Prabowo Desak Bahasa Asing Diajarkan Sejak Kelas 1: Inggris, Mandarin, Arab, dan Lainnya Masuk Kurikulum SD

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Prabowo Desak Bahasa Asing Diajarkan Sejak Kelas 1: Inggris, Mandarin, Arab, dan Lainnya Masuk Kurikulum SD
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Prabowo Subianto menuntut bahasa asing dimulai dari kelas 1 SD.
  • Bahasa yang disebutkan meliputi Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, dan Prancis.
  • Pemerintah target renovasi lebih dari 100.000 sekolah hingga 2029, termasuk pesantren.

Dalam Sidang Tahunan MPR RI yang berlangsung hampir dua jam, Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemampuan berbahasa asing bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bagi generasi muda Indonesia. Ia menambahkan, “Bahasa asing mutlak, harus kita kuasai. Kita akan mulai bahasa asing untuk anak‑anak kita mulai dari SD, kelas 1.

Daftar bahasa yang dianggap paling strategis mencakup bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Arab, serta bahasa Jepang, Korea, Spanyol, dan Prancis. Prabowo menekankan bahwa anak di bawah 11‑12 tahun memiliki daya serap yang jauh lebih tinggi, sehingga “mereka lebih cepat belajar.

Di samping agenda bahasa, Presiden menyinggung capaian program perbaikan infrastruktur pendidikan: lebih dari 71.744 sekolah telah direnovasi, termasuk di wilayah terluar dan terpencil. “Tahun lalu 17.000, tahun ini 71.000 lebih. Tahun depan target kita 100.000. Tahun 2029 semua sekolah—SD, SMP, SMA, SMK, bahkan pesantren—harus selesai renovasi,” ujarnya.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua dimensi utama dalam usulan ini. Pertama, ambisi menanamkan enam bahasa asing sejak usia dini menantang kapasitas kurikulum yang sudah padat. Tanpa penyesuaian struktural—penambahan guru yang kompeten, materi ajar yang relevan, serta alokasi anggaran yang transparan—kebijakan ini berisiko menjadi slogan politik semata.

Kedua, prioritas bahasa yang dipilih mencerminkan orientasi geopolitik Indonesia. Inggris tetap menjadi lingua franca global, Mandarin menandakan ketergantungan ekonomi pada China, sementara Arab mengacu pada kepentingan keagamaan dan energi. Namun, bahasa‑bahasa seperti Jepang, Korea, Spanyol, dan Prancis, meskipun penting, belum tentu memberikan ROI (return on investment) yang sebanding dengan biaya pelatihan guru dan materi.

Selanjutnya, target renovasi 100.000 sekolah hingga 2029 terdengar ambisius, namun data historis menunjukkan seringnya proyek infrastruktur pendidikan terhambat oleh birokrasi, korupsi, dan ketidaksesuaian standar kualitas. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat—misalnya audit independen dan pelibatan masyarakat lokal—angka-angka ini dapat menjadi “pencapaian fiktif” yang tidak mencerminkan peningkatan mutu belajar mengajar.

Akhirnya, kebijakan ini harus diukur bukan hanya dari jumlah bahasa yang diajarkan, melainkan dari hasil belajar yang dapat diverifikasi: tingkat kefasihan, kemampuan berpikir kritis, dan dampaknya pada mobilitas sosial. Pemerintah perlu menyusun indikator kinerja yang jelas, serta menyediakan jalur remedial bagi daerah yang masih kekurangan sumber daya manusia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan bahasa asing akan mulai diajarkan di kelas 1 SD?
    A: Pemerintah menargetkan pelaksanaan mulai tahun ajaran 2025, setelah penyusunan kurikulum dan pelatihan guru selesai.
  • Q: Bahasa apa saja yang akan menjadi prioritas?
    A: Prioritas utama adalah bahasa Inggris, Mandarin, Arab, Jepang, Korea, Spanyol, dan Prancis.
  • Q: Bagaimana rencana renovasi 100.000 sekolah akan dibiayai?
    A: Pemerintah mengalokasikan dana APBN khusus pendidikan, dipadukan dengan kerjasama publik‑swasta dan bantuan internasional untuk wilayah terluar.
Meow! Tanya Nesi!
😸