Kisah Citra Nur Ramadhani: Dari Jual Kacang di Pangkep hingga Sorotan Presiden di DPR
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ringkasan Singkat
- Citra Nur Ramadhani, siswa SekolahRakyat di Pangkep, hampir putus sekolah karena membantu ibunya berjualan kacang.
- Presiden PrabowoSubianto memperkenalkannya dalam Sidang Tahunan MPR/DPR, menyoroti prestasi karate dan program pendidikan gratis.
- Kontroversi muncul atas penggunaan narasi anak miskin sebagai alat politik, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan bantuan sosial.
Citra Nur Ramadhani, siswi SekolahRakyat Terintegrasi 67 Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulaweli Selatan, menjadi sorotan nasional ketika Presiden Prabowo Subianto memperkenalkannya dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI pada 14 Agustus 2024.
Berbalut bodo tradisional Sulawesi Selatan, Citra muncul di podium sebagai contoh “anak bangsa yang berhasil bangkit dari keterpurukan”. Cerita yang disampaikan Prabowo menyoroti fakta bahwa Citra hampir putus sekolah pada usia empat tahun karena harus membantu ibunya, Hajrah, menjual kacang keliling kota. Ayahnya telah meninggal ketika Citra masih kelas dua SD, meninggalkan ibunya yang merupakan penyandang disabilitas dan bekerja serabutan sebagai tukang cuci harian serta penyapu masjid.
Setelah diterima di SekolahRakyat, Citra tidak hanya kembali ke bangku sekolah, tetapi juga menorehkan prestasi di bidang Karate. Ia meraih juara II tingkat Kabupaten Pangkep dan menargetkan sabuk hitam. “Senang banget, karena barusan ketemu Bapak Presiden,” ujar Citra dalam wawancara singkat.
Wali Asuh sekolah, Maysaroh Abdi Gobel, menegaskan bahwa sebelum masuk program, Citra harus berjualan kacang hingga malam tanpa sepengetahuan ibunya, menghasilkan omzet sekitar Rp200 ribu per hari. “Dia hampir putus sekolah, tapi Sekolah Rakyat memberi kesempatan belajar, makan tiga kali sehari, dan dua kali snack,” katanya.
Namun, di balik narasi inspiratif, terdapat pertanyaan mendasar: apakah penampilan Citra di panggung politik hanyalah “showcase” kebijakan sosial yang belum terbukti efektif secara sistemik? Program SekolahRakyat memang menyediakan tempat tinggal, makanan bergizi, dan guru, tetapi skalabilitasnya masih terbatas pada puluhan ribu anak di ribuan desa. Apakah satu kisah sukses dapat menutupi ribuan anak lain yang tetap terpinggirkan?
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua dimensi utama dalam peristiwa ini. Pertama, penggunaan narasi personal seperti Citra dalam arena politik berisiko mengaburkan realitas struktural kemiskinan. Presiden Prabowo menekankan bahwa “tidak ada satu pun anak Indonesia yang kami tinggalkan,” namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa bantuan masih bersifat selektif dan bergantung pada keberadaan jaringan lembaga non‑pemerintah yang mendukung.
Kedua, program SekolahRakyat memang inovatif, namun belum ada data transparan mengenai alokasi anggaran, mekanisme seleksi, serta evaluasi jangka panjang. Tanpa akuntabilitas yang jelas, kisah Citra dapat berfungsi sebagai “political token” yang menutupi kegagalan kebijakan pendidikan nasional yang lebih luas, termasuk rendahnya anggaran APBN untuk pendidikan dasar di daerah terpencil.
Selanjutnya, keberhasilan Citra di Karate menimbulkan pertanyaan tentang prioritas pembiayaan ekstrakurikuler. Apakah dana yang dialokasikan untuk olahraga dapat dialihkan ke fasilitas belajar inti seperti laboratorium sains atau perpustakaan? Pemerintah harus menyeimbangkan antara mengembangkan bakat individu dan memperkuat infrastruktur pendidikan yang merata.
Akhirnya, pertemuan Citra dengan Presiden menyoroti pentingnya representasi anak-anak miskin dalam pembuatan kebijakan. Namun, representasi ini harus diiringi dengan partisipasi aktif mereka dalam proses perencanaan, bukan sekadar menjadi “benda pajangan”. Hanya dengan mengintegrasikan suara mereka secara struktural, kebijakan dapat bergerak dari simbolik ke substantif.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Siapa sebenarnya Citra Nur Ramadhani?
A: Citra adalah siswi SekolahRakyat 67 Pangkajene dan Kepulauan yang dikenal karena prestasinya di karate dan kisah hampir putus sekolah karena membantu ibunya berjualan kacang. - Q: Apa itu program Sekolah Rakyat?
A: Program pemerintah yang menyediakan pendidikan, tempat tinggal, makanan bergizi, dan fasilitas belajar bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu di daerah terpencil. - Q: Mengapa Presiden Prabowo menampilkan Citra di DPR?
A: Untuk menonjolkan keberhasilan program sosial pemerintah dan mengilustrasikan bahwa anak-anak miskin dapat meraih prestasi jika diberikan kesempatan.


