Maut di Punggung Naga: Dua Pendaki Gunung Piramid Bondowoso Ditemukan Tewas di Jurang 60 Meter
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Dua pendaki, termasuk seorang pemandu lokal, ditemukan tewas di dasar tebing Gunung Piramid, Bondowoso.
- Jasad korban ditemukan di kedalaman 60 meter dengan kemiringan ekstrem 40 derajat, menyulitkan proses evakuasi awal.
- Evakuasi menggunakan metode lifting ke area Punggung Naga melibatkan tim SAR gabungan lintas instansi.
Tragedi kembali menyelimuti dunia pendakian tanah air. Dua pendaki yang sebelumnya dilaporkan hilang di Gunung Piramid, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Penemuan ini memperpanjang daftar kelam kecelakaan fatal di salah satu gunung dengan jalur terekstrem di Indonesia tersebut.
Kedua korban diidentifikasi sebagai Maliya Finda (51), seorang wisatawan asal Wonokromo, Surabaya, dan Irfan Nasrul Laili (35), seorang pemandu lokal berpengalaman asal Kecamatan Wonosari, Bondowoso. Keduanya ditemukan setelah tim pencari melakukan penyisiran intensif di area yang dikenal sangat rawan.
Koordinator Pos SAR Jember, Jefriyanzah, mengungkapkan bahwa jasad kedua korban berhasil diendus oleh tim SAR gabungan pada Selasa (4/8) sekitar pukul 12.13 WIB. Posisi kedua korban berada di dasar jurang yang sangat curam.
"Korban berada di dasar tebing dengan kemiringan sekitar 40 derajat dan kedalaman kurang lebih 60 meter," ujar Jefriyanzah saat memberikan keterangan resmi terkait penemuan tersebut. Jarak antara kedua jenazah dilaporkan hanya berkisar 5 meter, mengindikasikan keduanya jatuh di titik yang sama.
Medan yang luar biasa berat dan cuaca buruk yang tidak bersahabat di sekitar puncak Piramid sempat memaksa tim menunda proses evakuasi yang semula dijadwalkan pada hari penemuan. Evakuasi baru bisa dilaksanakan keesokan harinya dengan mengerahkan tim khusus ke titik koordinat jenazah.
Metode yang digunakan adalah teknik lifting (pengangkatan vertikal) menggunakan tali untuk mengangkat jenazah dari dasar jurang menuju jalur setapak ekstrem yang dikenal sebagai "Punggung Naga". Dari titik tersebut, jenazah kemudian digeser secara estafet menuju Pos II oleh tim evakuasi yang bersiaga.
Operasi kemanusiaan berskala besar ini melibatkan sinergi berbagai unsur, mulai dari Tim Rescue Pos SAR Jember, Kantor SAR Banyuwangi, BPBD Bondowoso, TNI-Polri, PMI, Satuan Brimob, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Wanadri, hingga komunitas pecinta alam dan warga lokal yang bahu-membahu menembus medan maut demi memulangkan kedua korban.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi yang telah bertahunātahun mengamati berbagai kebijakan publik dan mitigasi bencana, saya melihat tragedi berulang di Gunung Piramid ini bukan lagi sekadar kecelakaan alam biasa. Ini adalah alarm keras, bahkan rapor merah bagi manajemen wisata minat khusus dan petualangan ekstrem di Indonesia. Gunung Piramid, dengan karakteristik jalur "Punggung Naga" yang sangat sempit dan diapit jurang menganga tanpa pengaman, seharusnya tidak diperlakukan seperti objek wisata rekreasi keluarga. Ada pembiaran sistemik yang terjadi di sini.
Pertama, kita harus menyoroti standarisasi keselamatan dan sertifikasi pemandu. Gugurnya seorang pemandu lokal dalam insiden ini membuktikan bahwa penguasaan medan secara otodidak saja tidak cukup tanpa didukung oleh peralatan keselamatan (safety gear) kolektif yang terpasang permanen di jalurājalur kritis. Pemerintah daerah Bondowoso dan dinas pariwisata setempat tidak boleh hanya sibuk mempromosikan eksotisme daerahnya tanpa mengimbangi dengan regulasi mitigasi yang ketat.
Kedua, sudah saatnya kita menghentikan romantisasi pendakian ekstrem tanpa edukasi yang memadai. Budaya mendaki di Indonesia sering kali didorong oleh ego demi konten media sosial, mengabaikan fakta bahwa gunung adalah area kompromi nol terhadap kesalahan (zeroātolerance area). Pendaki paruh baya dengan risiko kesehatan tertentu, disandingkan dengan medan berkemiringan ekstrem, adalah kombinasi fatal yang seharusnya bisa dicegah sejak di pos registrasi awal jika sistem pengawasan kita berjalan dengan benar.
Saya mendesak adanya audit keselamatan total terhadap Gunung Piramid. Jika pemerintah daerah dan pengelola tidak mampu menyediakan infrastruktur keselamatan yang memadaiāseperti tali pengaman permanen (fixed rope) atau pembatasan kuota yang ketatāmaka jalur pendakian ini harus ditutup secara permanen untuk umum. Nyawa manusia terlalu berharga untuk dikorbankan demi retribusi wisata yang tidak seberapa.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Siapa saja korban yang meninggal dalam insiden di Gunung Piramid ini?
A: Korban meninggal adalah Maliya Finda (51), seorang pendaki asal Wonokromo, Surabaya, dan Irfan Nasrul Laili (35), pemandu lokal asal Wonosari, Bondowoso.
Q: Mengapa proses evakuasi korban tidak bisa langsung dilakukan saat ditemukan?
A: Evakuasi terpaksa ditunda karena kendala cuaca buruk di lokasi dan medan tebing yang sangat ekstrem dengan kedalaman mencapai 60 meter dan kemiringan 40 derajat.
Q: Bagaimana cara tim SAR mengevakuasi jenazah dari dasar jurang?
A: Tim SAR gabungan menggunakan metode lifting (pengangkatan dengan tali) untuk menaikkan jenazah ke jalur punggung naga, kemudian membawanya secara estafet ke Pos II.


