37 Gempa Susulan Guncang NTT: Dampak Ekonomi & Infrastruktur yang Perlu Diwaspadai
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- BMKG mencatat 37 gempa susulan setelah gempa utama Magnitudo 7,7 di NusaTenggaraTimur (NTT).
- Peringatan Dini Tsunami resmi dicabut, namun intensitas gempa masih berpotensi menurunkan struktur bangunan.
- Potensi gangguan pada sektor konstruksi, pariwisata, dan logistik menimbulkan risiko kerugian ekonomi regional.
Jakarta, CNBC Indonesia â BMKG mengakhiri Peringatan Dini Tsunami di NusaTenggaraTimur pada pukul 07.30 WIB setelah dua jam observasi mencatat 37 gempa susulan. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan bahwa meski magnitudo utama mencapai Magnitudo7,7, intensitas gempa susulan akan berkurang secara bertahap.
âGempa utama sebesar 7,7 memang membuka peluang terjadinya aftershock selama berhariâhari hingga bermingguâminggu. Namun, masyarakat tidak perlu panik, cukup tetap waspada,â ujar Wijayanto dalam konferensi pers daring, Sabtu (15/8/2026). Ia menambahkan bahwa tidak ada potensi tsunami signifikan yang terdeteksi, sehingga peringatan resmi dapat dicabut.
Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menegaskan komitmen lembaga untuk terus memantau aktivitas seismik dan ketinggian air laut, serta akan memberikan pembaruan data secara berkala kepada stakeholders dan publik.
Skala intensitas gempa yang dirasakan beragam: wilayah Kabupaten Nagekeo, Ngada, dan Kota Mbay mencatat intensitas VII MMI, sementara Wolowae dan Kota Bajawa berada pada VI MMI. Dampak fisik meliputi kerusakan ringan pada bangunan, kepanikan warga, dan gangguan pada layanan publik.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, rangkaian gempa susulan ini menimbulkan tekanan pada ekonomi regional NTT. Sektor konstruksi, yang menjadi motor pertumbuhan daerah, kini menghadapi risiko penundaan proyek akibat inspeksi struktural dan perbaikan bangunan yang rusak. Hal ini dapat menurunkan output sektor sebesar 0,3â0,5% dalam kuartal berikutnya, terutama bila kerusakan meluas ke infrastruktur kritis seperti jalan dan pelabuhan.
Pariwisata, kontributor utama PDB NTT, juga berada di ujung tanduk. Labuan Bajo dan sekitarnya, yang baru saja bangkit dari pandemi, berisiko kehilangan kunjungan wisatawan internasional jika citra keamanan tidak dipulihkan cepat. Penurunan kunjungan sebesar 10â15% dalam tiga bulan pertama pascaâgempa dapat menggerus pendapatan daerah hingga RpâŻ1,2 triliun, mengingat rataârata belanja wisatawan per orang mencapai RpâŻ5 juta.
Dari perspektif keuangan publik, pemerintah daerah harus menyiapkan anggaran darurat untuk rehabilitasi. Mengingat batas fiskal, alokasi dana harus diprioritaskan pada perbaikan infrastruktur transportasi dan fasilitas kesehatan, yang menjadi titik kritis dalam penanganan bencana. Koordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengakses dana Bencana Nasional (BNPB) menjadi krusial agar tidak mengorbankan program pembangunan jangka panjang.
Terakhir, pasar modal regional dapat merespon dengan volatilitas pada saham perusahaan konstruksi dan properti yang beroperasi di NTT. Investor sebaiknya menilai eksposur mereka dan mempertimbangkan diversifikasi portofolio, mengingat ketidakpastian pascaâgempa masih tinggi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah masih ada risiko tsunami setelah peringatan dicabut?
A: BMKG menyatakan tidak ada potensi tsunami signifikan berdasarkan data instrumentasi terkini. - Q: Bagaimana gempa susulan memengaruhi proyek konstruksi di NTT?
A: Proyek dapat tertunda untuk inspeksi struktural, berpotensi menurunkan output sektor konstruksi hingga 0,5% dalam kuartal berikutnya. - Q: Apa langkah pemerintah daerah dalam menangani kerusakan bangunan?
A: Pemerintah daerah akan mengalokasikan dana darurat untuk rehabilitasi infrastruktur kritis dan berkoordinasi dengan BNPB untuk bantuan tambahan.


