BNPL Merajalela: Retailer Angkat Kartu Kredit, Konsumen Gak Sadar Hutang Meningkat 53% YoY
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) meningkat tajam, tumbuh 53,6% YoY pada Juni 2026.
- Hippindo menilai tren ini wajar dan setara dengan cicilan kartu kredit, namun tetap menyoroti risiko penurunan tabungan.
- Outstanding pembiayaan nonābank mencapai Rp160,7 triliun, dengan pinjaman online mendominasi (65%) dan paylater hanya 8% namun paling cepat naik.
Ketua Umum Budihardjo Iduansjah dari Hippindo menegaskan bahwa skema paylater tidak berbeda jauh dengan cicilan kartu kredit yang selama ini menjadi pendorong penjualan ritel. "Kalau ada promo 0% lewat kartu kredit, penjualan kami melambung," ujarnya dalam pertemuan di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, Jakarta, 6 Agustus 2026.
Penilaian tersebut muncul setelah Mandiri Spending Index mencatat indeks pinjaman naik menjadi 157,7, atau pertumbuhan 24,6% YoY. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia menunjukkan total outstanding pembiayaan nonābank mencapai Rp160,7 triliun pada Mei 2026, dengan paylater menyumbang Rp13,2 triliun.
Meski proporsi paylater masih kecil (8%), laju pertumbuhannya paling tinggi di antara produk pembiayaan lainnya. Sekretaris Jenderal Hippindo, Haryanto Pratantara, menilai skema cicilan ini memberi fleksibilitas konsumen dan mendorong konsumsi rumah tangga. Namun, ia mengakui belum memantau penurunan tabungan yang tercermin dalam Mandiri Saving Index yang turun 5,7% YoY.
Para pelaku pasar kini menantikan kebijakan stimulus pemerintah untuk mengembalikan daya beli, sementara risiko akumulasi hutang konsumen tetap menjadi sorotan utama regulator.
Analisis Pakar
Sebagai seorang ekonom makro, saya melihat fenomena BNPL sebagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, kemudahan kredit mikro meningkatkan daya beli dan mempercepat perputaran barang, yang pada gilirannya dapat menstimulasi pertumbuhan PDB jangka pendek. Di sisi lain, peningkatan eksposur hutang konsumenāterutama yang tidak memiliki riwayat kredit kuatāmenimbulkan risiko default yang dapat mengguncang stabilitas sistem keuangan.
Data OJK menunjukkan bahwa pinjaman online masih mendominasi (65%) dari total pembiayaan nonābank, menandakan bahwa konsumen lebih memilih platform digital yang menawarkan proses persetujuan cepat. Namun, pertumbuhan paylater yang mencapai 53,6% YoY mengindikasi pergeseran preferensi ke produk yang terintegrasi dengan ekosistem eācommerce. Hal ini menuntut regulator untuk meninjau kembali kerangka perlindungan konsumen, termasuk transparansi biaya, batas maksimal pinjaman, dan mekanisme penagihan.
Selanjutnya, penurunan Mandiri Saving Index sebesar 5,7% YoY menandakan bahwa rumah tangga semakin mengandalkan pembiayaan eksternal untuk menutupi kebutuhan konsumsi. Jika tren ini berlanjut tanpa adanya stimulus fiskal yang tepatāseperti pengurangan pajak atau bantuan tunaiākita dapat menyaksikan peningkatan tingkat utang rumah tangga yang melampaui batas aman (30% dari pendapatan). Dalam skenario terburuk, hal ini dapat memicu gelombang kredit macet yang memaksa lembaga keuangan nonābank untuk menyesuaikan kebijakan penyaluran kredit.
Kesimpulannya, meskipun BNPL memberikan dorongan jangka pendek bagi sektor ritel, kebijakan makroekonomi yang proaktif diperlukan untuk mengendalikan akumulasi hutang, memperkuat literasi keuangan, dan memastikan bahwa pertumbuhan konsumsi tidak berujung pada krisis likuiditas di masa depan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa perbedaan utama antara BNPL dan cicilan kartu kredit?
A: BNPL biasanya menawarkan tenor pendek dengan bunga 0% bila dibayar tepat waktu, sedangkan kartu kredit dapat memiliki bunga tinggi dan tenor lebih fleksibel. - Q: Mengapa paylater tumbuh lebih cepat dibandingkan pinjaman online?
A: Paylater terintegrasi langsung dengan platform eācommerce, memudahkan konsumen melakukan pembelian tanpa harus mengajukan pinjaman terpisah. - Q: Apa risiko utama bagi konsumen yang terlalu bergantung pada paylater?
A: Akumulasi hutang tanpa kontrol dapat meningkatkan risiko gagal bayar, menurunkan skor kredit, dan berpotensi menimbulkan beban keuangan jangka panjang.


