Prabowo Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6,5% di RAPBN 2027, CORE Indonesia: Terlalu Optimistis dan Kurang Pijakan!

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Prabowo Bidik Pertumbuhan Ekonomi 6,5% di RAPBN 2027, CORE Indonesia: Terlalu Optimistis dan Kurang Pijakan!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang sangat ambisius dalam RAPBN 2027, yakni di kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen.
  • CORE Indonesia menilai target tersebut terlalu optimistis dan tidak realistis karena secara historis ekonomi Indonesia sangat jarang menembus level 5,5 persen.
  • Ketidakpastian geopolitik global dan absennya stimulus domestik baru yang kuat menjadi alasan utama keraguan para ekonom terhadap target ini.

Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto baru saja menetapkan target pertumbuhan ekonomi yang sangat berani dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN 2027), yakni di kisaran 5,8 persen hingga 6,5 persen. Angka ini melonjak signifikan dibanding target APBN 2026 yang dipatok sebesar 5,4 persen. Namun, langkah berani ini langsung memicu skeptisisme dari kalangan akademisi dan pengamat ekonomi.

Lembaga riset ekonomi terkemuka, CORE Indonesia, menilai target tersebut terlalu muluk dan kurang berpijak pada realitas historis maupun proyeksi global. Direktur Riset Bidang Makroekonomi, Kebijakan Fiskal dan Moneter CORE Indonesia, Akbar Susamto, menegaskan bahwa asumsi tersebut sangat optimistis, bahkan cenderung tidak realistis jika melihat rekam jejak perekonomian nasional yang hampir tidak pernah menyentuh angka 5,5 persen dalam beberapa dekade terakhir.

"Jika benar bahwa asumsi pertumbuhan ekonominya adalah 5,8-6,5 persen, tentu saja kita tahu itu asumsi yang sangat optimis," ujar Akbar dalam forum bertajuk Mengupas Pidato Presiden RI & Nota Keuangan dan RAPBN 2027, Jumat (14/8).

Menurut Akbar, tidak ada mesin pertumbuhan baru yang cukup kuat untuk mendongkrak PDB ke level 6 persen tahun depan. Selain faktor domestik yang stagnan, tekanan eksternal berupa ketidakpastian geopolitik global yang terus membayangi sejak awal 2026 kian mempersempit ruang gerak ekonomi Indonesia. Faktor eksternal dan internal saat ini dinilai belum memberikan landasan kuat untuk meyakini angka fantastis tersebut dapat dicapai.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat target pertumbuhan ekonomi 6,5 persen dalam RAPBN 2027 ini sebagai sebuah paradoks ekonomi-politik yang klasik. Di satu sisi, pemerintahan baru memang perlu menebar optimisme untuk menjaga kepercayaan pasar dan menarik investasi asing langsung (FDI). Namun di sisi lain, kebijakan fiskal harus dirancang berdasarkan kalkulasi yang realistis, bukan sekadar angan-angan politik. Menargetkan angka di atas 6 persen tanpa adanya reformasi struktural yang radikal adalah langkah yang sangat berisiko.

Mari kita bedah realitasnya. Motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini adalah konsumsi rumah tangga yang menyumbang lebih dari 50 persen PDB. Saat ini, daya beli masyarakat kelas menengah kita sedang mengalami tekanan hebat akibat inflasi pangan dan minimnya penciptaan lapangan kerja sektor formal. Di saat yang sama, sektor manufaktur yang seharusnya menjadi tulang punggung pertumbuhan justru terus mengalami deindustrialisasi dini. Tanpa adanya revitalisasi industri pengolahan secara masif, mustahil kita bisa melompat dari rata-rata pertumbuhan 5 persen ke 6,5 persen hanya dalam waktu singkat.

Dari sisi eksternal, lanskap global sama sekali tidak bersahabat. Ketegangan geopolitik yang tak kunjung usai, kebijakan suku bunga tinggi di negara-negara maju, serta perlambatan ekonomi China sebagai mitra dagang utama Indonesia, akan terus menekan kinerja ekspor kita. Kita tidak bisa lagi mengandalkan 'durian runtuh' dari commodity boom seperti masa lalu. Oleh karena itu, mengasumsikan bahwa perdagangan internasional akan menjadi penyelamat pertumbuhan adalah estimasi yang terlalu naif.

Implikasi dari target yang terlalu optimistis ini sangat berbahaya bagi kesehatan fiskal negara. Jika pertumbuhan ekonomi meleset dari target, maka target penerimaan perpajakan dipastikan akan ikut rontok. Untuk menutup defisit anggaran yang melebar, pemerintah terpaksa harus menambah utang baru dengan biaya bunga yang semakin mahal. Saya menyarankan pemerintah untuk lebih membumi: targetkan pertumbuhan yang moderat namun berkualitas (di kisaran 5,2 - 5,4 persen) yang fokus pada pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja, daripada mengejar angka tinggi yang rapuh secara fundamental.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa target pertumbuhan ekonomi 6,5% di RAPBN 2027 dinilai terlalu optimistis?
A: Target tersebut dinilai terlalu tinggi karena secara historis pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat jarang menembus angka 5,5%. Selain itu, belum ada motor penggerak ekonomi baru yang cukup kuat untuk mendorong lonjakan pertumbuhan tersebut.

Q: Apa saja tantangan utama yang menghambat pencapaian target pertumbuhan tersebut?
A: Tantangan utama meliputi melemahnya daya beli masyarakat domestik, deindustrialisasi dini di sektor manufaktur, serta ketidakpastian geopolitik global yang menekan kinerja ekspor dan investasi.

Q: Apa risiko bagi APBN jika target pertumbuhan ekonomi ini gagal tercapai?
A: Jika target meleset, penerimaan negara dari sektor pajak akan berkurang. Hal ini berpotensi memperlebar defisit anggaran dan memaksa pemerintah untuk menambah utang baru guna membiayai belanja negara.

Meow! Tanya Nesi!
😾