Siasat Iran Gabung Bank BRICS: Menembus Blokade Finansial AS di Tengah Badai Inflasi 87%

Ringkasan Singkat
- Iran dijadwalkan resmi bergabung dengan New Development Bank (NDB) bentukan BRICS pada September 2026 untuk mencari alternatif pembiayaan infrastruktur.
- Langkah ini diambil di tengah tekanan ekonomi ekstrem akibat sanksi Barat dan konflik geopolitik, di mana inflasi Iran meroket hingga 87,9% dan ekonomi diproyeksikan terkontraksi 5,4%.
- AS di bawah Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 25% bagi negara yang bertransaksi dengan Iran, sementara China tetap menjadi penyelamat utama dengan menyerap 80% ekspor minyak Iran.
Iran dilaporkan segera bergabung dengan New Development Bank (NDB), lembaga keuangan multilateral yang didirikan oleh aliansi BRICS. Langkah strategis ini dikonfirmasi oleh Gubernur Bank Sentral Iran, Abdolnasser Hemmati, yang menyatakan bahwa proses peresmian keanggotaan akan berlangsung pada September 2026 mendatang. Kehadiran Iran di India bulan depan dalam rangka persiapan KTT BRICS menjadi momentum krusial bagi Teheran untuk memperkuat kerja sama moneter bilateral dan trilateral dengan negara-negara anggota.
Langkah Iran ini bukan sekadar diplomasi biasa, melainkan upaya bertahan hidup (survival mode). Akibat sanksi Barat yang memblokade akses ke pasar modal global, ditambah eskalasi konflik bersenjata dengan AS dan Israel sejak awal tahun ini, perekonomian Iran berada di titik nadir. Data IMF menunjukkan inflasi Iran meroket hingga 87,9% secara tahunan pada Juli 2026, dengan proyeksi kontraksi ekonomi sebesar 5,4% tahun ini.
Melalui NDB, Iran membidik pembiayaan segar untuk proyek-proyek vital seperti transportasi, sanitasi, infrastruktur digital, dan pembangunan perkotaan. Namun, jalan ini dipastikan terjal. Mantan Presiden AS Donald Trump secara agresif mengancam akan mengenakan tarif impor 25% terhadap negara mana pun yang berani bertransaksi dengan Iran. Di sisi lain, China tetap menjadi sekutu terkuat Iran dengan membeli lebih dari 80% minyak mentah Iran lewat jalur laut pada tahun 2025.
Analisis Pakar
Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat langkah Iran bergabung dengan NDB BRICS bukan sekadar manuver politik, melainkan sebuah tindakan darurat (emergency exit) dari jerat isolasi finansial global. Dengan inflasi yang mendekati 90% dan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi dalam, Iran sedang mengalami stagflasi akut yang diperparah oleh kehancuran nilai tukar Rial. Mengandalkan sistem keuangan Barat (SWIFT) sudah mustahil. Oleh karena itu, NDB dipandang sebagai sekoci penyelamat untuk menjaga agar roda pembangunan domestik tidak sepenuhnya berhenti.
Namun, pasar harus realistis. Apakah NDB mampu menjadi juru selamat instan bagi Iran? Jawabannya: sangat diragukan dalam jangka pendek. NDB sendiri, meskipun didirikan oleh raksasa seperti China dan India, masih sangat bergantung pada likuiditas berdenominasi Dolar AS untuk operasional globalnya. Jika NDB terlalu berani mendanai Iran secara terang-terangan, bank ini berisiko terkena sanksi sekunder (secondary sanctions) dari Departemen Keuangan AS. Ini adalah dilema besar bagi NDB yang saat ini juga sedang mencoba menjaga kredibilitasnya di mata investor global.
Dari sudut pandang geopolitik ekonomi, ancaman tarif 25% dari Donald Trump adalah gertakan yang memiliki daya rusak nyata. Trump menyasar rantai pasok global yang sensitif. Bagi negara-negara berkembang anggota BRICS lainnya, seperti India atau Brasil, mereka harus menghitung ulang kalkulasi biaya-manfaat (cost-benefit analysis). Apakah keuntungan bermitra dengan Iran sebanding dengan risiko kehilangan akses ke pasar konsumen raksasa Amerika Serikat? Kemungkinan besar, negara-negara ini akan bersikap sangat pragmatis dan berhati-hati, menyisakan China sebagai satu-satunya aktor yang cukup berani menantang hegemoni AS secara terbuka demi mengamankan pasokan energi murah.
Bagi pelaku bisnis dan investor di Indonesia, dinamika ini menegaskan bahwa fragmentasi ekonomi global (geo-economic fragmentation) kini telah mencapai level baru. Polarisasi antara blok Barat dan blok BRICS+ semakin nyata. Indonesia, yang juga disebut-sebut sebagai mitra BRICS, harus memainkan kartu diplomasi ekonomi dengan sangat cantik. Kita tidak boleh terjebak dalam pusaran sanksi sekunder, namun di sisi lain, kita harus jeli melihat peluang diversifikasi pasar non-tradisional tanpa mengorbankan stabilitas hubungan dagang kita dengan AS dan sekutunya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Mengapa Iran memutuskan untuk bergabung dengan New Development Bank (NDB) BRICS?
A: Iran bergabung dengan NDB untuk mencari alternatif pembiayaan proyek infrastruktur domestik setelah aksesnya ke pasar modal internasional diblokade oleh sanksi ekonomi Barat dan AS.
Q: Seberapa parah kondisi ekonomi Iran saat ini?
A: Sangat parah. Akibat sanksi dan konflik geopolitik, inflasi Iran melonjak hingga 87,9% per Juli 2026, dan ekonominya diproyeksikan terkontraksi sebesar 5,4% dengan PDB nominal sekitar US$300,3 miliar.
Q: Apa dampak ancaman tarif Donald Trump terhadap negara anggota BRICS lainnya?
A: Ancaman tarif 25% dari Trump membuat negara anggota BRICS yang moderat (seperti India atau Brasil) menjadi sangat berhati-hati dalam bertransaksi dengan Iran, guna menghindari sanksi sekunder dan kehilangan akses ke pasar AS.
BERITA TERKAIT (Ekonomi & Pasar)

Direktur Utama Blue Bird Borong 675.800 Saham BIRD Senilai Hampir Rp1 Miliar untuk Perkuat Pengendalian

Emtek Resmikan Penjualan Saham Indopay Merchant Services, Fokus Optimalisasi Portofolio Investasi

Dampak Pergeseran Kepemilikan: SPBU Shell Kembali Operasional di Tangan SEFAS dengan Produk Terbatas
