CEO Krealogi Ungkap Mengapa Program Keberlanjutan Gagal: Fokus pada Angka Bukan Dampak Jangka Panjang

Ekonomi & Pasar
Dian KusumaDian Kusuma
Dian Kusuma
Dian Kusuma
Pakar Keuangan

Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

CEO Krealogi Ungkap Mengapa Program Keberlanjutan Gagal: Fokus pada Angka Bukan Dampak Jangka Panjang
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • CEO AzaleaAyuningtyas menyoroti kegagalan program Sustainability karena terlalu mengutamakan target kuantitatif.
  • Keberhasilan program ditentukan oleh adaptabilitas, konsistensi jangka panjang, dan kolaborasi yang kuat.
  • Pendampingan berkelanjutan memerlukan monitoring intensif, bukan sekadar pelatihan singkat.

Pada BangunBangsaConference2026 yang digelar di Menara Bank Mega, Jakarta, Azalea Ayuningtyas, CEO Krealogi, mengingatkan bahwa banyak inisiatif keberlanjutan terhenti karena terlalu terobsesi pada angka besar. "Kita ingin output yang penting angkanya besar, sebanyak‑banyak orang. Tapi itu yang membuat akhirnya tidak bertahan panjang," ujarnya dalam panel Understanding Why Social Programs Do Not Translate into Real and Lasting Impact.

Menurut Azalea, tiga pilar utama yang menentukan keberhasilan program sosial adalah:

  1. Adaptability: kemampuan menyesuaikan strategi dengan kondisi lapangan yang dinamis.
  2. Consistency: komitmen jangka panjang yang melampaui siklus kampanye tahunan.
  3. Partnership: kolaborasi lintas sektor yang mengintegrasikan pemerintah, swasta, dan komunitas.

Ia menegaskan bahwa pendekatan satu‑sistem yang kaku tidak akan mampu mengakomodasi keragaman kebutuhan masyarakat. Program yang benar‑benar berkelanjutan memerlukan monitoring dan evaluasi mendalam, bukan sekadar pelatihan tiga bulan yang diharapkan dapat bertahan selamanya. "Tidak sekadar kita memberikan pelatihan dalam tiga bulan terus kita berharap itu akan sustainable selamanya, tapi ada pendampingan yang lebih in‑depth dan berkala secara jangka panjang," pungkasnya.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat fenomena ini sebagai manifestasi klasik dari short‑termism dalam kebijakan publik dan korporasi. Ketika target KPI (Key Performance Indicator) dijadikan satu‑satunya tolok ukur keberhasilan, maka alokasi sumber daya cenderung terpusat pada aktivitas yang menghasilkan angka cepat—misalnya jumlah peserta pelatihan atau volume output—sementara dampak struktural yang memerlukan waktu bertahun‑tahun terabaikan. Akibatnya, investasi yang seharusnya menghasilkan nilai tambah jangka panjang justru menjadi beban fiskal yang tidak menghasilkan ROI (Return on Investment) yang realistis.

Selanjutnya, kegagalan adaptasi menandakan kurangnya design thinking dalam perancangan program. Setiap komunitas memiliki konteks sosial‑ekonomi yang unik; tanpa mekanisme feedback loop yang fleksibel, program akan cepat usang. Pendekatan yang lebih agile—misalnya pilot project dengan iterasi cepat dan skala bertahap—dapat mengurangi risiko kegagalan total dan meningkatkan peluang pencapaian dampak berkelanjutan.

Kolaborasi lintas sektor juga menjadi faktor penentu. Banyak perusahaan mengadopsi ESG (Environmental, Social, Governance) hanya sebagai label, tanpa mengintegrasikan nilai ESG ke dalam model bisnis inti. Jika Krealogi dapat mengubah ESG menjadi driver pertumbuhan—misalnya dengan menghubungkan insentif keuangan kepada mitra yang menunjukkan peningkatan metrik sosial—maka program keberlanjutan tidak lagi menjadi beban biaya, melainkan sumber pendapatan baru.

Akhirnya, monitoring yang mendalam harus didukung oleh data analytics yang kredibel. Penggunaan teknologi digital—seperti platform IoT untuk mengukur konsumsi energi atau aplikasi mobile untuk melacak partisipasi warga—bisa memberikan insight real‑time yang memungkinkan penyesuaian strategi secara proaktif. Tanpa data yang valid, evaluasi menjadi sekadar laporan naratif yang rentan bias.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa program keberlanjutan sering gagal meski memiliki target angka yang tinggi?
    A: Karena fokus pada angka mengabaikan faktor adaptasi, konsistensi, dan kolaborasi yang diperlukan untuk dampak jangka panjang.
  • Q: Apa tiga pilar utama keberhasilan program sosial menurut Azalea Ayuningtyas?
    A: Adaptability (kemampuan beradaptasi), Consistency (konsistensi jangka panjang), dan Partnership (kemitraan lintas sektor).
  • Q: Bagaimana perusahaan dapat menjadikan ESG sebagai sumber pendapatan, bukan beban biaya?
    A: Dengan mengaitkan insentif keuangan kepada mitra yang mencapai target sosial‑ekonomi, serta memanfaatkan data analytics untuk mengoptimalkan efisiensi operasional.
Meow! Tanya Nesi!
😾