Zulhas Bantah Kopdes ‘Tenggelam di Laut’: Fakta, Kontroversi, dan Dampak Bisnis Nasional
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Zulkifli Hasan menolak keras rumor Kopdes dibangun di tengah laut, menyebutnya mustahil.
- Pemerintah target selesainya 35.800 gudang Kopdes Merah Putih tahun ini, didukung TNI AD.
- Kopdes berfungsi sebagai jaringan penyangga harga petani‑nelayan, sekaligus hub keuangan digital di desa‑desa 3T.
Dalam konferensi pers di Makassar pada Selasa (4/8), Zulkifli Hasan menepis keras kabar bahwa Kopdes Merah Putih (KDMP) dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNMP) dibangun “di tengah laut”. "Itu memang di mana? Nggak bangun di tengah laut, gimana nyemennya?" ujarnya, menuding kemungkinan penyebaran hoaks oleh pihak yang merasa terancam oleh program kerakyatan. Koperasi Desa Merah Putih menjadi contoh konkret upaya pemerintah dalam memperkuat jaringan distribusi di daerah terpencil.
Menurut Menteri Koordinator Bidang Pangan, Kopdes bukan sekadar supermarket milik swasta, melainkan infrastruktur strategis pemerintah yang berperan ganda sebagai offtaker resmi. Skema ini menjamin harga minimum bagi petani—misalnya gabah dibeli pemerintah senilai Rp6.500 per kilogram—dan mengamankan hasil tangkapan nelayan dari praktik tengkulak. "Ikan murah dibeli tengkulak, nanti kalau ada koperasi, disimpan di cold storage, kalau tidak laku koperasi yang beli," jelasnya, menambahkan bahwa hasil akan dijual ke SPPG (Sistem Pengadaan Produk Ganda).
Lebih jauh, Kopdes diintegrasikan dengan layanan pos, Brilink, dan platform pembayaran digital, sehingga desa‑desa—terutama yang berada di wilayah 3T—mendapatkan akses perbankan, logistik, dan pusat produksi yang sebelumnya terisolasi. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto, menegaskan target 35.800 gudang lengkap dengan truk, pikap, dan motor roda tiga akan tercapai akhir tahun, berkat kolaborasi lintas kementerian dan dukungan TNI AD dalam pembangunan infrastruktur. Upaya ini juga didukung oleh kebijakan yang mendorong transparansi dalam transaksi tunai dan digital.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, program Kopdes merupakan upaya pemerintah untuk menutup celah pasar antara produsen (petani, nelayan) dan konsumen akhir. Dengan menjadi offtaker resmi, negara tidak hanya menstabilkan harga, tetapi juga mengurangi volatilitas yang selama ini dimanfaatkan oleh perantara informal. Dampaknya, margin keuntungan petani dapat meningkat, yang pada gilirannya meningkatkan daya beli pedesaan dan memperluas basis konsumsi domestik.
Namun, keberhasilan skema ini sangat bergantung pada efisiensi logistik dan transparansi data. Integrasi dengan sistem pembayaran digital dan pos adalah langkah tepat, namun harus diikuti dengan audit real‑time atas volume transaksi dan kualitas barang yang dibeli. Tanpa mekanisme pengawasan yang kuat, risiko “leakage” atau penyelewengan dana bantuan sosial tetap tinggi.
Kolaborasi dengan TNI AD dalam pembangunan infrastruktur menandakan pendekatan “super‑team” yang dapat mempercepat penyelesaian proyek di daerah terpencil. Tetapi, penggunaan sumber daya militer untuk proyek sipil harus diimbangi dengan akuntabilitas publik, agar tidak menimbulkan persepsi militarisasi pembangunan.
Dari perspektif investasi, jaringan Kopdes membuka peluang bagi pemain logistik, agribisnis, dan fintech. Penyedia cold storage, transportasi berpendingin, serta platform e‑commerce khusus produk pertanian dapat menancapkan diri sebagai mitra strategis pemerintah. Investor yang menilai risiko politik‑ekonomi Indonesia akan melihat program ini sebagai sinyal komitmen pemerintah terhadap ketahanan pangan dan inklusi keuangan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah benar Kopdes dibangun di tengah laut?
A: Tidak. Menteri Koordinator Bidang Pangan menegaskan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan kemungkinan merupakan hoaks. - Q: Berapa banyak gudang Kopdes yang akan selesai tahun ini?
A: Pemerintah menargetkan penyelesaian 35.800 gudang Kopdes Merah Putih beserta fasilitas logistiknya sebelum akhir tahun. - Q: Bagaimana Kopdes membantu petani dan nelayan?
A: Kopdes berfungsi sebagai offtaker resmi yang membeli hasil pertanian dan perikanan dengan harga yang lebih adil, sekaligus menyediakan fasilitas penyimpanan, distribusi, dan akses ke layanan keuangan digital.


