Ambisi 100 Ribu Sekolah Prabowo: Realistis atau Sekadar Janji Manis di Tengah Sengkarut Anggaran?

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ambisi 100 Ribu Sekolah Prabowo: Realistis atau Sekadar Janji Manis di Tengah Sengkarut Anggaran?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Mendikdasmen Abdul Mu'ti memprioritaskan renovasi sekolah rusak berat dan wilayah 3T demi mengejar target ambisius 100 ribu sekolah dari Presiden Prabowo Subianto.
  • Anggaran untuk target raksasa ini rupanya belum sepenuhnya aman, di mana kementerian masih harus mengemis tambahan dana ke Kementerian Keuangan untuk tahun 2027.
  • Pemerintah juga berencana menghidupkan kembali konsep TV Pendidikan masa lalu lewat pembangunan studio pembelajaran jarak jauh terpusat di Jakarta.

Rencana besar Presiden Prabowo Subianto untuk memugar 100 ribu sekolah di seluruh penjuru Indonesia mulai menemui realitas yang berliku. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menegaskan bahwa skala prioritas mutlak diperlukan. Pemerintah akan mendahulukan sekolah-sekolah dengan kondisi kerusakan berat serta satuan pendidikan yang berada di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Langkah taktis ini diambil guna menyiasati keterbatasan ruang fiskal yang ada saat ini. Mu'ti menjelaskan bahwa untuk tahun anggaran 2025 dan 2026, program renovasi sekolah akan mengoptimalkan pagu yang telah disetujui bersama Presiden. Namun, untuk menuntaskan target raksasa hingga tahun 2027, kementeriannya masih harus mengajukan usulan tambahan anggaran kepada Kementerian Keuangan.

Di sisi lain, pemerintah juga mencoba menghidupkan kembali memori masa lalu dengan merancang sistem pembelajaran jarak jauh berbasis studio terpusat di Jakarta. Dengan memanfaatkan aset-aset Unit Pelaksana Teknis (UPT) di daerah dan merenovasi bekas studio TV Pendidikan lama, proyek ini digadang-gadang menjadi solusi digitalisasi pendidikan nasional yang efisien.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengawal kebijakan publik selama puluhan tahun, saya melihat janji renovasi 100 ribu sekolah ini bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi, ini adalah angin segar bagi jutaan anak bangsa yang terpaksa belajar di bawah atap yang nyaris roboh. Namun, di sisi lain, kita harus bersikap realistis dan kritis: dari mana uangnya? Ketika Mendikdasmen secara terbuka menyatakan masih harus meminta tambahan anggaran ke Kementerian Keuangan untuk tahun 2027, ini adalah sinyal merah bahwa perencanaan fiskal program ini belum sepenuhnya matang di tingkat hulu.

Sejarah mencatat, proyek infrastruktur pendidikan di Indonesia kerap kali tersandung masalah birokrasi, korupsi di tingkat daerah, dan data yang tidak sinkron (Dapodik). Memprioritaskan sekolah rusak berat dan wilayah 3T adalah keputusan logis, namun eksekusinya di lapangan sering kali terhambat oleh rantai birokrasi yang panjang dan lambat. Tanpa adanya pengawasan ketat dan transparansi digital yang dapat diakses publik, target 100 ribu sekolah ini rawan menjadi proyek bancakan atau sekadar angka di atas kertas demi memuaskan syahwat politik jangka pendek.

Terkait rencana pembangunan studio pembelajaran jarak jauh yang mengadopsi konsep TV Edukasi masa lalu, pemerintah tampaknya mengalami kemunduran berpikir atau terjebak dalam nostalgia. Di era internet satelit dan platform interaktif seperti sekarang, membangun studio fisik terpusat yang searah terasa sangat usang. Mengapa tidak mengoptimalkan infrastruktur digital yang sudah ada atau melatih guru-guru di daerah untuk membuat konten lokal yang lebih relevan? Sentralisasi konten pendidikan di Jakarta berisiko mengabaikan keberagaman budaya dan kebutuhan riil siswa di pelosok daerah.

Kabinet baru ini harus memahami bahwa pendidikan bukan sekadar proyek fisik mercusuar. Membangun gedung sekolah dan studio megah tidak akan meningkatkan mutu literasi jika kesejahteraan guru diabaikan dan kurikulum terus berubah tanpa arah yang jelas. Kami di meja redaksi akan terus mengawal ke mana setiap rupiah anggaran ini mengalir. Pemerintah tidak boleh hanya pandai menebar janji manis di podium MPR, sementara di lapangan, anak-anak kita masih harus bertaruh nyawa menyeberangi jembatan rusak demi mencapai sekolah yang bocor.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa fokus utama dari program renovasi sekolah yang dicanangkan pemerintah saat ini?
A: Fokus utama program ini adalah memprioritaskan sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat serta sekolah yang berada di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Q: Berapa target jumlah sekolah yang akan direnovasi dan bagaimana kesiapan anggarannya?
A: Presiden Prabowo menargetkan renovasi 100 ribu sekolah. Namun, anggaran penuh untuk target ini belum sepenuhnya aman, karena Kemendikdasmen masih harus mengajukan tambahan dana ke Kementerian Keuangan untuk tahun anggaran 2027.

Q: Apa itu proyek studio terpusat yang direncanakan oleh Kemendikdasmen?
A: Proyek ini adalah pembangunan studio di Jakarta (memanfaatkan bekas studio TV Pendidikan lama) untuk mendukung siaran pembelajaran jarak jauh, dibantu oleh kantor-kantor unit pelaksana teknis (UPT) di daerah.

Meow! Tanya Nesi!
😸