Skandal Narkoba di Udara: Pilot Malaysia Ditangkap, Polri Gandeng Polisi Malaysia Selidiki Jaringan Besar
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Pilot Malaysia Airlines Mohd Saufi bin Othman tertangkap di Bandara SoekarnoâHatta dengan 25 kg ekstasi dan paket sabu.
- Bareskrim Polri akan bekerja sama dengan PDRM Malaysia untuk menyelidiki jaringan penyelundupan narkoba lintas batas.
- Tim JSJN PDRM dijadwalkan berada di Jakarta 11â15 Agustus, fokus pada sumber pasokan, metode penyelundupan, dan kaitan dengan sindikat Indonesia.
Jakarta, 10 Agustus 2026 â Bareskrim Polri mengumumkan akan melakukan investigasi bersama Polis Di Raja Malaysia (PDRM) untuk mengusut kasus penyelundupan narkoba yang melibatkan pilot Mohd Saufi bin Othman. Pengumuman ini datang setelah penangkapan dramatis di Bandara SoekarnoâHatta pada Selasa (28/7) malam.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, menjelaskan bahwa tim JSJN PDRM akan tiba di Jakarta pada 11â15 Agustus untuk melakukan penyidikan bersama. "Betul, besok tim dari Kepolisian Malaysia khususnya dari Satuan Narkotika akan mendatangi Bareskrim Polri untuk melakukan investigasi bersama," tulisnya lewat pesan singkat.
Penangkapan Mohd Saufi bin Othman dilakukan oleh tim gabungan Bareskrim Polri dan Bea Cukai di Terminal 3 Bandara SoekarnoâHatta sekitar pukul 23.30 WIB. Dari pemeriksaan ditemukan 70.114 butir ekstasi (sekitar 25 kilogram) serta satu paket sabu seberat 2,7 gram yang tersembunyi dalam koper. Lebih mengkhawatirkan, penyelidikan mengungkap bahwa pelaku telah berhasil menyelundupkan narkoba ke Indonesia sebanyak dua kali sebelumnya: satu kiriman sabu ke Sabah dan 7 kilogram sabu ke Jakarta.
Selain barang bukti, hasil tes narkoba menunjukkan bahwa Mohd Saufi positif mengkonsumsi sabu, ekstasi, dan kokain, menegaskan bahwa ia bukan sekadar kurir, melainkan pelaku yang terlibat aktif dalam perdagangan narkotika.
Datuk Hussein Omar Khan, Direktur Satuan Kriminal Narkotika PDRM, menegaskan bahwa tim investigasi dan intelijen akan mengumpulkan informasi tentang jaringan sindikat, sumber pasokan, serta cara pelaku melewati pemeriksaan keamanan di KLIA. "Kami akan memeriksa seluruh rantai perdagangan narkoba, mulai dari produksi, distribusi, hingga cara penyelundupan yang berhasil menembus kontrol bandara," ujarnya.
Analisis Pakar
Kasus ini menyoroti celah keamanan yang menganga di dua titik strategis: bandara internasional Indonesia dan Malaysia. Meskipun prosedur pemeriksaan bagasi dan penumpang telah ditingkatkan pasca beberapa insiden sebelumnya, kemampuan pelaku untuk menyembunyikan lebih dari 25 kilogram ekstasi dalam satu koper menunjukkan adanya kelemahan intelijen operasional dan koordinasi lintasânegara.
Kerjasama Bareskrim Polri dengan PDRM seharusnya bukan sekadar formalitas. Tanpa pertukaran data realâtime, analisis forensik bersama, serta operasi gabungan di lapangan, upaya memutus jaringan sindikat akan tetap setengah hati. Pemerintah harus mempertimbangkan pembentukan unit khusus yang beroperasi 24 jam, mengintegrasikan teknologi pemindaian canggih, serta memperkuat jaringan intelijen antarâagen.
Lebih jauh, fakta bahwa pilot berpengalaman terlibat menimbulkan pertanyaan tentang proses rekrutmen dan pemantauan personel penerbangan. Apakah maskapai sudah melakukan pemeriksaan latar belakang yang memadai? Apakah ada indikasi korupsi atau penyuapan di dalam industri penerbangan yang memungkinkan pelaku mengakses jalur logistik yang aman?
Politik narkotika di kawasan Asia Tenggara memang kompleks, dengan jaringan yang beroperasi melintasi perbatasan negara. Kasus ini harus menjadi peringatan bagi otoritas untuk memperkuat perjanjian ekstradisi, memperluas basis data kriminal regional, dan menegakkan sanksi yang lebih berat bagi pelaku yang berada di posisi strategis seperti pilot. Hanya dengan pendekatan holistikâyang menggabungkan penegakan hukum, kebijakan publik, dan reformasi institusionalâkita dapat memutus rantai pasokan narkoba yang mengancam generasi muda.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa banyak narkoba yang ditemukan pada pilot Mohd Saufi bin Othman?
A: Sekitar 70.114 butir ekstasi (â25 kg) dan satu paket sabu 2,7 gram. - Q: Apa peran PDRM dalam penyelidikan?
A: Tim Satuan Kriminal Narkotika (JSJN) PDRM akan berada di Jakarta 11â15 Agustus untuk mengumpulkan intelijen, mengidentifikasi jaringan sindikat, dan membantu mengungkap sumber pasokan narkoba. - Q: Bagaimana pelaku dapat melewati pemeriksaan keamanan di bandara?
A: Penyidikan masih berlangsung, namun indikasi menunjukkan adanya celah dalam prosedur pemeriksaan bagasi dan kemungkinan adanya bantuan internal atau teknik penyamaran yang canggih.


