Freeport Siapkan Tambang Bawah Tanah 'Kucing Liar' Mulai Produksi 2029, Investasi Rp 25 Triliun
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Freeport Indonesia menargetkan operasional tambang bawah tanah Kucing Liar pada 2029.
- Investasi awal mencapai US$1,4 miliar (≈Rp25 triliun) dengan tambahan US$4 miliar hingga 2033.
- Proyek ini diproyeksikan menghasilkan 750 juta pon tembaga dan 735 000 ons emas per tahun.
PT FreeportIndonesia (PTFI) mengumumkan bahwa tambang bawah tanah baru di kawasan Grasberg, PapuaTengah, akan mulai berproduksi pada 2029. Proyek yang diberi nama Kucing Liar ini diharapkan menjadi tulang punggung produksi tembaga dan emas selama dekade berikutnya.
Presiden Direktur PTFI, TonyWenas, menyatakan bahwa hingga 30 Juni 2026 perusahaan telah menyalurkan investasi sebesar US$1,4 miliar (sekitar Rp25 triliun dengan kurs Rp17.923 per dolar). Ia menambahkan bahwa fase pengembangan kini sedang berjalan, dengan target ramp‑up produksi mencapai 130.000 metrik ton bijih per hari pada 2030.
Jika proyek mencapai kapasitas penuh, Kucing Liar diperkirakan akan menghasilkan rata‑rata 750 juta pon tembaga dan 735.000 ons emas per tahun. Angka ini tidak hanya memperkuat posisi Freeport di kawasan Grasberg, tetapi juga memberikan jaminan pasokan logam strategis bagi industri global yang tengah menghadapi tekanan permintaan.
Analisis Pakar
Secara makro, investasi sebesar US$1,4 miliar dalam satu proyek tambang menandakan komitmen jangka panjang Freeport terhadap Indonesia, khususnya wilayah Papua yang selama ini menjadi hotspot geopolitik dan sosial. Dari perspektif bisnis, proyek Kucing Liar akan menambah diversifikasi portofolio produksi, mengurangi ketergantungan pada tambang terbuka yang semakin terbatasi oleh regulasi lingkungan dan sosial.
Namun, tantangan tidak hanya teknis. Ketersediaan tenaga kerja terampil, infrastruktur logistik, serta stabilitas keamanan di daerah Mimika harus dikelola secara proaktif. Pemerintah daerah dan pusat perlu memastikan bahwa manfaat ekonomi—seperti penciptaan lapangan kerja dan pendapatan daerah—terdistribusi secara adil, sehingga risiko konflik sosial dapat diminimalisir.
Secara finansial, tambahan investasi US$4 miliar hingga 2033 menambah beban modal yang signifikan. Investor harus menilai rasio pengembalian (IRR) proyek ini dalam konteks volatilitas harga tembaga dan emas global. Jika harga logam tetap berada pada level historis atau lebih tinggi, proyek ini dapat menghasilkan margin yang menarik; sebaliknya, penurunan harga dapat menekan profitabilitas dan menunda payback period.
Terakhir, kebijakan pemerintah terkait pajak mineral dan pembagian hasil (PPH, royalty) akan menjadi faktor penentu bagi profitabilitas akhir. Transparansi dalam kontrak dan kepatuhan terhadap standar ESG (Environmental, Social, Governance) akan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan investor internasional serta memastikan kelangsungan operasi jangka panjang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan tambang Kucing Liar akan mulai berproduksi?
A: Operasional awal dijadwalkan pada tahun 2029, dengan ramp‑up produksi mencapai kapasitas penuh pada 2030. - Q: Berapa total investasi yang diperlukan untuk proyek ini?
A: Investasi awal US$1,4 miliar (≈Rp25 triliun) dengan tambahan US$4 miliar (≈Rp71,7 triliun) hingga 2033. - Q: Berapa produksi tembaga dan emas yang diproyeksikan?
A: Sekitar 750 juta pon tembaga dan 735.000 ons emas per tahun ketika tambang beroperasi penuh.


