Air Mata Ibu di Sekolah Rakyat: Harapan Baru di Balik Kebijakan Kemensos

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Air Mata Ibu di Sekolah Rakyat: Harapan Baru di Balik Kebijakan Kemensos
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Ribuan anak kurang mampu di Tangerang menanti masa depan lewat Sekolah Rakyat yang berasrama 24 jam.
  • Ibu Siti Yuliana menangis haru saat Menteri Sosial Saifullah Yusuf dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya hadir dalam acara MPLS.
  • Kemensos menargetkan 200 titik sekolah permanen hingga akhir 2026, masing‑masing menampung 2.000 siswa dari SD hingga SMA.

Suasana ruang makan Gedung Politeknik Penerbangan Indonesia Curug, Banten, berubah menjadi arena emosi pada Sabtu (8/8/2026) ketika ribuan orang menyaksikan peluncuran Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 (SRT). Tidak hanya sekadar seremoni, acara itu menandai titik balik bagi puluhan anak dari keluarga miskin yang kini dapat menatap pendidikan berkelanjutan.

Di antara mereka, Siti Yuliana, seorang ibu rumah tangga asal Jakarta Utara, tak dapat menahan air matanya. Ia mengungkapkan keterbatasan ekonomi keluarga—suami yang hanya bekerja sebagai buruh harian lepas—yang hampir menghalangi putrinya, Putri Nurdiyanah, melanjutkan sekolah. Keputusan berani diambil: mengirimkan Putri ke asrama sekolah, berharap bimbingan guru dan wali asrama dapat menyalakan kembali harapan.

"Saya ridho anak saya diasramakan dengan bimbingan guru dan wali asrama," ujar Yuliana dengan tegas. Pernyataan itu mencerminkan kebijakan transformatif Kemensos di bawah pimpinan Saifullah Yusuf. Lebih dari sekadar menyediakan pendidikan gratis, program ini menekankan model asrama 24 jam yang mengintegrasikan kurikulum formal, pendampingan karakter, dan pembentukan kebiasaan hidup positif.

Menurut Menteri Sosial, Gus Ipul, "Sekolah Rakyat adalah gagasan langsung dari Presiden Prabowo, pertama kali dilaksanakan sejak Indonesia merdeka, khusus untuk keluarga paling tidak mampu yang selama ini terpinggirkan oleh pembangunan". Kebijakan ini berupaya memutus stigma bahwa kualitas pendidikan hanya dapat diakses oleh kalangan menengah ke atas.

Keberhasilan awal sudah tampak. Misfan Nazriel Faturrahman, siswa asal Kabupaten Bekasi, yang dulu kesulitan membaca kini tampil percaya diri sebagai MC berbahasa Inggris dan Indonesia. Prestasi serupa muncul di antara siswa yang sebelumnya tidak lancar membaca saat masuk kelas 1 SMA, menandakan peningkatan signifikan dalam literasi.

Implementasi program ini melibatkan sinergi pemerintah pusat, daerah, dan kementerian. Pemerintah daerah menyediakan lahan, sementara Kementerian Pekerjaan Umum membangun fasilitas permanen dengan dana APBN. Target ambisius: 100 titik sekolah permanen selesai tahun ini, dan tambahan 100 titik lagi pada Oktober 2026, masing‑masing menampung hingga 2.000 siswa dari SD hingga SMA.

Gubernur Banten, Andra Soni, memuji inisiatif ini sebagai oase bagi tingginya angka putus sekolah di provinsi tersebut. Ia menilai bahwa Sekolah Rakyat dapat memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya menilai bahwa kebijakan Kemensos ini bukan sekadar program sosial jangka pendek, melainkan upaya struktural yang menantang paradigma lama tentang pendidikan miskin. Model asrama 24 jam menuntut investasi besar—baik dalam infrastruktur maupun tenaga pendidik—yang selama ini menjadi penghalang utama bagi program serupa. Namun, dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan alokasi APBN yang signifikan, risiko kegagalan dapat diminimalisir.

Namun, tantangan utama tetap pada keberlanjutan operasional. Asrama memerlukan biaya operasional harian—makanan, kesehatan, keamanan—yang harus dijamin secara berkelanjutan. Tanpa mekanisme pendanaan yang jelas, ada potensi terjadinya penurunan kualitas layanan seiring waktu. Pemerintah perlu mengembangkan skema kemitraan dengan sektor swasta atau lembaga donor internasional untuk menambah sumber daya.

Selanjutnya, penting untuk mengawasi kualitas pendidikan yang diberikan. Sekolah berasrama sering kali terjebak pada pendekatan “pendidikan formal + asrama” tanpa memperhatikan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja. Integrasi program vokasi, magang, dan pelatihan soft skill harus menjadi bagian tak terpisahkan dari model ini, agar lulusan tidak hanya terdidik secara akademik tetapi juga siap bersaing.

Terakhir, transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci. Pengawasan independen oleh lembaga audit eksternal harus dilakukan secara rutin, dengan hasil yang dipublikasikan secara terbuka. Hanya dengan mekanisme pengawasan yang kuat, program ambisius ini dapat menghindari potensi korupsi atau penyalahgunaan dana publik yang selama ini menjadi catatan hitam dalam program sosial besar.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja kriteria siswa yang dapat masuk Sekolah Rakyat?
  • A: Siswa harus berasal dari keluarga tidak mampu (BPS‑4 atau lebih) dan lulus seleksi akademik serta psikologis yang diselenggarakan oleh Kemensos.
  • Q: Bagaimana pembiayaan operasional asrama di Sekolah Rakyat?
  • A: Biaya operasional ditanggung oleh APBN, dengan tambahan dukungan dari pemerintah daerah, sponsor swasta, dan program CSR.
  • Q: Kapan target 200 titik Sekolah Rakyat akan selesai?
  • A: 100 titik pertama dijadwalkan selesai pada akhir 2026, sementara 100 titik tambahan diharapkan selesai pada Oktober 2026.
Meow! Tanya Nesi!
😾