Kemensos Gandeng INABA: Sekolah Rakyat Dijadikan Mesin Pengentasan Kemiskinan—Apakah Strategi Ini Efektif?
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Kementerian Sosial (Kemensos) menandatangani MoU dengan Universitas INABA untuk memperluas program Sekolah Rakyat.
- Program ini tidak hanya memberi pendidikan, tapi juga menyiapkan siswa dari keluarga miskin agar dapat bekerja atau melanjutkan kuliah, selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
- Kerja sama yang sudah berjalan di 16 titik kini diharapkan menghasilkan beasiswa, modul pembelajaran, dan peningkatan soft‑skill secara berkelanjutan.
Kementerian Sosial memperkuat kolaborasinya dengan Universitas INABA melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada Selasa, 11 Agustus 2026. Acara yang berlangsung di Ruang Rapat Utama Kemensos, Jakarta, dihadiri Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, Sekretaris Jenderal Robben Rico, serta perwakilan INABA.
Menurut Agus Jabo, kerja sama ini bukan sekadar formalitas; kolaborasi sudah teruji di lapangan melalui kegiatan di 16 titik Sekolah Rakyat. “Kita sudah melewati satu proses sebelum MoU, dan harapannya kerja sama ini dapat diperluas untuk mengimplementasikan mandat Presiden dalam pengentasan kemiskinan,” ujarnya.
Program Sekolah Rakyat tidak hanya menyasar peningkatan pengetahuan akademik. “Setiap siswa harus berilmu, berkarakter, dan terampil,” tegas Agus Jabo, menekankan pentingnya mengubah mindset dan karakter anak-anak yang berasal dari keluarga dengan akses pendidikan terbatas. Ia menambahkan bahwa kemampuan berbahasa Inggris, kemampuan berbicara di depan umum, serta kepercayaan diri menjadi indikator keberhasilan program.
Robben Rico menyoroti hasil konkret yang telah dicapai sejak Februari 2026, ketika empat dari tujuh program studi INABA (manajemen, komunikasi, informatika, dan lainnya) mulai berkolaborasi dengan Sekolah Rakyat. “Penguatan Bahasa Indonesia, coding, AI, serta pendampingan konseling sudah berjalan selama enam bulan dan menghasilkan modul, buku, serta publikasi,” katanya.
Wakil Rektor Bidang Akademik INABA, Erna Herlinawati, menegaskan bahwa kegiatan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama 9 (SRMP 9) akan terus dikembangkan dalam kerangka Tridharma Perguruan Tinggi. “Kami tidak hanya mengajar, tetapi juga menghasilkan luaran berupa modul dan publikasi,” ujarnya.
Selanjutnya, INABA berencana membuka jalur beasiswa bagi lulusan Sekolah Rakyat, agar mereka dapat melanjutkan ke perguruan tinggi atau memasuki dunia kerja. “Jika setelah lulus mereka tidak melanjutkan kuliah atau tidak bekerja, program ini belum selesai,” kata Agus Jabo.
Analisis Pakar
Kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi memang menjadi salah satu strategi yang paling logis dalam upaya mengatasi kemiskinan struktural. Namun, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak dapat diukur hanya dari jumlah modul atau sesi pelatihan yang diberikan. Tantangan utama terletak pada kesinambungan pasca‑kelulusan: apakah beasiswa yang dijanjikan benar‑benar dapat menutup celah finansial, ataukah siswa tetap terjebak dalam pekerjaan bergaji rendah yang tidak mengangkat status ekonomi keluarga?
Selanjutnya, perlu dipertanyakan sejauh mana INABA mampu menyesuaikan kurikulum akademik dengan realitas pasar kerja di daerah‑daerah miskin. Penggunaan teknologi tinggi seperti AI dan coding memang relevan, namun tanpa infrastruktur yang memadai (akses internet, perangkat keras), manfaatnya akan terbatas pada segelintir siswa yang sudah memiliki akses dasar.
Di sisi lain, pernyataan bahwa program ini “menyiapkan siswa agar dapat bekerja” berpotensi menimbulkan paradoks: pendidikan formal yang seharusnya membuka jalan ke perguruan tinggi justru diarahkan pada pekerjaan cepat. Kebijakan ini harus diimbangi dengan mekanisme monitoring jangka panjang, termasuk penelusuran alumni, untuk memastikan bahwa lulusan tidak kembali ke lingkaran kemiskinan.
Akhirnya, peran Kemensos sebagai koordinator harus lebih transparan. Publik perlu mengetahui alokasi anggaran, kriteria seleksi beasiswa, serta mekanisme akuntabilitas. Tanpa transparansi, program ini berisiko menjadi “program pencitraan” yang mengaburkan masalah struktural yang lebih dalam, seperti ketimpangan wilayah, kurangnya lapangan kerja, dan rendahnya kualitas pendidikan dasar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa saja program yang sudah dijalankan oleh INABA di Sekolah Rakyat?
A: Empat program studi INABA (manajemen, komunikasi, informatika, dan satu lagi) telah memberikan pelatihan bahasa Indonesia, coding, AI, serta pendampingan konseling sejak Februari 2026. - Q: Bagaimana cara siswa Sekolah Rakyat mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan ke perguruan tinggi?
A: Beasiswa akan disalurkan melalui mekanisme seleksi yang akan diumumkan oleh INABA setelah penandatanganan MoU; detail prosedurnya masih dalam tahap finalisasi. - Q: Apakah program Sekolah Rakyat hanya fokus pada pendidikan formal atau juga pada pelatihan keterampilan kerja?
A: Program ini menggabungkan pendidikan akademik dengan pengembangan soft‑skill, karakter, dan keterampilan kerja agar lulusan dapat langsung memasuki dunia kerja atau melanjutkan studi.


