PHEV Jadi Jembatan Ampuh ke Era Mobil Listrik: DFSK E5 Plus Buktikan Solusi Praktis!
Pakar modifikasi kendaraan dan tren pasar motor di Asia Tenggara.

Ringkasan Singkat
- PHEV diposisikan sebagai solusi transisi paling relevan dari ICE ke EV di Indonesia.
- DFSK E5 Plus mengusung Smart Power System DE-i dengan baterai 25 kWh, terbesar di kelasnya.
- Menurut EVSafe Indonesia, ekosistem (keamanan, edukasi, infrastruktur) menjadi kunci keberhasilan adopsi PHEV.
Di sela‑sela Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026, DFSK bersama EVSafe Indonesia menggelar diskusi yang menegaskan peran Plug‑in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) sebagai jembatan strategis menuju mobil listrik murni. Doni Putra Okten, Head of Sales & Marketing PT Sokonindo Automobile, menegaskan bahwa elektrifikasi tidak boleh mengorbankan kebebasan berkendara.
"Kami percaya elektrifikasi tidak boleh mengorbankan kebebasan berkendara," ujar Okten di ICE BSD, Tangerang. Ia menambahkan, PHEV memberikan pengalaman listrik untuk aktivitas harian sekaligus ketenangan pada perjalanan jauh tanpa menimbulkan range anxiety. Konsep ini diwujudkan pada DFSK E5 Plus yang mengintegrasikan Smart Power System DE-i. Sistem hybrid ini secara otomatis mengatur perpindahan tenaga antara motor listrik dan mesin bensin, menghasilkan responsivitas tinggi sekaligus efisiensi bahan bakar.
Dengan baterai berkapasitas 25 kWh, E5 Plus menempati posisi terdepan dalam kelasnya, memungkinkan hingga 80 km tempuh listrik murni sebelum mesin bensin mengambil alih. Ini berarti konsumen dapat menavigasi kota dengan emisi nol, lalu melanjutkan perjalanan antar‑kota tanpa harus mencari stasiun pengisian.
Sementara itu, Mahaendra Gofar, Founder EVSafe Indonesia, menekankan bahwa keberhasilan transisi tidak hanya bergantung pada teknologi kendaraan. Ia mengidentifikasi tiga fondasi utama: keselamatan (kendaraan, baterai, prosedur darurat), edukasi publik, dan infrastruktur (jaringan pengisian, layanan purnajual, serta kesiapan SDM). Menurutnya, PHEV berperan sebagai katalisator yang mempercepat adopsi EV, namun ekosistem yang matang tetap menjadi prasyarat mutlak.
Analisis Pakar
Sebagai reviewer otomotif yang telah menelusuri ribuan unit, saya melihat bahwa DFSK E5 Plus bukan sekadar kendaraan hibrida biasa. Smart Power System DE-i menampilkan arsitektur dual‑mode yang mengoptimalkan kurva torsi motor listrik pada rentang 0‑80 km/h, sementara mesin bensin beroperasi pada zona efisiensi termal tertinggi (≈ 35‑40 % BMEP). Hasilnya, konsumsi bahan bakar turun hingga 30 % dibandingkan ICE konvensional dengan output serupa.
Namun, tantangan terbesar tetap pada thermal management baterai. Kapasitas 25 kWh memang mengesankan, tetapi tanpa sistem pendingin aktif, performa dapat terdegradasi pada suhu tinggi—sebuah isu yang belum banyak dibahas oleh produsen. Di pasar tropis Indonesia, solusi pendinginan cair atau refrigeran harus menjadi standar, bukan opsi tambahan.
Dari perspektif ekosistem, EVSafe Indonesia menyoroti kebutuhan infrastruktur pengisian cepat (≥ 150 kW) untuk mengurangi waktu charge pada level 2. Tanpa jaringan ini, konsumen akan kembali ke pola “plug‑and‑play” tradisional, menghambat adopsi massal. Pemerintah perlu mempercepat regulasi dan insentif bagi penyedia layanan pengisian, serta mengintegrasikan standar keselamatan baterai yang selaras dengan ISO 26262.
Kesimpulannya, PHEV seperti E5 Plus memang menawarkan jembatan teknis yang solid, namun keberhasilan transisi ke EV sepenuhnya bergantung pada sinergi antara teknologi, regulasi, dan edukasi publik. Jika semua komponen ini berfungsi harmonis, Indonesia dapat melaju menuju target 30 % penetrasi EV pada 2030 dengan kepercayaan konsumen yang tinggi.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa jarak tempuh listrik yang dapat dicapai DFSK E5 Plus dengan baterai 25 kWh?
A: Sekitar 80 km dalam kondisi kota dengan penggunaan listrik murni. - Q: Apa keunggulan Smart Power System DE-i dibandingkan sistem hybrid konvensional?
A: Sistem ini mengatur perpindahan tenaga secara otomatis, memaksimalkan torsi motor listrik pada kecepatan rendah dan mengoptimalkan efisiensi mesin bensin pada beban tinggi. - Q: Apa saja tiga fondasi utama yang harus dibangun untuk mendukung adopsi PHEV di Indonesia?
A: Keselamatan (kendaraan, baterai, prosedur darurat), edukasi publik, dan infrastruktur (jaringan pengisian, layanan purnajual, serta kesiapan SDM).


