Drama Kudeta FIFA! Infantino Nyaris Lengser, Trump dan Argentina Jadi Juru Selamat!
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

- Ringkasan Singkat Peluang lengsernya Presiden FIFA, Gianni Infantino, merosot tajam dari 50 persen menjadi hanya 21 persen setelah mendapat dukungan krusial.
- Mantan Presiden AS Donald Trump dan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) pasang badan membela Infantino dari gempuran oposisi.
- UEFA memimpin pemberontakan dan mengancam akan memboikot turnamen FIFA jika Infantino tidak segera meletakkan jabatannya.
Ringkasan Singkat
- Peluang lengsernya Presiden FIFA, Gianni Infantino, merosot tajam dari 50 persen menjadi hanya 21 persen setelah mendapat dukungan krusial.
- Mantan Presiden AS Donald Trump dan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) pasang badan membela Infantino dari gempuran oposisi.
- UEFA memimpin pemberontakan dan mengancam akan memboikot turnamen FIFA jika Infantino tidak segera meletakkan jabatannya.
Bung dan Nona pecinta sepak bola di mana pun Anda berada, tensi di lantai tertinggi sepak bola dunia sedang membara! Kursi panas yang diduduki oleh Presiden FIFA, Gianni Infantino, baru saja digoyang hebat. Rencana ambisius Infantino untuk menjual saham komersial Piala Dunia berujung blunder besar setelah mendapat penolakan keras dari berbagai penjuru mata angin, terutama dari tanah Eropa.
Iming-iming uang raksasa yang disiapkan Infantino untuk memuluskan proyek ini mendadak mentah. Raksasa Eropa, UEFA, langsung memasang barikade penolakan yang kemudian diikuti oleh Concacaf dan AFC. Terdesak oleh perlawanan sengit ini, Infantino akhirnya terpaksa menarik mundur proposal tersebut. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Gerakan untuk menggulingkan pria berdarah Swiss-Italia ini dari takhta FIFA kadung bergulir panas, dengan target melengserkannya sebelum pemilihan Maret 2027.
Berdasarkan data pasar prediksi Kalshi yang dirilis Yahoo, pada 10 Agustus lalu, peluang Infantino untuk didepak dari kursinya sempat menyentuh angka kritis 50 persen! Namun, peta politik sepak bola berubah dalam sekejap. Angka tersebut langsung terjun bebas ke 21 persen setelah intervensi politik dan sepak bola yang luar biasa dari tokoh-tokoh kelas berat.
Siapa sangka, sosok Donald Trump muncul sebagai juru selamat di garda terdepan. Trump dengan tegas menyatakan bahwa mengganti Infantino adalah kesalahan fatal, mengingat kesuksesan sang presiden FIFA dalam mempersiapkan Piala Dunia 2026 di AS, Kanada, dan Meksiko. Dukungan ini semakin solid setelah Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) dan Meksiko ikut membelot dari arus utama Concacaf untuk tetap setia di belakang Infantino. Saat ini, Infantino masih memegang kendali berkat dukungan kuat dari Conmebol (Amerika Selatan), CAF (Afrika), dan OFC (Oseania).
Analisis Pakar
Sebagai pengamat yang bertahun-tahun memelototi dinamika politik sepak bola, saya melihat drama ini bukan lagi sekadar urusan si kulit bundar. Ini adalah catur geopolitik tingkat tinggi! Gianni Infantino membuktikan dirinya sebagai 'belut politik' yang sangat licin. Ketika UEFA mencoba menyudutkannya ke sudut ring, Infantino langsung memainkan kartu sekutu non-Eropa dan kekuatan politik luar negeri. Masuknya nama Donald Trump dalam pusaran konflik ini adalah bukti nyata bahwa FIFA dan politik global tidak akan pernah bisa dipisahkan.
Langkah taktis Infantino merangkul Conmebol, CAF, dan OFC adalah strategi klasik 'divide and conquer' (pecah belah dan kuasai). Dengan menambah kuota kontestan Piala Dunia menjadi 48 negara, Infantino sebenarnya sedang menanam budi kepada negara-negara berkembang di luar Eropa. Hasilnya? Ketika posisinya digoyang oleh UEFA, negara-negara ini pasang badan untuknya. Argentina dan Meksiko tahu betul, di bawah Infantino, panggung sepak bola dunia menjadi lebih inklusif bagi mereka, bukan hanya milik monopoli Eropa.
Namun, jangan remehkan UEFA. Ancaman boikot yang mereka layangkan, termasuk untuk Piala Dunia Wanita 2027, adalah senjata nuklir dalam diplomasi sepak bola. Jika UEFA benar-benar menarik diri, nilai komersial turnamen FIFA akan hancur lebur. Ini adalah perang urat syaraf yang sangat berbahaya. UEFA marah karena Infantino terus mencoba membuat turnamen tandingan (seperti Piala Dunia Antarklub format baru) yang berpotensi menggerogoti pundi-pundi uang Liga Champions mereka.
Kesimpulan saya, penurunan peluang lengser menjadi 21 persen ini hanyalah napas buatan sementara bagi Infantino. Pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai. Hingga Maret 2027, kita akan disuguhkan lobi-lobi bawah tanah yang sangat kotor dan agresif. Satu hal yang pasti: siapa pun yang menguasai suara Afrika dan Asia, dialah yang akan tertawa terakhir di singgasana FIFA. Dan saat ini, Infantino masih memegang kunci tersebut!
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Mengapa posisi Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA sempat terancam lengser hingga 50 persen?
A: Posisi Infantino terancam akibat kontroversi rencana penjualan saham komersial Piala Dunia yang ditentang keras oleh UEFA dan beberapa konfederasi lainnya karena dinilai terlalu mengomersialkan sepak bola.
Q: Siapa saja pihak yang menyelamatkan Infantino sehingga peluang lengsernya turun menjadi 21 persen?
A: Infantino diselamatkan oleh dukungan politik dari mantan Presiden AS Donald Trump, serta dukungan dari Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA), Meksiko, dan tiga konfederasi besar yaitu Conmebol, CAF, dan OFC.
Q: Apa ancaman ekstrem yang diberikan UEFA kepada FIFA dalam konflik ini?
A: UEFA mengancam akan melakukan boikot total terhadap turnamen-turnamen yang diselenggarakan oleh FIFA, termasuk ancaman mundur dari ajang bergengsi Piala Dunia Wanita 2027 jika Infantino tidak mundur.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

PSG kukuh di puncak Liga Champions, Barcelona kejar ketertinggalan setelah matchday keempat

Australia Rayu Mathew Baker, Piala Asia 2027 Diundur, Megawati Hangestri Debut di Liga Korea

Lepas dari BAM, Cheah Yee See Menikah dengan Teo Kok Siang di Bali
