Gempa Magnitudo 4,6 Guncang Gambiran Banyuwangi, Dipicu Aktivitas Sesar Aktif Dangkal
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Wilayah Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur dan sekitarnya diguncang gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,6 pada Kamis siang (13/8/2026) pukul 13:23:19 WIB. Berdasarkan analisis parameter seismisitas, pusat gempa (episenter) terletak di darat pada koordinat titik yang berada sekitar 3 kilometer arah timur tenggara (ESE) dari Gambiran Satu, Banyuwangi. Kedalaman gempa yang dangkal menyebabkan guncangan dirasakan cukup signifikan di sekitar wilayah episenter.
Guncangan gempa ini dilaporkan dirasakan kuat oleh masyarakat di wilayah Banyuwangi dengan skala intensitas III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity), di mana getaran dirasakan nyata di dalam rumah seakan-akan ada truk besar yang melintas, hingga menyebabkan jendela atau pintu berderit dan benda gantung bergoyang. Getaran dengan intensitas lebih lemah juga dilaporkan dirasakan hingga sebagian wilayah Jember dan Bondowoso. Hingga rilis ini diterbitkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat masih melakukan monitoring dan asesmen cepat di lapangan untuk mengidentifikasi potensi kerusakan struktural pada bangunan warga.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Warga juga diminta untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat instalasi struktur yang kurang kokoh, serta memastikan jalur evakuasi di dalam rumah bebas dari hambatan guna mengantisipasi adanya aktivitas seismik susulan.
Analisis Pakar Geofisika
Ditinjau dari lokasi episenter dan kedalamannya, gempa bumi Magnitudo 4,6 yang berpusat di 3 km timur tenggara Gambiran Satu ini merupakan jenis gempa bumi dangkal (shallow crustal earthquake). Gempa ini tidak berkaitan langsung dengan zona subduksi lempeng (Sunda Megathrust) yang berada di samudra selatan Jawa, melainkan dipicu oleh aktivitas patahan atau sesar aktif lokal yang berada di daratan Banyuwangi. Struktur geologi regional menunjukkan adanya beberapa kelurusan sesar lokal di kawasan tapal kuda Jawa Timur yang masih aktif dan memiliki laju geser tertentu.
Secara historis, wilayah ujung timur Pulau Jawa memiliki rekam jejak kegempaan yang kompleks. Selain ancaman gempa megathrust lepas pantai yang pernah memicu tsunami destruktif pada tahun 1994, aktivitas sesar darat di wilayah ini juga kerap memicu gempa-gempa tektonik dengan magnitudo minor hingga sedang. Karakteristik gempa sesar darat berdimensi dangkal seperti ini adalah energinya yang langsung terdisipasi ke permukaan, sehingga meskipun magnitudonya relatif kecil (M 4,6), guncangan yang dirasakan di sekitar episenter bisa terasa sangat tajam dan mengejutkan.
Mengingat episenter gempa berada sepenuhnya di daratan, peristiwa ini sama sekali tidak berpotensi memicu tsunami. Namun, pelepasan energi pada sesar lokal biasanya akan diikuti oleh serangkaian gempa susulan (aftershocks) dengan magnitudo yang terus menurun seiring dengan proses stabilisasi batuan di kerak bumi. Masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi runtuhan material ringan dari langit-langit rumah jika terjadi gempa susulan dalam beberapa hari ke depan.