Kabut Asap Mengepung, Istana Pilih 'Lepas Tangan' Soal Libur Sekolah Akibat Karhutla?

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kabut Asap Mengepung, Istana Pilih 'Lepas Tangan' Soal Libur Sekolah Akibat Karhutla?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pemerintah pusat belum menetapkan kebijakan meliburkan sekolah secara nasional di wilayah terdampak karhutla, menyerahkan keputusan sepenuhnya ke daerah.
  • Mensesneg Prasetyo Hadi mengklaim koordinasi birokrasi dan logistik berjalan lancar tanpa hambatan administratif.
  • Publik mengkritik lambatnya respons mitigasi kesehatan bagi anak-anak sekolah yang terpapar kabut asap ekstrem akibat El Nino.

Di tengah kepungan kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian tak terkendali akibat siklus El Nino, pemerintah pusat justru memilih sikap defensif. Hingga saat ini, belum ada instruksi tegas dari Jakarta untuk meliburkan kegiatan belajar-mengajar di wilayah-wilayah terdampak parah.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa kebijakan meliburkan sekolah masih bersifat situasional dan diserahkan sepenuhnya kepada diskresi pemerintah daerah masing-masing. Istana berdalih belum menerima laporan komprehensif mengenai sekolah-sekolah yang terpaksa menghentikan aktivitasnya.

"Artinya taktis di lapangan dan kami berikan izin kepada teman-teman yang memang mengerti betul kondisi di lapangan itu," ujar Prasetyo saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (12/8).

Meskipun terkesan lamban dalam merespons ancaman kesehatan generasi muda, Prasetyo mengklaim bahwa pemerintah terus berupaya memadamkan titik api. Ia juga menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga terkait untuk memangkas jalur birokrasi demi mempercepat penanganan di lapangan.

"Kami sudah koordinasi ke semua pihak, apa pun yang diperlukan, tidak boleh lagi ada kendala, baik secara administratif maupun secara logistik," tambahnya.

Di sisi lain, Istana kembali melemparkan sebagian tanggung jawab kepada masyarakat. Prasetyo mengimbau warga untuk menghentikan kebiasaan membuka lahan dengan cara membakar, yang dituding menjadi pemicu utama meluasnya kebakaran di berbagai daerah.

Analisis Pakar

Kebijakan pemerintah pusat yang menyerahkan urusan peliburan sekolah sepenuhnya kepada "taktis lapangan" di daerah adalah bentuk nyata dari cuci tangan birokrasi. Di saat indeks standar pencemar udara (ISPU) di beberapa wilayah Sumatra dan Kalimantan sudah memasuki level berbahaya, Istana seharusnya mengambil komando tegas, bukan malah menunggu laporan administratif yang lamban. Menyerahkan keputusan krusial ini ke daerah tanpa indikator keselamatan yang rigid dari pusat hanya akan mengorbankan kesehatan anak-anak sekolah demi menjaga statistik kehadiran akademis.

Sebagai jurnalis yang telah bertahun-tahun menginvestigasi bencana ekologis ini, saya melihat pola yang sama terus berulang. Pemerintah selalu terjebak dalam retorika "koordinasi tanpa hambatan" sementara di lapangan, anak-anak kita dipaksa menghirup racun ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Mengapa keselamatan publik selalu ditempatkan di bawah prosedur administratif? Jika logistik dan birokrasi diklaim sudah lancar, mengapa posko kesehatan dan ruang evakuasi steril di sekolah-sekolah belum juga terealisasi secara masif?

Menuding kebiasaan masyarakat membakar lahan sebagai kambing hitam tunggal juga merupakan penyederhanaan masalah yang menyesatkan. Investigasi lapangan kerap menunjukkan bahwa konsesi korporasi skala besar sering kali berada di balik titik-titik api terbesar. Selama penegakan hukum terhadap korporasi pembakar hutan masih tumpul dan tebang pilih, imbauan moral dari balik meja Istana tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah karhutla. El Nino hanyalah katalis, sedangkan kelalaian sistemik adalah bahan bakar utamanya.

Sudah saatnya pemerintah berhenti bersikap reaktif dan mulai menerapkan mitigasi bencana yang berbasis pada hak asasi manusia, khususnya hak atas kesehatan anak. Menunda peliburan sekolah di zona merah karhutla bukan lagi sekadar masalah teknis pendidikan, melainkan bentuk pengabaian negara terhadap keselamatan warganya. Presiden harus segera mengeluarkan instruksi tegas yang mengikat, bukan sekadar memberikan "izin taktis" yang bias dan lambat dieksekusi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa pemerintah belum meliburkan sekolah secara nasional akibat karhutla?
A: Pemerintah pusat menyerahkan keputusan peliburan sekolah kepada pemerintah daerah masing-masing karena dinilai lebih memahami kondisi taktis dan tingkat keparahan kabut asap di lapangan.

Q: Apa langkah yang diambil pemerintah untuk mempercepat penanganan karhutla?
A: Mensesneg menyatakan telah berkoordinasi dengan seluruh lembaga terkait untuk memangkas hambatan administratif dan logistik agar penanganan kebakaran hutan berjalan lebih cepat.

Q: Apa penyebab utama meluasnya karhutla menurut pemerintah?
A: Selain faktor cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino, pemerintah menyoroti kebiasaan pembukaan lahan dengan cara membakar yang masih dilakukan oleh sebagian masyarakat.

Meow! Tanya Nesi!
😸