukul 10.00 WIB, tercatat 111 gempa susulan dengan magnitudo terakhir 3,8. Meskipun intensitas gempa menurun, otoritas tetap mengimbau masyarakat di Flores dan sekitarnya untuk tetap waspada. Peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan pada pukul 07.03 WIB kini telah dicabut.

Analisis Pakar

Keputusan warga Selayar untuk naik ke dataran tinggi tanpa arahan resmi menimbulkan pertanyaan serius tentang kesiapan sistem peringatan dan edukasi bencana di daerah pesisir. Meskipun BMBM (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) telah mencabut peringatan tsunami, rasa takut yang melanda masyarakat mencerminkan kurangnya kepercayaan pada mekanisme resmi. Hal ini mengindikasikan bahwa komunikasi risiko belum efektif, terutama di wilayah yang rawan gempa dan tsunami.

Selanjutnya, data gempa susulan yang mencapai lebih dari seratus kali dalam hitungan jam menunjukkan zona tektonik yang sangat aktif. Pemerintah daerah dan pusat harus memperkuat jaringan sensor seismik serta mempercepat penyebaran informasi real‑time kepada publik. Tanpa infrastruktur yang memadai, masyarakat akan terus mengandalkan naluri pribadi, yang pada gilirannya dapat menimbulkan kepanikan massal dan potensi kecelakaan saat melakukan evakuasi spontan.

Selain itu, peran BPBD dalam mengelola situasi darurat tampak masih reaktif, bukan proaktif. Koordinasi antara BPBP, KPU, dan lembaga lain harus ditingkatkan, termasuk latihan evakuasi rutin yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Hanya dengan pendekatan yang terintegrasi, rasa takut yang berlebihan dapat diubah menjadi respons yang terukur dan terorganisir.

Terakhir, kebijakan pencabutan peringatan tsunami harus disertai penjelasan yang transparan dan mudah dipahami. Jika masyarakat tidak memahami dasar ilmiah di balik keputusan tersebut, mereka cenderung mengabaikan peringatan selanjutnya, yang pada akhirnya dapat meningkatkan risiko korban jiwa pada peristiwa bencana berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa warga Selayar naik ke gunung tanpa perintah resmi?
    A: Karena kurangnya informasi yang jelas dan rasa takut akan tsunami, masyarakat mengandalkan naluri untuk mencari tempat yang lebih tinggi.
  • Q: Apakah ada kerusakan bangunan di Selayar akibat gempa M7,7?
    A: Tidak ada laporan kerusakan signifikan; getaran yang dirasakan hanya bersifat sementara.
  • Q: Berapa banyak gempa susulan yang tercatat setelah gempa utama di NTT?
    A: Hingga pukul 10.00 WIB, BMKG mencatat 111 gempa susulan dengan magnitudo terakhir 3,8.
Meow! Tanya Nesi!
😸