Guncangan di Takhta FIFA! Badai Pembangkangan Mulai Runtuhkan Kekuasaan Gianni Infantino!
Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Ringkasan Singkat
- Mosi Tidak Percaya: Lima negara anggota FIFA (Wales, Inggris, Serbia, Swedia, dan Georgia) secara resmi mencabut dukungan mereka untuk pencalonan kembali Gianni Infantino sebagai Presiden FIFA periode 2027-2031.
- Blunder Fatal: Keputusan sepihak Infantino yang meluncurkan proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) tanpa konsultasi memicu kemarahan besar dari federasi anggota.
- Ancaman Hukum UEFA: Langkah hukum yang tengah dipertimbangkan oleh UEFA menjadi pemicu utama bagi negara-negara besar seperti Inggris untuk segera menarik dukungan mereka.
Bung, sepak bola dunia sedang membara! Bukan karena tensi tinggi di atas lapangan hijau, melainkan di koridor kekuasaan tertinggi Zurich. Kursi empuk yang diduduki oleh Gianni Infantino kini mulai digoyang hebat oleh badai pembangkangan yang nyata. Satu per satu, sekutu terdekatnya mulai angkat kaki dan menarik dukungan untuk pencalonannya sebagai Presiden FIFA periode 2027-2031. Ini bukan sekadar riak kecil, ini adalah pemberontakan taktis yang sangat serius!
Genderang perang pertama kali ditabuh oleh Asosiasi Sepak Bola Wales (FAW). Secara mengejutkan dan terbuka, FAW menarik tanda tangan dukungan mereka. Alasan mereka sangat tegas: Infantino dinilai sudah kelewat batas dan bertindak terlalu jauh tanpa memikirkan dampak sistemik bagi anggotanya.
Tak butuh waktu lama, raksasa sepak bola Inggris, FA, langsung menyusul langkah berani tersebut. Keputusan FA ini diambil setelah mereka mengendus adanya perlawanan sengit dari UEFA. Konfederasi sepak bola Eropa tersebut kabarnya sedang menyiapkan amunisi hukum, termasuk arbitrase dan pengaduan regulasi, untuk menjegal langkah-langkah sepihak yang kerap diambil oleh Infantino.
Domino pembangkangan terus runtuh! Federasi sepak bola Serbia (FSS) dan Swedia (SvFF) ikut melempar handuk dukungan mereka. Mengapa? Karena Infantino dengan berani—atau bisa dibilang sembrono—mengajukan proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) tanpa ada proses konsultasi terlebih dahulu dengan para anggota. Tindakan ini dianggap sebagai bentuk kesewenang-wenangan yang mencederai nilai-nilai demokrasi sepak bola.
Teranyar, Georgia juga ikut menyatakan mosi tidak percaya dan menarik dukungannya. Hingga detik ini, sudah ada lima federasi sepak bola yang resmi membelot. Dan percayalah, dengan tekanan maksimal yang terus diberikan, gelombang surat penarikan dukungan diprediksi akan semakin membanjiri kantor FIFA dalam beberapa hari ke depan!
Contohnya, kompetisi domestik seperti Piala Presiden 2026 sedang berlangsung dengan ketegangan serupa, menyoroti betapa pentingnya dukungan klub terhadap kebijakan FIFA.
Analisis Pakar
Bung, mari kita bedah secara taktis apa yang sebenarnya terjadi di balik layar. Mundurnya dukungan dari negara-negara elite Eropa ini bukan sekadar masalah administratif biasa, melainkan sebuah tamparan keras terhadap gaya kepemimpinan otoriter Gianni Infantino. Selama ini, Infantino kerap menjalankan FIFA layaknya korporasi pribadi, di mana keputusan-keputusan strategis yang bernilai miliaran dolar sering kali diambil secara sepihak demi kepentingan komersialisasi global yang agresif. Proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) yang diluncurkan tanpa permisi adalah puncak gunung es dari arogansi kekuasaan tersebut.
Secara geopolitik sepak bola, langkah UEFA yang mengancam akan melakukan tindakan hukum atau arbitrase adalah sebuah counter-attack yang sangat mematikan. UEFA sadar betul bahwa Eropa adalah episentrum finansial, talenta, dan kualitas sepak bola dunia. Ketika Inggris, Wales, Swedia, Serbia, dan Georgia mulai bergerak bersama, ini mengirimkan sinyal kuat ke konfederasi lain bahwa sang raja di Zurich tidak lagi tak tersentuh. Ini adalah strategi pengepungan taktis yang sangat rapi untuk membatasi ruang gerak politik Infantino sebelum kongres pemilihan dimulai.
Kehilangan dukungan dari FA Inggris dan negara-negara Nordik serta Balkan adalah pukulan telak bagi legitimasi moral Infantino. Di atas kertas, Infantino mungkin masih merasa aman karena memiliki basis suara kuat di Afrika atau Asia melalui program-program bantuan dana FIFA. Namun, kehilangan Eropa berarti kehilangan kredibilitas di mata sponsor utama dan publik sepak bola global. Jika gelombang pembangkangan ini terus menggelinding dan diikuti oleh raksasa Eropa lainnya seperti Jerman, Italia, atau Prancis, maka tamat sudah riwayat politik Infantino di FIFA.
Sebagai jurnalis olahraga senior, saya melihat ini sebagai momentum krusial bagi masa depan tata kelola sepak bola dunia. Sepak bola tidak boleh dikendalikan oleh satu orang dengan agenda bisnis yang mengabaikan suara akar rumput dan federasi nasional. Kita butuh transparansi, kita butuh kolaborasi yang sehat, bukan diktator berkedok modernisasi. Pertanyaannya sekarang: mampukah Infantino melakukan manuver bertahan yang ajaib, ataukah kita akan segera melihat lahirnya era baru di bawah kepemimpinan Presiden FIFA yang baru pada tahun 2027 nanti? Kita tunggu drama berikutnya, Bung! Ini baru permulaan!
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Mengapa negara-negara anggota FIFA menarik dukungan dari Gianni Infantino?
A: Negara-negara tersebut kecewa dengan tindakan sepihak Infantino yang mengajukan proposal FIFA Forward Enterprise (FFE) tanpa konsultasi dengan anggota, serta adanya ancaman langkah hukum dari UEFA terhadap kebijakan FIFA.
Q: Negara mana saja yang sudah resmi mencabut dukungan untuk Infantino?
A: Hingga saat ini, sudah ada lima negara yang secara resmi menarik dukungan mereka, yaitu Wales, Inggris, Serbia, Swedia, dan Georgia.
Q: Apa dampak dari penarikan dukungan ini terhadap pemilihan Presiden FIFA 2027?
A: Penarikan dukungan ini merusak legitimasi politik Infantino secara signifikan, menciptakan tekanan psikologis yang besar, dan membuka peluang lebar bagi munculnya calon penantang baru yang kuat untuk merebut kursi kepemimpinan FIFA.
Selain itu, dinamika kompetisi internasional seperti Piala AFF 2026 menunjukkan betapa pentingnya stabilitas kepemimpinan dalam turnamen bergengsi, yang kini turut dipengaruhi oleh ketegangan politik di tingkat FIFA.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

Judoka Muda Sashenka Persembahkan Medali Perunggu Historis bagi Indonesia di YOG Dakar

Sassuolo Terjun Bebas: Jay Idzes dkk Terancam Masuk Zona Degradasi usai Raih 1 Poin dari 6 Laga

Klasik PSMS vs Persija Pembuka: Duel Bersejarah Kembali di League Cup 2026/2027
