Presiden Prabowo Uji Genteng Bio‑Biomassa BRIN: Tahan Banting, Buka Peluang Pasar Atap Hijau
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Presiden Prabowo Subianto menguji ketahanan genteng inovatif buatan BRIN di Istana Merdeka.
- Genteng terbuat dari limbah biomassa, termasuk sabut kelapa, dirancang ringan, tahan lama, dan ramah lingkungan.
- Uji fisik (banting & menginjak) menunjukkan produk tetap utuh, menandakan potensi komersial untuk industri konstruksi hijau.
Presiden Prabowo Subianto pada Kamis, 6 Agustus 2026, meluangkan waktu bersama tim peneliti BRIN untuk menilai langsung hasil riset inovatif yang dipamerkan di Istana Merdeka. Fokus utama adalah genteng biomassa, sebuah material atap yang diproduksi dari limbah biomassa—termasuk serat sabut kelapa—yang menjanjikan kombinasi ringan, daya tahan tinggi, dan jejak karbon rendah.
Setelah peneliti menjelaskan bahwa struktur genteng dirancang agar tidak mudah pecah, Presiden Prabowo memutuskan untuk menguji klaim tersebut secara praktis. Ia membanting beberapa buah genteng dan kemudian menginjaknya dengan sepatu boots. Hasilnya? Semua unit tetap utuh tanpa retak atau pecah, menegaskan bahwa teknologi ini tidak sekadar teori laboratorium, melainkan siap diuji di lapangan.
Keberhasilan demonstrasi ini menambah kepercayaan pada ekosistem inovasi nasional, terutama dalam sektor konstruksi yang selama ini bergantung pada bahan tradisional seperti genteng tanah liat atau beton. Dengan bahan baku limbah biomassa, produsen dapat mengurangi biaya bahan mentah sekaligus menurunkan emisi CO₂, sejalan dengan agenda green building yang kini menjadi sorotan global.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, pengembangan genteng berbahan biomassa ini memiliki implikasi yang signifikan. Pertama, diversifikasi bahan baku mengurangi ketergantungan pada impor bahan konstruksi, yang selama ini menjadi beban neraca perdagangan. Kedua, penciptaan nilai tambah dari limbah pertanian—seperti sabut kelapa—menumbuhkan rantai pasok lokal, membuka peluang usaha bagi petani dan pengolah limbah di daerah pedesaan.
Dari perspektif bisnis, produk ini menawarkan keunggulan kompetitif yang jelas: biaya produksi yang lebih rendah, umur pakai yang panjang, dan sertifikasi lingkungan yang dapat menjadi nilai jual premium. Perusahaan konstruksi yang mengadopsi genteng ini dapat mengklaim kepatuhan terhadap standar green building seperti LEED atau Green Building Council Indonesia, yang semakin menjadi syarat dalam tender proyek publik.
Namun, tantangan tetap ada. Skalabilitas produksi memerlukan investasi pada fasilitas pengolahan biomassa yang masih terbatas, serta standar kualitas yang konsisten untuk memastikan performa di berbagai iklim Indonesia. Pemerintah perlu memperkuat regulasi dan insentif fiskal—misalnya pajak pengurangan untuk produk ramah lingkungan—agar adopsi massal dapat terjadi.
Secara jangka panjang, keberhasilan genteng biomassa dapat menjadi katalisator bagi ekosistem inovasi industri material bangunan di Indonesia. Jika didukung oleh kebijakan yang tepat, kita dapat menyaksikan transformasi dari industri konstruksi tradisional ke arah ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah genteng biomassa BRIN sudah memiliki sertifikasi standar internasional?
A: Saat ini genteng masih dalam fase uji laboratorium dan demonstrasi lapangan; proses sertifikasi ISO dan LEED sedang berlangsung. - Q: Bagaimana harga genteng biomassa dibandingkan dengan genteng konvensional?
A: Karena menggunakan limbah sebagai bahan baku, perkiraan harga dapat 10‑15% lebih rendah daripada genteng tanah liat atau beton, tergantung pada skala produksi. - Q: Apakah ada rencana produksi massal di dalam negeri?
A: BRIN bersama kementerian terkait sedang menyusun roadmap untuk pendirian pabrik pilot di beberapa provinsi, dengan target komersialisasi pada 2027.


