Iran Tegaskan Kendali Selat Hormuz, Membantah Klaim Amerika—Apa Artinya bagi Keamanan Global?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Komandan Basij Hojjatoleslam Hossein Taeb menegaskan Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan Iran, menolak pernyataan Donald Trump yang mengklaim AS menguasai jalur tersebut.
- Pernyataan serupa dikeluarkan oleh Komando Militer Gabungan Khatam al-Anbiya, yang menegaskan tidak ada kapal yang dapat melintas tanpa izin Tehran.
- Ketegangan meningkat setelah kesepakatan gencatan senjata sementara pada Juni 2024 runtuh, memicu serangkaian serangan balasan di wilayah Teluk.
Dalam sebuah konferensi pers pada Kamis, 13 Agustus, Hojjatoleslam Hossein Taeb, komandan paramiliter Iran Basij, menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap berada “di bawah kendali dan pengelolaan Republik Islam”. Ia menolak tuduhan Presiden Donald Trump yang sempat menyatakan Amerika Serikat memegang “kendali penuh” atas perairan strategis tersebut.
“Hari ini Anda melihat bahwa Selat Hormuz berada di bawah pengelolaan dan kendali Republik Islam, dan negara kami terus melangkah dalam kondisi keamanan penuh,” kata Taeb, menambahkan bahwa “pihak Amerika telah menyaksikan kekuatan revolusi kami.” Pernyataan ini disiarkan oleh Al Jazeera dan menandai eskalasi retorika antara kedua negara.
Tak lama kemudian, Komando Militer Gabungan Iran, yang berpusat di Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, mengeluarkan pernyataan resmi yang menegaskan tidak ada kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tanpa izin Tehran. “Klaim tak berdasar yang dilontarkan AS mengenai pelayaran normal kapal‑kapal melalui Selat Hormuz, tidak lain hanyalah kebohongan dan kepalsuan belaka,” ujar juru bicara komando tersebut.
Pejabat senior urusan politik militer, Rasoul Sanaei‑Rad, menambahkan bahwa Iran tidak akan membuka kembali selat tersebut kecuali Amerika Serikat memenuhi komitmen yang tercantum dalam kesepakatan sementara yang bertujuan mengakhiri konflik. Ia memperingatkan bahwa “dalam kemungkinan perang di masa depan, kami akan bersikap lebih tegas dan lebih ofensif.”
Pada Juni 2024, kedua negara sempat menandatangani kesepakatan gencatan senjata sementara yang memperpanjang penghentian permusuhan sejak April. Namun, kesepakatan itu runtuh beberapa minggu kemudian setelah Iran melancarkan serangan terbatas terhadap kapal‑kapal yang dianggap melanggar ketentuan perjanjian. Serangan balasan Amerika Serikat kemudian diarahkan ke provinsi selatan Iran, dengan tujuan melemahkan kemampuan Teheran dalam mengincar kapal‑kapal di kawasan Teluk.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menuduh Amerika Serikat “salah perhitungan” akibat kegagalan intelijen, termasuk dalam keputusan memulai perang melawan Iran. Pernyataan‑pernyataan ini menegaskan kembali dinamika geopolitik yang semakin kompleks di wilayah strategis tersebut.
Analisis Pakar
Ketegangan di Selat Hormuz bukan sekadar perselisihan semantik antara Tehran dan Washington; ia mencerminkan pertarungan kepentingan strategis yang melibatkan jalur perdagangan minyak global, keamanan maritim, dan pengaruh regional. Kendali atas selat ini memberi pihak yang menguasainya leverage signifikan dalam negosiasi energi dunia, mengingat lebih dari satu pertiga produksi minyak dunia melintasi perairan tersebut.
Penegasan Iran atas kontrolnya dapat dilihat sebagai upaya memperkuat legitimasi domestik dan menegaskan kedaulatan nasional di tengah tekanan internasional. Sementara itu, pernyataan Donald Trump—meskipun kini tidak lagi menjabat—menjadi simbol kebijakan luar negeri Amerika yang menekankan dominasi militer di wilayah tersebut. Kedua narasi ini saling bersaing dalam arena propaganda, yang pada akhirnya mempengaruhi persepsi publik dan keputusan kebijakan di tingkat tinggi.
Secara militer, kemampuan Iran untuk mengendalikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz bergantung pada kombinasi kekuatan militer konvensional, sistem pertahanan anti‑kapal, dan jaringan paramiliter seperti Basij. Namun, kemampuan ini tetap terbatas bila dibandingkan dengan kekuatan maritim Amerika Serikat yang meliputi kapal induk, pesawat patroli, dan jaringan intelijen satelit. Oleh karena itu, klaim “kendali penuh” oleh AS lebih bersifat simbolik, menekankan kemampuan untuk menegakkan kebebasan navigasi bila diperlukan.
Implikasi geopolitik jangka panjang meliputi potensi eskalasi militer yang dapat mengganggu pasar energi global, meningkatkan harga minyak, dan memicu intervensi pihak ketiga—seperti Uni Eropa atau China—yang memiliki kepentingan ekonomi di wilayah tersebut. Diplomasi multilateral, termasuk melalui forum seperti Organisasi Kerjasama Islam (OKI) atau Perserikatan Bangsa‑Bangsa, menjadi kunci untuk mencegah konflik terbuka dan memastikan kebebasan navigasi yang berkelanjutan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Siapa yang sebenarnya mengendalikan Selat Hormuz saat ini?
A: Secara de‑facto, Iran mengklaim kontrol atas lalu lintas kapal, sementara Amerika Serikat mempertahankan kemampuan militer untuk menegakkan kebebasan navigasi bila diperlukan. - Q: Apa dampak runtuhnya kesepakatan gencatan senjata pada pasar minyak?
A: Ketidakpastian di Selat Hormuz biasanya memicu kenaikan harga minyak dunia karena investor mengantisipasi gangguan pasokan. - Q: Bagaimana komunitas internasional dapat mencegah konflik di wilayah ini?
A: Melalui diplomasi multilateral, penguatan mekanisme kebebasan navigasi di bawah naungan PBB, dan dialog langsung antara Tehran dan Washington untuk menetapkan protokol keamanan maritim.


