Bagaimana UMKM Fesyen Bandung Menggandakan Omzet dan Membuka Pasar Global lewat Binaan Pertamina

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Bagaimana UMKM Fesyen Bandung Menggandakan Omzet dan Membuka Pasar Global lewat Binaan Pertamina
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Narita Shibori, UMKM fesyen asal Bandung, melipatgandakan omzet hampir tiga kali lipat setelah bergabung dengan program pembinaan Pertamina pada 2019.
  • Kolaborasi inklusif dengan Rumah Hasanah melibatkan 12 penyandang disabilitas, menyumbang sekitar 10 % produksi.
  • Produk mereka kini dipamerkan di ajang internasional seperti DMI Utrecht Belanda, menembus pasar global dan memperkuat citra kreatif Indonesia.

Di balik keberhasilan Narita Shibori, terdapat tantangan klasik UMKM: keterbatasan modal, akses pasar, dan kontrol kualitas saat skala produksi meningkat. Pendiri sekaligus kreator, Anarita, memulai usaha dari garasi rumah dengan teknik pewarnaan kain shibori yang unik. Tanpa dukungan struktural, banyak potensi serupa yang terhenti pada titik impas.

Program pembinaan Pertamina yang dimulai pada 2019 menjadi katalisator utama. Melalui UMK Academy, Narita Shibori menerima modal kerja, pelatihan manajemen produksi, serta peluang pameran baik di dalam maupun luar negeri. Anarita menyebut, “Kami mendapat modal kerja untuk produksi, bantuan pemasaran skala nasional hingga internasional, serta pelatihan melalui Pertamina Academy.”

Hasilnya, omzet perusahaan melonjak hampir tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Produk mereka kini rutin hadir di pameran bergengsi seperti Inacraft, SMEXPO, Kriya Nusa, dan Tunjukkan Indonesiamu. Pada 2024, Narita Shibori berkesempatan menampilkan koleksi di DMI Utrecht, Belanda—langkah strategis untuk menguji daya saing produk Indonesia di pasar Eropa.

Namun, pertumbuhan bisnis bagi Anarita tidak hanya diukur dari angka penjualan. Ia menekankan pentingnya dampak sosial melalui kolaborasi dengan Rumah Hasanah. Selama tiga tahun, 12 penyandang disabilitas terlibat dalam proses produksi, menghasilkan fashion, tote bag, dan rencana pengembangan home décor. “Karya mereka memang layak dihargai,” tegas Anarita, menegaskan bahwa inklusivitas menjadi nilai jual sekaligus tanggung jawab sosial.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa pembinaan UMKM adalah bagian integral dari strategi korporasi untuk memperluas dampak ekonomi nasional. “Pembinaan kami tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas bisnis, tetapi juga membuka akses pembiayaan, pasar, dan jejaring usaha agar UMKM mampu tumbuh lebih kompetitif sekaligus menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya dalam rilis resmi pada 8 Agustus 2026.

Statistik nasional menunjukkan UMKM menyumbang 60,5 % PDB dan menyerap 97 % tenaga kerja, namun kontribusi ekspor masih rendah di angka 15,7 %. Program seperti yang dijalankan Pertamina menjadi contoh konkret bagaimana sinergi antara korporasi, pemerintah, dan pelaku UMKM dapat mengubah dinamika tersebut, sekaligus mendukung agenda SDG 8 dan SDG 10.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro dan pengamat industri kreatif, saya melihat dua dimensi utama dari kasus Narita Shibori. Pertama, peran strategis korporasi besar dalam ekosistem UMKM. Pendekatan Pertamina bukan sekadar CSR; ia mengintegrasikan pembiayaan, pelatihan, dan jaringan pasar—model yang dapat direplikasi oleh sektor lain, terutama di industri energi dan manufaktur. Dengan menurunkan biaya transaksi dan mengurangi asimetri informasi, program ini mempercepat konversi potensi menjadi produktivitas nyata.

Kedua, inklusivitas sebagai pendorong nilai tambah. Kolaborasi dengan Rumah Hasanah tidak hanya menambah dimensi sosial, tetapi juga membuka segmen pasar yang semakin menghargai etika produksi. Di era konsumen yang sadar akan keberlanjutan, cerita di balik produk menjadi aset branding yang kuat. Hal ini dapat meningkatkan margin dan memperluas basis pelanggan, terutama di pasar premium internasional.

Namun, tantangan tetap ada. Skalabilitas produksi harus diimbangi dengan kontrol kualitas yang ketat, terutama ketika memasuki pasar regulasi tinggi seperti Uni Eropa. Selain itu, ketergantungan pada satu sponsor korporat dapat menimbulkan risiko jika kebijakan internal berubah. Oleh karena itu, diversifikasi sumber pendanaan dan penguatan rantai pasokan menjadi keharusan.

Secara makro, peningkatan kontribusi UMKM terhadap ekspor akan membutuhkan ekosistem yang lebih terintegrasi—dari inkubator, lembaga keuangan, hingga platform digital yang memfasilitasi pemasaran lintas batas. Program Pertamina adalah langkah awal yang patut diapresiasi, namun perlu diikuti oleh kebijakan publik yang memperkuat akses kredit, standar sertifikasi, dan insentif pajak bagi UMKM yang menembus pasar global.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Bagaimana cara UMKM dapat bergabung dengan program pembinaan Pertamina?
    A: UMKM dapat mendaftar melalui portal resmi Pertamina atau melalui mitra institusi keuangan yang berpartisipasi dalam program tersebut.
  • Q: Apa manfaat utama kolaborasi dengan Rumah Hasanah bagi UMKM?
    A: Kolaborasi memberikan akses tenaga kerja inklusif, meningkatkan nilai sosial produk, dan membuka peluang pasar yang menghargai keberlanjutan.
  • Q: Seberapa besar kontribusi UMKM terhadap ekspor Indonesia saat ini?
    A: UMKM menyumbang sekitar 15,7 % dari total ekspor Indonesia, menunjukkan ruang signifikan untuk peningkatan melalui inovasi dan akses pasar.
Meow! Tanya Nesi!
😸