Menteri Sosial Targetkan 150 Ribu Anak di Sekolah Rakyat 2027: Janji Besar, Tantangan Lebih Besar

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Menteri Sosial Targetkan 150 Ribu Anak di Sekolah Rakyat 2027: Janji Besar, Tantangan Lebih Besar
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Saifullah Yusuf menargetkan 150.000 anak masuk Sekolah Rakyat pada 2027.
  • Saat ini 165 gedung beroperasi, melayani sekitar 43.000 siswa; rencana penambahan 100 gedung baru pada 2026.
  • Program fokus pada anak prasejahtera, putus sekolah, dan anak jalanan, namun proses penjangkauan masih memakan waktu dan sumber daya.

Jakarta, 8 Agustus 2024 – Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengumumkan ambisi ambisius: menambah jumlah peserta Sekolah Rakyat menjadi 150.000 anak pada tahun 2027. Pernyataan itu disampaikan pada peresmian Sekolah Rakyat Rintisan di kawasan Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug, Tangerang, Banten.

Menurut Menteri, setiap unit Sekolah Rakyat dirancang untuk menampung kira‑kira 2.000 siswa. Dengan 165 gedung yang sudah beroperasi, total anak yang terlayani saat ini baru mencapai 43.000. Untuk menutup kesenjangan, Kementerian Sosial berencana menambah 100 bangunan baru pada 2026, yang diklaim akan lebih luas, layak, dan memadai.

Saifullah menegaskan bahwa pencapaian target 150.000 siswa bergantung pada selesainya pembangunan fasilitas di seluruh kota dan kabupaten sesuai jadwal. "Tahun depan, sesuai arahan Presiden, gedung‑gedung sudah siap, dan kami akan menambah lebih banyak lagi setiap tahunnya," ujarnya.

Namun, proses perekrutan peserta tidak semudah menunggu anak datang ke kelas. "Para pendamping kami harus menghabiskan hingga 24 jam untuk melacak keberadaan anak‑anak yang menjadi sasaran," kata Saifullah, menyoroti tantangan logistik dalam menjangkau anak jalanan dan putus sekolah.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menambahkan, program Sekolah Rakyat merupakan upaya strategis pemerintah untuk menurunkan angka putus sekolah, khususnya di kalangan keluarga prasejahtera. "Kami ingin memastikan anak‑anak yang belum memiliki akses pendidikan layak segera mendapatkan penginapan, makan, kesehatan, dan perlengkapan belajar," tegasnya.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua hal utama yang mengancam realisasi target ambisius ini. Pertama, kapasitas fiskal. Pembangunan 100 gedung baru dalam satu tahun menuntut alokasi anggaran yang signifikan, sementara anggaran Kementerian Sosial telah mengalami pemotongan dalam beberapa tahun terakhir. Tanpa dukungan keuangan yang stabil, kualitas fasilitas—dari ruang kelas hingga sanitasi—berisiko terkompromi.

Kedua, mekanisme penjangkauan. Mengandalkan pendamping untuk mencari anak‑anak selama 24 jam per kasus menandakan kurangnya basis data terpusat. Tanpa sistem informasi yang terintegrasi antara Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan, dan pemerintah daerah, upaya ini akan terus menjadi pekerjaan keras yang tidak skalabel.

Selanjutnya, kualitas pendidikan menjadi pertanyaan kritis. Sekolah Rakyat Rintisan memang menawarkan akses, namun tanpa guru yang terlatih, kurikulum yang relevan, dan monitoring mutu, risiko ā€œsekolah kosongā€ atau ā€œsekolah tidak efektifā€ akan meningkat. Pemerintah harus menyiapkan program pelatihan guru, serta audit independen untuk memastikan standar pembelajaran terpenuhi.

Akhirnya, keberlanjutan. Anak‑anak yang berhasil masuk ke Sekolah Rakyat harus dapat melanjutkan ke jenjang berikutnya. Tanpa jalur transisi yang jelas ke sekolah formal, program ini berpotensi menjadi ā€œjembatan sementaraā€ yang tidak menghasilkan dampak jangka panjang pada penurunan angka putus sekolah. Pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan ini dengan reformasi sistem pendidikan nasional secara menyeluruh.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa banyak gedung Sekolah Rakyat yang sudah beroperasi saat ini?
    A: Saat ini terdapat 165 gedung yang melayani sekitar 43.000 siswa.
  • Q: Apa target jumlah siswa yang ingin dicapai pada 2027?
    A: Menteri Sosial menargetkan 150.000 anak dapat mengikuti program Sekolah Rakyat.
  • Q: Bagaimana pemerintah memastikan kualitas pendidikan di Sekolah Rakyat?
    A: Pemerintah berjanji menambah fasilitas, melatih pendamping, dan melakukan monitoring, namun detail implementasinya masih belum dipublikasikan.
Meow! Tanya Nesi!
😸