Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Gempa M4,6 Guncang Ende, Potensi Tsunami dan Gempa Susulan Dipantau Badan Meteorologi

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M4,6 Guncang Ende, Potensi Tsunami dan Gempa Susulan Dipantau Badan Meteorologi
BAGIKAN:

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4.6 mengguncang wilayah Ende, Nusa Tenggara Timur, pada pukul 07:23 WIB, 15 Agustus 2026. Pusat gempa terletak sekitar 64 kilometer barat laut kota Ende dengan kedalaman 10 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan tidak ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa pada saat pertama kali dilaporkan.

Menurut data seismik, gempa ini termasuk dalam kategori gempa lemah hingga sedang, namun tetap menjadi peringatan bagi masyarakat setempat mengingat wilayah ini berada di zona subduksi kompleks antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. BMKG telah mengeluarkan peringatan dini untuk kemungkinan gempa susulan (aftershock) selama 24 jam ke depan, serta memantau potensi tsunami meskipun kedalaman gempa relatif dangkal.

Petugas darurat di Kabupaten Ende telah menyiapkan tim respons cepat untuk menilai dampak struktural pada bangunan, terutama pada rumah tinggal tradisional yang dibangun dengan bahan ringan. Warga di daerah pesisir diminta tetap waspada dan mengikuti arahan otoritas setempat terkait evakuasi jika terjadi peringatan tsunami.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Ende terletak di sepanjang zona patahan Flores, bagian dari sistem patahan aktif yang menghubungkan Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia. Patahan ini terbentuk akibat proses subduksi di mana lempeng Indo-Australia menukik ke bawah lempeng Eurasia, menghasilkan akumulasi tegangan yang secara periodik dilepaskan dalam bentuk gempa. Sejarah seismik menunjukkan bahwa daerah ini mengalami gempa berkekuatan 5-6 secara berkala, dengan kejadian signifikan pada tahun 1992 (M5,2) dan 2018 (M5,8).

Gempa dengan kedalaman 10 km biasanya menghasilkan getaran yang lebih kuat di permukaan, namun tidak selalu menimbulkan tsunami karena energi utama terfokus pada pergerakan vertikal yang terbatas. Analisis model tsunami menunjukkan bahwa gempa M4,6 ini memiliki potensi tsunami maksimal kurang dari 0,2 meter, sehingga risiko tsunami dianggap sangat rendah. Namun, BMKG tetap mengaktifkan sistem peringatan otomatis sebagai langkah pencegahan.

Potensi gempa susulan menjadi perhatian utama. Berdasarkan statistik regional, setelah gempa utama dengan magnitudo 4-5, kemungkinan terjadinya aftershock dengan magnitudo 3-4 dalam 48 jam mencapai 30-40 persen. Oleh karena itu, masyarakat disarankan untuk tetap waspada, mengamankan barang-barang mudah jatuh, dan menghindari penggunaan lift selama periode tersebut.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ