Hidrogen Hijau Siap Gantikan Diesel: Peluang Bisnis Triliunan Rupiah di Era Dekarbonisasi
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- COO Adryan Malindra menilai pasar hidrogen Indonesia dapat tumbuh massal seiring agenda transisi energi.
- Proyek hidrogen hijau sudah mulai diuji sebagai pengganti BBM diesel di pembangkit listrik dan transportasi.
- Regulasi, insentif fiskal, dan kolaborasi antara pemerintah serta Pasifik Gas Indonesia menjadi kunci mengatasi hambatan investasi.
Jakarta ā Menurut Chief Operating Officer Pasifik Gas Indonesia, Adryan Malindra, prospek bisnis hidrogen di tanah air berada pada titik lintasan pertumbuhan eksponensial. Ia menegaskan bahwa hidrogen, khususnya varian hijau yang diproduksi lewat elektrolisis tenaga terbarukan, akan berperan sebagai energy carrier utama dalam upaya dekarbonisasi lintas sektor ā mulai dari industri petrokimia hingga transportasi berat.
Hingga kini, Indonesia telah mengoperasikan proyek grey hydrogen berbasis gas alam serta pilot plant green hydrogen yang terintegrasi dengan pembangkit listrik tenaga surya di beberapa provinsi. Langkah selanjutnya, kata Malindra, adalah memperluas aplikasi hidrogen hijau sebagai bahan bakar pengganti diesel, terutama pada armada truk logistik dan kapal nelayan yang kini masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Namun, transformasi ini tidak akan terjadi secara otomatis. Pemerintah perlu menyusun kerangka regulasi yang jelas, memberikan insentif pajak, serta menjamin akses ke infrastruktur penyimpanan dan distribusi hidrogen. Tanpa dukungan kebijakan yang memadai, risiko biaya modal tinggi dan ketidakpastian pasar dapat menghambat masuknya investor swasta.
Dalam sesi Squawk Box CNBC Indonesia pada Rabu, 5 Agustus 2026, Andi Shalini menggali lebih dalam tantangan teknis, ekonomi, dan kebijakan yang mengiringi pengembangan hidrogen di Indonesia. Diskusi menyoroti pentingnya sinergi antara sektor energi terbarukan, industri kimia, serta lembaga keuangan untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan.
Analisis Pakar
Sebagai ekonom makro, saya melihat hidrogen hijau bukan sekadar teknologi baru, melainkan katalisator struktural bagi diversifikasi ekonomi Indonesia. Saat harga minyak dunia tetap volatil, negara dengan cadangan energi terbarukan yang dapat mengkonversi listrik menjadi hidrogen memiliki keunggulan kompetitif dalam rantai pasok energi global. Potensi penciptaan lapangan kerja di sektor manufaktur elektroliser, logistik hidrogen, dan layanan teknik dapat menambah nilai tambah signifikan pada PDB.
Namun, realitasnya, biaya produksi hidrogen hijau masih jauh di atas harga diesel konvensional. Menurut data IEA 2025, biaya listrik terbarukan di Indonesia berkisar US$0,06/kWh, menghasilkan biaya hidrogen sekitar US$4ā5/kg, sementara diesel diperdagangkan di kisaran US$0,8ā1,0/kg. Untuk menutup selisih ini, pemerintah harus menawarkan skema subsidi atau mekanisme kredit karbon yang dapat menginternalisasi manfaat lingkungan ke dalam perhitungan biaya.
Regulasi juga menjadi batu sandungan utama. Tanpa standar keamanan, sertifikasi kualitas, dan kebijakan tarif imporāekspor yang transparan, investor akan menahan diri. Saya menyarankan pembentukan hydrogen hub nasional yang dikelola oleh Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPHMG) dengan mandat mengkoordinasikan izin, tarif, dan insentif fiskal. Pendekatan terpusat ini dapat mempercepat skala ekonomi dan menurunkan biaya modal melalui pembiayaan berkelanjutan.
Terakhir, penting untuk menilai dampak makroekonomi secara holistik. Pengalihan subsidi BBM ke skema dukungan hidrogen dapat menurunkan beban fiskal jangka panjang, sekaligus menstimulasi inovasi industri. Namun, transisi harus dikelola agar tidak menimbulkan beban sosial pada pekerja sektor migas tradisional. Program retraining dan skema jaminan sosial menjadi komponen krusial dalam memastikan transisi yang adil.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa estimasi biaya produksi hidrogen hijau di Indonesia?
A: Saat ini diperkirakan US$4ā5 per kilogram, tergantung pada harga listrik terbarukan dan efisiensi elektroliser. - Q: Apa saja insentif pemerintah yang dibutuhkan untuk mempercepat adopsi hidrogen?
A: Insentif meliputi pengurangan pajak impor peralatan, tarif listrik khusus, dan kredit karbon bagi pengguna hidrogen. - Q: Kapan hidrogen hijau dapat bersaing dengan diesel secara komersial?
A: Dengan dukungan kebijakan yang tepat, kompetitivitas dapat tercapai dalam 5ā7 tahun ke depan, seiring penurunan biaya listrik terbarukan.


