Pertamina Dorong Kemandirian Desa lewat Solar Power: Kisah Local Hero Buka Peluang Bisnis Baru

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Pertamina Dorong Kemandirian Desa lewat Solar Power: Kisah Local Hero Buka Peluang Bisnis Baru
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Program Program Desa Energi Berdikari (DEB) telah menyalakan PLTS di 262 desa, menciptakan nilai ekonomi tahunan Rp5,65 miliar.
  • Local hero seperti Alfredo Nicholas Saputra Kolin dan Burhanudin mengelola pembangkit surya, memastikan pasokan air bersih serta meningkatkan produksi VCO.
  • Pertamina tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga melatih 128 operator PLTS bersertifikat, memperkuat kapasitas manusia untuk transisi energi berkelanjutan.

Setiap musim kemarau, warga Kampung Posa di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, bergantung pada air hujan atau sungai yang kualitasnya tidak menentu. Kekurangan air bersih menghambat aktivitas rumah tangga dan mengancam kesehatan. Namun, berkat Program Desa Energi Berdikari (DEB) yang digulirkan oleh Pertamina, perubahan signifikan kini terasa.

Alfredo Nicholas Saputra Kolin, yang dijuluki “local hero” DEB, bertanggung jawab memeriksa dan merawat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 3,3 kWp. Sistem ini menggerakkan unit Solar Water Treatment yang menyediakan air bersih secara berkelanjutan. “Kalau listrik dari PLTS berhenti, air bersih juga ikut berhenti. Karena itu saya harus memastikan semuanya berjalan dengan baik,” ujarnya pada 7 Agustus 2026.

Di Lombok Tengah, kisah serupa terjadi di Desa Tumpak. Burhanudin, pengelola PLTS 6,6 kWp, kini dapat menyalakan mesin produksi Virgin Coconut Oil (VCO) berkapasitas 5.500 W. Produktivitas kelompok tani hutan meningkat, membuka aliran pendapatan baru dan mendukung pengelolaan hutan yang lebih lestari.

Keberhasilan ini tidak lepas dari upaya pembinaan kapasitas manusia. Pertamina telah melatih lebih dari seratus local hero, memberikan sertifikasi Junior Operator PLTS yang diakui Kementerian ESDM. Pada 5‑7 Agustus 2026, 21 peserta di Balkondes Wringin Putih, Magelang, menyelesaikan pelatihan intensif yang mencakup regulasi ketenagalistrikan, metodologi sertifikasi, serta operasi dan pemeliharaan PLTS. Inisiatif ini juga mendukung upaya nasional untuk meningkatkan kemandirian energi Indonesia.

Menurut Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Muhammad Baron, “Keberlanjutan energi bersih bergantung pada kemampuan masyarakat untuk mengelolanya secara mandiri.” Dengan menumbuhkan ekosistem operator lokal, Pertamina memastikan bahwa infrastruktur tidak hanya menjadi proyek jangka pendek, melainkan motor penggerak ekonomi desa.

Analisis Pakar

Program DEB menandai pergeseran paradigma dalam strategi energi nasional: dari model sentralisasi ke desentralisasi berbasis komunitas. Dari perspektif bisnis, model ini menciptakan dua alur nilai utama. Pertama, penciptaan aset energi terbarukan yang dapat dimonetisasi melalui skema feed‑in‑tariff atau penjualan listrik ke jaringan mikro‑grid. Kedua, peningkatan produktivitas sektor agribisnis lokal—seperti VCO—yang sebelumnya terhambat oleh keterbatasan listrik. Kedua alur ini memperluas basis pajak daerah dan mengurangi ketergantungan pada subsidi energi fosil.

Namun, skalabilitas model DEB masih menghadapi tantangan. Ketersediaan modal untuk instalasi PLTS di desa‑desa terpencil, serta keberlanjutan operasional setelah masa garansi peralatan berakhir, memerlukan mekanisme pembiayaan inovatif—misalnya, skema leasing atau obligasi hijau berbasis komunitas. Selain itu, kualitas pelatihan harus dijaga agar tidak terjadi “brain drain” ke kota besar, yang dapat menggerogoti efektivitas program.

Dari sudut pandang kebijakan, integrasi DEB dengan agenda Asta Cita dan Sustainable Development Goals (SDGs) memberikan legitimasi politik yang kuat. Namun, pemerintah perlu memperkuat regulasi yang memfasilitasi penjualan listrik desa ke jaringan nasional, serta memberikan insentif pajak bagi perusahaan yang berinvestasi dalam infrastruktur energi desa. Tanpa kerangka regulasi yang jelas, potensi ekonomi yang terkandung dalam ribuan kilowatt‑hour yang dihasilkan akan tetap terkurung pada manfaat sosial semata.

Secara keseluruhan, keberhasilan DEB bukan sekadar cerita tentang air bersih atau lampu penerangan. Ini adalah contoh konkret bagaimana energi bersih dapat menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi inklusif, menggerakkan lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan pangan melalui peningkatan produktivitas pertanian. Jika model ini direplikasi secara konsisten, Indonesia dapat mengubah ribuan desa menjadi “pabrik energi hijau” yang sekaligus menjadi basis konsumsi domestik yang lebih mandiri.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu Program Desa Energi Berdikari (DEB)?
    A: DEB adalah inisiatif Pertamina yang membangun pembangkit energi terbarukan di desa-desa Indonesia, sekaligus melatih warga setempat menjadi operator PLTS bersertifikat.
  • Q: Bagaimana cara menjadi “local hero” dalam program ini?
    A: Warga yang terpilih mengikuti pelatihan teknis, lulus sertifikasi Junior Operator PLTS, dan kemudian bertanggung jawab atas operasi serta pemeliharaan pembangkit di desa masing‑masing.
  • Q: Apa dampak ekonomi DEB bagi desa?
    A: Program ini telah menghasilkan nilai ekonomi sekitar Rp5,65 miliar per tahun, meningkatkan produktivitas usaha lokal (seperti VCO), dan menciptakan lapangan kerja serta akses energi yang lebih terjangkau.
Meow! Tanya Nesi!
😸