Farizon Luncurkan Van Listrik V8E Buatan Lokal: 310 km Jarak Tempuh, 110 kW Tenaga, dan Revolusi Mobilitas Hijau di Jawa Barat!
Pakar modifikasi kendaraan dan tren pasar motor di Asia Tenggara.

Ringkasan Singkat
- FarizonAuto merakit van listrik V8E pertama di pabrik KD Handal Indonesia Motor, Purwakarta.
- Van berukuran 5.395 mm × 1.820 mm × 1.985 mm, berat 3.500 kg, dilengkapi baterai 65 kWh LFP dan motor 110 kW/220 Nm.
- Jarak tempuh maksimum 310 km dengan beban penuh, menandai langkah strategis Indonesia menuju transportasi komersial ramah lingkungan.
Purwakarta, Jawa Barat – Pada Kamis (13/8), Farizon menandai babak baru dalam industri otomotif Indonesia dengan mengeluarkan V8E, van listrik komersial pertama yang dirakit secara lokal di fasilitas Purwakarta milik Handal Indonesia Motor (HIM). CEO Farizon New Energy Commercial Vehicle Group, Mike Fan, menyatakan bahwa momen ini bukan sekadar perakitan, melainkan tonggak penting dalam menciptakan sinergi antara manufaktur dalam negeri dan transisi energi bersih.
V8E memiliki dimensi total 5.395 mm (panjang), 1.820 mm (lebar), dan 1.985 mm (tinggi) dengan jarak sumbu roda 3.600 mm**. Berat operasional penuh mencapai **3.500 kg**, menuntut struktur rangka yang kuat namun tetap ringan. Tenaga penggeraknya berasal dari motor listrik berdaya puncak **110 kW** (≈148 hp) dan torsi **220 Nm**, dipasok oleh paket baterai lithium iron phosphate berkapasitas **65 kWh**. Konfigurasi ini memungkinkan jarak tempuh hingga 310 km dalam kondisi beban maksimal, sebuah angka yang kompetitif untuk segmen van komersial di pasar domestik.
Mike Fan menegaskan, “Dalam membangun pasar Indonesia, tujuan kami bukan hanya sekadar menghadirkan produk, tetapi juga membangun kehadiran kuat dan berkelanjutan di Indonesia.” Ia menambahkan bahwa V8E adalah hasil kolaborasi intens antara tim teknik Farizon dan tenaga kerja lokal, menandai komitmen jangka panjang perusahaan terhadap lokal content dan ekosistem kendaraan listrik (EV) nasional.
Dengan kapasitas muatan yang dirancang untuk distribusi perkotaan, V8E dilengkapi sistem manajemen baterai (BMS) canggih, pendinginan pasif, serta fitur telematika yang memungkinkan pemantauan real‑time status kendaraan. Kendaraan ini juga mendukung pengisian cepat 80 % dalam kurang dari satu jam pada infrastruktur CCS (Combined Charging System) yang mulai berkembang di Jawa Barat.
Analisis Pakar
Sebagai reviewer otomotif yang telah menelusuri evolusi kendaraan komersial selama lebih dari satu dekade, saya melihat V8E sebagai langkah strategis yang menggabungkan tiga pilar utama: teknologi baterai LFP, produksi lokal, dan kebijakan energi bersih. Pilihan baterai LFP memang tidak menawarkan densitas energi setinggi NMC (Nickel‑Manganese‑Cobalt), namun keunggulannya terletak pada stabilitas termal, umur siklus yang lebih panjang, dan biaya produksi yang lebih rendah. Ini sangat cocok untuk aplikasi van yang menuntut keandalan tinggi dan siklus pengisian‑pengosongan harian.
Dimensi dan berat V8E menunjukkan bahwa Farizon tidak sekadar meniru platform EV Barat, melainkan melakukan re‑engineering untuk menyesuaikan dengan regulasi jalan Indonesia serta kebutuhan logistik lokal. Jarak tempuh 310 km pada beban penuh masih berada di ambang batas operasional harian bagi banyak usaha kecil‑menengah (UKM), namun dengan jaringan pengisian cepat yang sedang dibangun, hal ini dapat diatasi melalui strategi “charge‑and‑go”.
Dari perspektif manufaktur, keberhasilan perakitan di Purwakarta menandakan kematangan ekosistem supply chain dalam negeri. Namun, tantangan berikutnya adalah skala produksi. Untuk menurunkan biaya unit (cost‑per‑unit), Farizon harus meningkatkan volume, mengoptimalkan proses KD (knock‑down) menjadi CKD (completely knocked‑down), dan mengintegrasikan lebih banyak komponen lokal seperti motor hub, inverter, serta sistem pendingin.
Terakhir, kebijakan pemerintah Indonesia yang mendorong adopsi EV melalui insentif pajak, subsidi infrastruktur, dan target 30 % kendaraan listrik pada 2030 akan menjadi katalisator utama. Jika Farizon dapat memanfaatkan skema tersebut, V8E bukan hanya sekadar van listrik pertama yang dirakit di Jawa Barat, melainkan pionir yang membuka pintu bagi ekosistem EV komersial yang lebih luas di tanah air.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa lama waktu pengisian penuh baterai 65 kWh pada V8E?
A: Dengan charger CCS 150 kW, pengisian 0‑80 % dapat selesai dalam kurang dari satu jam. - Q: Apakah V8E dapat dipakai untuk beban berat di daerah pegunungan?
A: Ya, motor 110 kW dan torsi 220 Nm dirancang untuk menahan tanjakan curam dengan beban penuh, meski jarak tempuh akan berkurang sekitar 15‑20 %. - Q: Apakah ada rencana produksi massal V8E di Indonesia?
A: Farizon berencana meningkatkan kapasitas pabrik KD di Purwakarta menjadi lini CKD dalam 2‑3 tahun ke depan, dengan target produksi tahunan 5.000 unit.


