James Riady Gencar Beli 20.000 Motor Listrik Nasional – Langkah Besar Bikin Pasar Melejit!
Pakar modifikasi kendaraan dan tren pasar motor di Asia Tenggara.

Ringkasan Singkat
- James Riady, bos Lippo, komitmen beli 20.000 motor listrik buatan dalam negeri.
- Proyek Molinas resmi diluncurkan di Cikarang, didukung oleh pemerintah, BUMN, dan swasta.
- Pasar motor listrik Indonesia masih 1 % dari total penjualan, peluang tumbuh hingga ratusan juta unit.
Presiden Prabowo Subianto memotong pita peresmian Motor Listrik Nasional (Molinas) pada Kamis (13/8) di fasilitas produksi PT Ilectra Motor Group (ALVA), Cikarang, Bekasi. Dalam acara yang dimeriahkan tepuk tangan, Rosan Perkasa Roeslani, CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia, menegaskan bahwa James Riady siap mengamankan 20.000 unit motor listrik nasional.
Rosan memperkirakan nilai pasar global sektor motor listrik mencapai US$170 miliar (≈ Rp3,04 triliun). Di Indonesia, penetrasi motor listrik masih tipis—hanya 60‑70 ribu unit dari total penjualan tahunan 6‑7 juta motor, atau kurang dari 1 %. Dengan lebih dari 140 juta motor beredar, ruang tumbuhnya masih sangat luas.
Ekosistem Molinas mencakup rantai nilai lengkap: manufaktur, komponen, baterai, infrastruktur charging dan battery swapping, pembiayaan, distribusi, serta layanan purna jual. PT Len Industri ditunjuk sebagai lead integrator, memastikan standar TKDN terpenuhi oleh sekitar 10 perusahaan nasional.
CEO Danantara, Sigit Puji Santosa, menyiapkan skema pembiayaan agresif: suku bunga rendah, tenor panjang, dan penghapusan uang muka (DP) yang biasanya 10 %. Tujuannya, menggerakkan adopsi massal motor listrik tanpa beban finansial yang menghalangi konsumen.
Strategi baterai juga dioptimalkan. Danantara menargetkan penggunaan sel baterai berbasis nikel—memanfaatkan cadangan nikel Indonesia yang mencapai 46 % dunia—dari pengolahan nikel hingga cell dan pack, demi mengurangi ketergantungan BBM impor dan memperkuat rantai pasok domestik.
Analisis Pakar
Langkah James Riady membeli 20.000 unit bukan sekadar aksi filantropi; ia menandai titik balik bagi ekosistem motor listrik Indonesia. Dengan modal dan jaringan properti Lippo, Riady dapat menyediakan lokasi strategis untuk charging stations dan swap hubs, mempercepat jaringan infrastruktur yang selama ini menjadi bottleneck.
Dari sudut pandang teknis, fokus pada baterai nikel‑berbasis adalah keputusan cerdas. Nikel menawarkan densitas energi tinggi dan siklus hidup yang lebih baik dibandingkan LFP (Lithium Iron Phosphate). Namun, tantangan produksi sel nikel di dalam negeri masih besar: kontrol kualitas, manajemen termal, dan kebutuhan material pendukung (cobalt, aluminium) harus diatasi lewat kolaborasi R&D dengan universitas dan lembaga riset.
Skema pembiayaan yang diusulkan Danantara—suku bunga rendah, tenor panjang, dan penghapusan DP—akan menurunkan total cost of ownership (TCO) secara signifikan. Namun, bank harus menyiapkan mekanisme mitigasi risiko, mengingat umur pakai baterai masih menjadi pertanyaan bagi konsumen. Garansi baterai 5‑8 tahun atau program swap berbasis subscription dapat menjadi solusi.
Terakhir, pasar motor listrik Indonesia masih berada di fase early adoption. Untuk melompat ke fase mass market, diperlukan sinergi antara kebijakan pemerintah (insentif pajak, subsidi), standar teknis (ISO, IEC), dan edukasi konsumen. Jika semua komponen ini bergerak selaras, target 20.000 unit dapat menjadi katalisator yang mengubah lanskap mobilitas dua roda di Tanah Air.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa banyak motor listrik yang akan dibeli James Riady?
A: 20.000 unit motor listrik buatan dalam negeri. - Q: Apa peran PT Len Industri dalam proyek Molinas?
A: PT Len Industri ditunjuk sebagai lead integrator yang mengkoordinasikan seluruh rantai nilai, mulai dari komponen hingga layanan purna jual. - Q: Bagaimana skema pembiayaan motor listrik yang ditawarkan?
A: Suku bunga lebih rendah, tenor lebih panjang, dan penghapusan uang muka (DP) sekitar 10 % untuk mempercepat adopsi.


