Farizon Gencarkan Produksi Van Listrik: 80 Unit per Bulan dengan TKDN 40%!

Otomotif
Raka MahendraRaka Mahendra
Raka Mahendra
Raka Mahendra
Jurnalis Otomotif

Pakar modifikasi kendaraan dan tren pasar motor di Asia Tenggara.

Farizon Gencarkan Produksi Van Listrik: 80 Unit per Bulan dengan TKDN 40%!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Farizon menargetkan produksi 80 unit van listrik V8E tiap bulan di Indonesia.
  • TKDN diproyeksikan mencapai 40 % meski sertifikasi belum selesai.
  • Investasi Rp40‑50 miliar di pabrik HandalIndonesiaMotor Purwakarta untuk lini perakitan.

Produsen kendaraan listrik niaga Farizon resmi meluncurkan fase produksi massal van listrik V8E. Dengan target ambisius 80 unit per bulan, perusahaan mengandalkan fasilitas Purwakarta milik Handal Indonesia Motor (HIM). "Bertahap, kami juga mau lihat kondisi pasar seperti apa," ujar Christoforus Ronny, Director Arista Manufacturing Indonesia di pabrik Handal.

V8E memiliki dimensi yang cukup kompak untuk operasi perkotaan: panjang 5.395 mm, lebar 1.820 mm, tinggi 1.985 mm, dan wheelbase 3.600 mm. Berat total saat terisi penuh mencapai 3.500 kg. Ditenagai baterai lithium‑iron‑phosphate berkapasitas 65 kWh, motor listrik menghasilkan daya puncak 110 kW dan torsi 220 Nm, memungkinkan jangkauan maksimum 310 km dengan beban penuh.

Investasi sebesar Rp40‑50 miliar telah disuntikkan untuk menambah peralatan produksi, memperkuat lini perakitan, dan menyiapkan infrastruktur pendukung. Meskipun TKDN diperkirakan mencapai 40 %, sertifikasi resmi masih dalam proses, menandakan tantangan regulasi yang harus dihadapi.

Selain V8E, Farizon sebelumnya meluncurkan van berukuran lebih besar, model SV, yang masih berstatus CBU (Completely Built Up). Keberhasilan V8E akan menjadi batu loncatan penting bagi Farizon dalam mengukir pangsa pasar kendaraan niaga listrik di tanah air.

Analisis Pakar

Secara teknis, V8E menampilkan keseimbangan yang menarik antara kapasitas baterai dan output motor. Baterai 65 kWh berbasis LFP (Lithium Iron Phosphate) memang tidak se‑energi tinggi seperti NMC, namun keunggulannya terletak pada stabilitas termal dan umur pakai yang lebih panjang—fitur krusial untuk kendaraan niaga yang beroperasi harian. Dengan torsi 220 Nm, van ini cukup responsif untuk mengangkut muatan berat tanpa mengorbankan akselerasi yang dibutuhkan dalam lingkungan perkotaan.

Namun, jangkauan 310 km pada beban maksimal masih menjadi pertanyaan bagi operator logistik yang mengandalkan rute jarak jauh. Dibandingkan dengan kompetitor internasional yang menawarkan lebih dari 400 km, Farizon harus menyiapkan jaringan pengisian cepat yang memadai atau mengoptimalkan manajemen energi melalui regenerative braking yang lebih agresif.

Aspek TKDN 40 % menunjukkan komitmen pada industrialisasi dalam negeri, tetapi belum cukup untuk menutup celah teknologi tinggi seperti sistem manajemen baterai (BMS) dan software kontrol motor. Tanpa sertifikasi resmi, ada risiko keterlambatan dalam mendapatkan insentif pemerintah atau akses ke tender publik.

Investasi Rp40‑50 miliar di pabrik HIM menandakan kepercayaan pada ekosistem manufaktur Indonesia, namun skalabilitas produksi 80 unit per bulan masih bergantung pada rantai pasokan komponen kritis. Jika Farizon dapat mengamankan pasokan semikonduktor dan motor listrik domestik, mereka berpotensi menurunkan biaya produksi dan meningkatkan margin keuntungan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa kapasitas baterai Farizon V8E?
    A: V8E dilengkapi baterai lithium‑iron‑phosphate berkapasitas 65 kWh.
  • Q: Apa target produksi bulanan Farizon di Indonesia?
    A: Farizon menargetkan produksi 80 unit van listrik V8E per bulan.
  • Q: Berapa persentase TKDN yang diharapkan untuk V8E?
    A: TKDN diperkirakan mencapai 40 % meski sertifikasi belum selesai.
Meow! Tanya Nesi!
😸