Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Menantu Sultan Brunei Kehilangan Gelar Kerajaan: Apa Penyebabnya?

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Menantu Sultan Brunei Kehilangan Gelar Kerajaan: Apa Penyebabnya?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pengiran Raabi'atul Adawiyyah, menantu Sultan Brunei, dicabut gelar kerajaannya oleh Grand Chamberlain pada 8 Agustus.
  • Penarikan gelar didasarkan pada tuduhan perilaku tidak pantas yang merusak reputasi istana, namun detail spesifik tidak diungkapkan.
  • Pernikahan Raabi'atul dengan Pangeran Abdul Malik pada 2015 menghasilkan empat anak, dan kini keluarga kerajaan menghadapi sorotan publik.

Sebuah pernyataan resmi dari kantor Grand Chamberlain Brunei mengonfirmasi pencabutan gelar kerajaan Pengiran Raabi'atul Adawiyyah pada Sabtu, 8 Agustus. Penjabat Kepala Protokol Kerajaan, Pengiran Haji Raffizanna Pengiran Haji Razali, menyatakan bahwa keputusan tersebut merupakan titah langsung dari Sultan Hassanal Bolkiah, yang menilai perilaku menantu Sultan tersebut tidak sesuai dengan standar moral dan etika keluarga kerajaan.

Meski tidak ada rincian publik tentang tindakan spesifik yang dianggap melanggar norma, pernyataan resmi menekankan bahwa perilaku tersebut "mencoreng nama baik kerajaan" dan menunjukkan kurangnya rasa hormat kepada Sultan. Keputusan ini menandai langkah tegas dalam menjaga citra monarki Brunei, yang selama ini dikenal dengan tradisi dan nilai-nilai konservatif.

Raabi'atul, yang lahir pada 1992 sebagai anak kedua dari sepuluh bersaudara, memiliki latar belakang pendidikan di sekolah-sekolah bergengsi seperti Al‑Falaah School, Rimba I Primary School, serta Menglait dan Rimba Secondary Schools. Setelah menyelesaikan pendidikan pada 2012, ia meniti karier di sektor teknologi informasi, bekerja sebagai System Data Analyst di sebuah perusahaan konsultan IT terkemuka, kemudian menjadi instruktur IT di HAD Technologies.

Selain karier profesional, Raabi'atul aktif dalam kegiatan keagamaan, termasuk kompetisi membaca Al‑Qur'an pada masa remaja. Pernikahannya dengan Pangeran Abdul Malik pada April 2015 di Istana Nurul Iman mendapat sorotan media internasional, terutama karena busana pernikahan yang dihiasi emas, berlian, dan zamrud.

Setelah pernikahan, Raabi'atul beberapa kali mendampingi suaminya dalam tugas resmi, termasuk kunjungan ke Singapura pada 2016 dan berbagai acara dalam negeri sebagai wakil pribadi Sultan. Namun, pencabutan gelar ini menimbulkan pertanyaan tentang dinamika internal keluarga kerajaan dan implikasinya terhadap persepsi publik terhadap monarki Brunei.

Analisis Pakar

Pengambilan keputusan untuk mencabut gelar kerajaan menantu Sultan bukanlah tindakan yang diambil secara sembarangan. Dalam konteks monarki absolut seperti Brunei, simbol-simbol kehormatan seperti gelar pengiran memiliki nilai politik dan sosial yang signifikan. Dengan mencabut gelar tersebut, Sultan Hassanal Bolkiah tidak hanya menegakkan standar moral, tetapi juga mengirimkan pesan kuat kepada anggota keluarga dan masyarakat bahwa pelanggaran etika tidak akan ditoleransi, terlepas dari kedudukan keluarga.

Langkah ini juga dapat dilihat sebagai upaya pre‑emptif untuk melindungi citra institusi monarki di era digital, di mana rumor dan skandal dapat menyebar dengan cepat. Tanpa transparansi penuh mengenai tuduhan yang mendasari, pemerintah Brunei tampaknya memilih pendekatan yang lebih tertutup, mengandalkan otoritas tradisional untuk mengendalikan narasi. Hal ini mencerminkan ketegangan antara kebutuhan akan akuntabilitas modern dan keinginan mempertahankan kontrol internal.

Dari perspektif hubungan internasional, peristiwa ini menyoroti tantangan yang dihadapi monarki kecil dalam menjaga legitimasi di mata dunia. Brunei, yang mengandalkan citra stabilitas dan konservatisme untuk menarik investasi dan dukungan diplomatik, harus menyeimbangkan antara menegakkan nilai-nilai tradisional dan mengadopsi standar transparansi yang diharapkan oleh komunitas global.

Ke depan, dinamika internal keluarga kerajaan dapat memengaruhi kebijakan domestik, terutama dalam bidang kebudayaan dan pendidikan, serta memicu diskusi publik tentang peran perempuan dalam struktur monarki. Pengawasan lebih lanjut terhadap bagaimana kerajaan mengelola krisis internal ini akan menjadi indikator penting bagi analis politik dan pengamat regional.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa gelar kerajaan Pengiran Raabi'atul Adawiyyah dicabut?
    A: Karena dianggap melakukan perilaku tidak pantas yang mencoreng nama baik kerajaan, menurut pernyataan resmi dari Grand Chamberlain atas perintah Sultan Hassanal Bolkiah.
  • Q: Apa peran Grand Chamberlain dalam keputusan ini?
    A: Grand Chamberlain bertanggung jawab atas protokol kerajaan dan menyampaikan keputusan Sultan, termasuk pencabutan gelar, sebagai otoritas administratif tertinggi dalam urusan kebangsawanan.
  • Q: Bagaimana pencabutan gelar ini dapat memengaruhi citra monarki Brunei?
    A: Langkah tersebut dapat memperkuat persepsi bahwa monarki menegakkan standar moral yang ketat, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan penanganan isu internal keluarga kerajaan.
Meow! Tanya Nesi!
😸