Paradoks Industri Susu RI: Tumbuh Melejit 29% Berkat Program MBG, Tapi 75% Masih 'Disuapi' Impor

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Paradoks Industri Susu RI: Tumbuh Melejit 29% Berkat Program MBG, Tapi 75% Masih 'Disuapi' Impor
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Industri pengolahan susu segar mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 29,89% (yoy) pada Kuartal II-2026, didorong oleh stimulus program Makan Bergizi Gratis (MBG).
  • Meskipun permintaan melonjak, peternak lokal baru mampu memenuhi 25% kebutuhan nasional, memaksa Indonesia mengimpor 75% sisa kebutuhan susu.
  • Stagnasi produksi lokal di angka 820,8 ribu ton memicu lonjakan impor hingga 81%, mempertegas perlunya penambahan hingga 2 juta ekor sapi perah.

Sektor industri pengolahan susu segar di Indonesia tengah menikmati masa keemasannya. Sepanjang Kuartal II-2026, sektor ini berhasil mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 17,2% secara kuartalan (qtq) atau melonjak hingga 29,89% secara tahunan (yoy). Lonjakan signifikan ini dipicu oleh peningkatan permintaan yang masif, khususnya untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis yang dicanangkan pemerintah.

Namun, di balik angka pertumbuhan yang menggiurkan ini, tersimpan pekerjaan rumah (PR) besar yang belum terselesaikan. Menurut data dari Commodity Expert CNBC Indonesia Research, produksi susu dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 25% dari total kebutuhan nasional. Artinya, sisa 75% kebutuhan terpaksa dipasok melalui skema impor susu dari luar negeri.

Kondisi ini diperparah oleh stagnasi produksi susu nasional pada tahun 2025 yang tertahan di angka 820,8 ribu ton, sementara volume impor justru meroket hingga 81%. Guna menekan ketergantungan impor, pemerintah sebenarnya telah mendatangkan 15.000 ekor sapi bunting pada tahun 2025, yang menggenapkan populasi sapi perah nasional menjadi 500.000 ekor. Sayangnya, angka ini masih jauh dari target ideal. Indonesia membutuhkan tambahan minimal 1 hingga 2 juta ekor sapi perah produktif untuk bisa benar-benar mandiri secara pasokan.

Analisis Pakar

Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat fenomena ini sebagai 'paradoks pertumbuhan' yang sangat klasik. Di satu sisi, kita melihat pertumbuhan sektor pengolahan susu yang meroket hampir 30% sebagai sinyal positif dari sisi konsumsi (demand-side). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti menjadi mesin pertumbuhan baru yang sangat kuat bagi industri makanan dan minuman. Namun, di sisi lain, ketidakmampuan sektor hulu (supply-side) untuk mengimbangi lonjakan permintaan ini adalah alarm keras bagi ketahanan pangan nasional kita.

Ketika 75% dari kebutuhan bahan baku susu masih harus diimpor, maka stimulus fiskal yang digelontorkan pemerintah melalui program MBG sebagian besar justru mengalir ke luar negeri—dinikmati oleh para peternak di Selandia Baru atau Australia, bukan peternak lokal kita. Ini adalah kebocoran ekonomi (economic leakage) yang cukup masif. Pertumbuhan industri pengolahan susu yang tinggi ini semu jika nilai tambahnya tidak berputar di dalam ekosistem domestik.

Mengapa produksi susu lokal kita stagnan di angka 820,8 ribu ton? Masalahnya bukan sekadar jumlah sapi, melainkan masalah struktural yang mendalam. Peternak rakyat kita dihadapkan pada tingginya biaya pakan berkualitas, keterbatasan lahan untuk hijauan, minimnya teknologi pemerahan yang higienis, serta rantai pasok dingin (cold chain) yang belum terintegrasi. Mengimpor 15.000 ekor sapi bunting hanyalah obat penenang jangka pendek. Tanpa pembenahan ekosistem hulu secara menyeluruh, sapi-sapi impor tersebut tidak akan mencapai produktivitas optimalnya di iklim tropis kita.

Pemerintah harus segera menggeser fokus dari sekadar memfasilitasi impor menjadi memberikan insentif agresif pada sektor hulu. Kita memerlukan skema pembiayaan khusus dengan bunga rendah untuk koperasi peternak, subsidi pakan berkualitas, dan kemitraan wajib yang saling menguntungkan antara industri pengolahan susu raksasa dengan peternak lokal. Jika kita gagal membenahi sektor hulu ini, industri susu yang digadang-gadang menjadi bintang baru ekonomi hanya akan menjadi beban baru bagi neraca perdagangan kita.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa industri susu Indonesia mengalami pertumbuhan pesat di Kuartal II-2026?
A: Pertumbuhan pesat sebesar 29,89% (yoy) ini didorong oleh lonjakan permintaan susu segar untuk menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi pemerintah.

Q: Berapa persen kebutuhan susu nasional yang saat ini dipenuhi oleh peternak lokal?
A: Saat ini, produksi susu domestik baru mampu memenuhi sekitar 25% dari total kebutuhan nasional, sedangkan 75% sisanya masih harus diimpor.

Q: Apa solusi jangka panjang untuk mengatasi ketergantungan impor susu di Indonesia?
A: Indonesia perlu menambah populasi sapi perah produktif sebanyak 1 hingga 2 juta ekor, meningkatkan kualitas pakan, serta memodernisasi infrastruktur peternakan rakyat agar produktivitas susu lokal meningkat tajam.

Meow! Tanya Nesi!
😸