PSSI Geliat! Raih Rp722 Miliar, APBN Hanya Rp63 M – Angka Ini Buktikan Kebangkitan Sepak Bola Indonesia!
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Ringkasan Singkat
- PSSI melaporkan pendapatan mencapai Rp722 miliar untuk periode 2025‑2026.
- Hanya Rp63 miliar yang berasal dari APBN, sisanya didapat dari sponsor, tiket, TV, dan merchandise.
- Peningkatan signifikan juga terlihat pada pendapatan I.League yang kini mencapai Rp705 miliar per musim.
Dalam konferensi pers usai kongres tahunan PSSI 2026 di Jakarta, Erick Thohir menegaskan, “Kami di PSSI senang, pendapatan kami kurang lebih tadi sudah diaudit, kurang lebih tahun ini Rp722 miliar.” Angka ini melambangkan lonjakan luar biasa dibandingkan tahun‑tahun sebelumnya, ketika pendapatan hanya Rp469 miliar (2025) dan Rp700 miliar (2024).
Meski bangga dengan pencapaian tersebut, Erick tak menutup mata bahwa APBN tetap menjadi tulang punggung penting. “Kami juga berbangga, dari Rp722 miliar itu, Rp63 miliar dari APBN. Sisanya benar-benar kami di PSSI bekerja keras untuk pendanaan itu,” ujarnya sambil menegaskan pentingnya dukungan material pemerintah.
Berbagai sumber pendapatan mengalir deras: sponsor komersial, penjualan tiket pertandingan tim nasional, hak siar televisi, hingga merchandise resmi. Semua ini menandai era baru di mana sepak bola Indonesia tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dana negara, melainkan mengoptimalkan potensi pasar domestik dan internasional.
Tak hanya itu, Erick menyoroti pertumbuhan I.League. “Liga I.League sekarang pendapatannya per musim sudah Rp705 miliar. Ini hal yang bagus. Makanya klub‑klub sekarang, Liga 1, Liga 2, mendapatkan pemasukan yang lebih tinggi,” katanya, menandakan sinergi positif antara kompetisi domestik dan keuangan klub.
Analisis Pakar
Sebagai pengamat olahraga yang telah menyusuri dinamika sepak bola Indonesia selama lebih dari satu dekade, saya melihat laporan keuangan ini sebagai titik balik strategis. Pertama, diversifikasi pendapatan yang kini mencakup sponsor, hak siar, dan merchandise menunjukkan bahwa PSSI telah mengadopsi model bisnis yang lebih modern—mirip dengan federasi‑federasi top dunia yang mengandalkan komersialisasi aset mereka.
Kedua, meskipun kontribusi APBN hanya sekitar 9% dari total, angka tersebut tetap krusial. Dana pemerintah tidak hanya menutupi biaya operasional dasar, tetapi juga memberi ruang bagi investasi jangka panjang—seperti pengembangan akademi muda, infrastruktur stadion, dan program pelatihan pelatih.
Ketiga, lonjakan pendapatan I.League menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem liga domestik kini lebih profesional. Dengan pendapatan tahunan mencapai Rp705 miliar, klub‑klub dapat meningkatkan gaji pemain, memperkuat tim teknis, dan berinvestasi pada fasilitas latihan. Ini pada gilirannya akan meningkatkan kualitas kompetisi, menarik sponsor lebih besar, dan memperluas basis suporter.
Namun, tantangan tetap ada. Transparansi akuntansi harus terus ditingkatkan agar publik dan stakeholder dapat memantau aliran dana secara real‑time. Selain itu, ketergantungan pada sponsor dan hak siar menuntut PSSI untuk terus berinovasi dalam konten digital, mengoptimalkan platform streaming, dan memperluas pasar internasional. Jika langkah‑langkah ini dijalankan dengan konsistensi, Indonesia dapat menembus peta sepak bola dunia dengan tim nasional yang kompetitif dan liga domestik yang menguntungkan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa total pendapatan PSSI untuk periode 2025‑2026?
A: PSSI melaporkan total pendapatan sebesar Rp722 miliar. - Q: Dari mana saja sumber pendapatan utama PSSI?
A: Pendapatan berasal dari sponsor, penjualan tiket, hak siar televisi, merchandise, dan dukungan APBN sebesar Rp63 miliar. - Q: Berapa besar kontribusi APBN terhadap total pendapatan PSSI?
A: APBN menyumbang sekitar Rp63 miliar, atau sekitar 9% dari total pendapatan.


