Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M4,8 Guncang 64 km Barat Daya Sarangani, Filipina: Tidak Ada Kerusakan Signifikan

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M4,8 Guncang 64 km Barat Daya Sarangani, Filipina: Tidak Ada Kerusakan Signifikan
BAGIKAN:

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,8 mengguncang wilayah 64 km barat daya Sarangani, Filipina pada Senin (05/08/2026) pukul 07.34 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat kedalaman gempa pada 10 km di bawah permukaan, dengan pusat gempa berada di lepas pantai selatan Pulau Mindanao.

Menurut data US Geological Survey (USGS), gempa tidak menimbulkan laporan kerusakan struktural maupun korban jiwa di wilayah terdekat, termasuk di provinsi Sulawesi Selatan yang berbatasan dengan laut Filipina. Peringatan tsunami dikeluarkan secara otomatis namun dibatalkan setelah analisis menunjukkan potensi dampak gelombang laut yang sangat rendah.

Gempa ini terdeteksi oleh jaringan seismometer global dan regional, serta dilaporkan secara real‑time melalui aplikasi BMKG. Meskipun magnitudenya berada di bawah ambang yang biasanya menimbulkan kerusakan, pergerakan tanah dirasakan oleh sebagian penduduk di daerah pesisir, terutama di Pulau Selayar dan Kabupaten Luwu Timur.

BMKG menegaskan bahwa gempa dengan kedalaman dangkal seperti ini dapat menimbulkan getaran kuat pada bangunan tidak tahan gempa, namun tidak ada laporan kerusakan signifikan hingga saat ini. Pihak berwenang setempat terus memantau aktivitas seismik lanjutan dan siap mengaktifkan prosedur mitigasi bila diperlukan.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Sarangani berada di zona interaksi kompleks antara Lempeng Filipina, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Indo‑Australia. Sesar utama yang mengontrol aktivitas seismik di daerah ini adalah Sesar Mindanao (Mindanao Fault Zone), sebuah patahan transform yang memanjang sepanjang Pulau Mindanao dan berpotensi menghasilkan gempa dengan magnitudo hingga 7,0. Selain itu, terdapat sistem patahan sekunder seperti Sesar Cotabato dan Sesar Palawan‑Molucca yang turut memperkuat kerentanan tektonik.

Sejarah kegempaan di wilayah ini menunjukkan pola gempa berulang dengan interval 5‑10 tahun, terutama pada kedalaman 10‑30 km. Data USGS mencatat lebih dari 150 kejadian gempa magnitudo ≥4,0 dalam dua dekade terakhir, dengan beberapa di antaranya menimbulkan kerusakan pada infrastruktur pesisir. Meskipun gempa M4,8 kali ini tidak memicu tsunami, potensi tsunami tetap ada pada gempa dengan magnitudo ≥6,5 yang terjadi di zona subduksi lepas pantai selatan Filipina.

Gempa susulan (aftershock) biasanya muncul dalam rentang waktu 24‑72 jam setelah kejadian utama, dengan magnitudo lebih kecil. BMKG merekomendasikan masyarakat untuk tetap waspada, memeriksa kondisi bangunan, dan mengikuti arahan otoritas setempat. Pemantauan terus-menerus oleh jaringan seismik regional akan membantu mengidentifikasi pola pergerakan lempeng dan memberikan peringatan dini yang lebih akurat di masa mendatang.

Meow! Tanya Nesi!
😸