Mutilasi di Depok: Polisi Ungkap Dugaan Pelaku Gay, Motif Masih Diselidiki
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Polisi menahan Saepul, 26 tahun, sebagai tersangka pembunuhan dan mutilasi di Pancoran Mas, Depok.
- Saepul diduga memiliki orientasi seksual LGBT, namun motif pembunuhan belum terungkap.
- Korban, Kunaefi (51), ditemukan tanpa kaki dan mengalami mutilasi setelah dipukuli di rumah kontrakannya.
Polisi Metro Jaya mengungkapkan bahwa tersangka utama kasus pembunuhan berantai yang mengguncang Depok itu adalah Saepul, 26 tahun, yang kini berada di tahanan. Menurut Breggy Yesaya Imanuel Sutijono, Katimsus 2 Subdit Resmob Polda Metro Jaya, penyelidikan masih berfokus pada motif di balik aksi brutal yang melibatkan mutilasi jasad korban.
"Untuk motif pembunuhan sendiri sedang kami dalami, namun ditemukan fakta bahwasanya pelaku diduga merupakan penyuka sesama jenis," ujar Breggy dalam konferensi pers Rabu (5/8). Ia menambahkan bahwa hubungan antara Saepul dan korban, Kunaefi, hanya sebatas kenalan lewat media sosial, tanpa indikasi hubungan pribadi yang lebih dalam.
Dalam rekaman video yang berhasil dikumpulkan, Saepul mengaku mengundang korban ke kontrakannya di Jalan Belimbing, Cipayung, Depok untuk sekadar mengobrol. Menurutnya, keributan muncul setelah korban melakukan tindakan yang tidak diinginkannya. "Dia pegangâpegang saya, saya berontak, lalu dia nampar saya. Saya dorong, dia dorong saya dari tangga," kata Saepul.
Saepul mengaku mengambil pisau dari dapur, menusuk leher korban, dan kemudian memutilasi tubuhnya karena kesulitan mengangkat jenazah dari lokasi. "Pakai pisau yang saya gunakan buat nusuk dia juga," ujarnya dengan nada datar.
Penemuan mayat tanpa kaki itu pertama kali terungkap ketika seorang saksi melihat karung misterius di lahan kosong Pancoran Mas pada 24 Juli. Saat karung tersebut dipanaskan pada 4 Agustus, terungkaplah jasad manusia yang kemudian diidentifikasi sebagai korban. Polisi berhasil menangkap Saepul di Pandeglang, Banten, pada 5 Agustus pukul 04.15 WIB, saat ia berusaha melarikan diri.
Analisis Pakar
Kasus ini menyoroti dua dimensi yang sering terabaikan dalam penanganan kejahatan berat: orientasi seksual tersangka dan cara media serta aparat menyoroti hal tersebut. Penekanan pada label gay atau LGBT tanpa bukti kuat tentang kaitannya dengan motif kejahatan dapat menimbulkan stigma yang tidak perlu, sekaligus mengalihkan fokus investigasi dari faktor-faktor psikologis, sosial, atau ekonomi yang lebih relevan.
Selanjutnya, pola kekerasan yang terjadi di rumah kontrakan menandakan adanya dinamika kekuasaan yang terdistorsi. Saepul mengaku merasa terancam secara fisik, namun responsnyaâmenyentuh, menendang, hingga memutilasiâmenunjukkan kontrol ekstrem yang melampaui pertahanan diri. Hal ini mengindikasikan kemungkinan gangguan kejiwaan atau trauma masa lalu yang belum terdiagnosa, yang seharusnya menjadi bagian penting dalam penyelidikan forensik.
Polisi harus memperkuat prosedur pengumpulan bukti digital, mengingat hubungan korban dan pelaku hanya terjalin lewat media sosial. Rekaman percakapan, riwayat pertemanan, dan jejak digital dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang intensitas interaksi, potensi pemerasan, atau pemicu emosional yang memicu kekerasan.
Akhirnya, penanganan kasus ini menjadi ujian bagi penegakan hukum dalam menghindari sensationalisme. Fokus pada fakta, bukan label, serta transparansi dalam mengungkap motif akan memperkuat kepercayaan publik dan mencegah penyebaran narasi diskriminatif yang dapat memperburuk stigma terhadap komunitas LGBT di Indonesia.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa motif sebenarnya di balik pembunuhan dan mutilasi yang dilakukan Saepul?
A: Hingga kini, motif pasti belum terungkap; penyelidikan masih berlangsung untuk mengidentifikasi faktor psikologis atau pribadi yang melatarbelakangi aksi tersebut. - Q: Apakah orientasi seksual Saepul berhubungan dengan kejahatan ini?
A: Tidak ada bukti langsung yang mengaitkan orientasi seksual dengan tindakan kriminal; penyebutan hal tersebut lebih bersifat spekulatif dan belum terbukti relevan. - Q: Bagaimana proses penangkapan Saepul di Pandeglang, Banten?
A: Saepul berhasil ditangkap pada 5 Agustus pukul 04.15 WIB di Pandeglang setelah polisi melacak jejaknya melalui data telepon dan kendaraan yang dicurigai.


