Proyek Rp1,16 Triliun Waskita Karya: Sekolah Rakyat Mewah Rasa Swasta, Investasi SDM atau Beban Baru APBN?
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- PT Waskita Karya (Persero) Tbk resmi mengoperasikan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 di Surabaya, bagian dari megaproyek pendidikan di Jawa Timur senilai Rp1,16 Triliun.
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meninjau langsung proyek ini untuk memastikan efektivitas alokasi APBN dalam mendukung program prioritas peningkatan kualitas SDM.
- Proyek ini menggunakan metode konstruksi cepat dengan mengerahkan 4.500 tenaga kerja demi mengejar target operasional tahun ajaran baru.
Pemerintah terus memacu pembangunan infrastruktur sosial sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Salah satu langkah konkretnya terlihat dari mulai beroperasinya Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 2 Kota Surabaya, Jawa Timur. Proyek ambisius yang digarap oleh BUMN konstruksi, Waskita Karya, kini telah mulai digunakan oleh ratusan siswa dari tingkat SD hingga SMA untuk Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sejak akhir Juli 2026.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa turun langsung meninjau fasilitas pendidikan ini. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan penegasan komitmen pemerintah dalam mengalokasikan APBN untuk sektor riil yang berdampak langsung pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Purbaya menekankan bahwa proyek Sekolah Rakyat ini merupakan modal krusial untuk menjamin mobilitas sosial dan menyongsong visi Indonesia Emas.
Menariknya, fasilitas yang dihadirkan di atas lahan seluas 6,6 hektare ini dinilai setara dengan sekolah swasta elite, namun ditujukan khusus bagi masyarakat kurang beruntung. Direktur Operasi II Waskita Karya, Paulus Budi Kartiko, mengungkapkan bahwa pengerjaan proyek ini dikebut siang-malam dengan mengerahkan hampir 4.500 tenaga kerja serta menerapkan teknologi konstruksi modern seperti metode half slab dan percepatan distribusi material guna memastikan efisiensi waktu tanpa mengurangi kualitas bangunan. Proyek SR di Jawa Timur ini tersebar di lima wilayah dengan total nilai kontrak fantastis mencapai Rp1,16 Triliun.
Analisis Pakar
Dari perspektif makroekonomi, langkah pemerintah mengalokasikan anggaran jumbo sebesar Rp1,16 triliun untuk infrastruktur pendidikan di Jawa Timur adalah sebuah keputusan taktis yang sangat tepat. Selama ini, Indonesia terlalu fokus pada pembangunan infrastruktur fisik konektivitas seperti jalan tol dan bandara. Meskipun penting, pembangunan fisik tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas modal manusia (human capital) hanya akan menjebak Indonesia dalam middle-income trap. Investasi pada Sekolah Rakyat Terintegrasi ini memiliki fiscal multiplier effect yang sangat tinggi dalam jangka panjang, karena langsung menyasar akar produktivitas tenaga kerja masa depan.
Namun, sebagai jurnalis finansial, saya juga harus menyoroti kondisi neraca keuangan sang kontraktor, Waskita Karya. Kita tahu bahwa BUMN karya ini tengah berada dalam fase restrukturisasi utang yang cukup ketat. Mengambil proyek penugasan negara dengan nilai jumbo menuntut manajemen arus kas (cash flow) yang sangat disiplin. Penggunaan metode konstruksi cepat seperti half slab and optimalisasi alat berat memang membantu efisiensi waktu, tetapi Waskita harus memastikan bahwa termin pembayaran dari pemerintah berjalan lancar agar tidak menambah beban likuiditas perusahaan yang saat ini sedang sensitif.
Selain itu, konsep "sekolah mewah untuk kalangan kurang beruntung" ini membawa tantangan baru pada aspek keberlanjutan operasional (operational sustainability). Membangun fasilitas megah seluas 6,6 hektare dengan standar sekolah swasta mahal adalah satu hal, namun merawatnya adalah hal lain. Pemerintah daerah dan kementerian terkait harus memastikan bahwa anggaran operasional sekolah (BOS) dan biaya pemeliharaan jangka panjang telah alaokasikan secara memadai. Tanpa manajemen pemeliharaan yang profesional, fasilitas canggih ini dikhawatirkan akan cepat rusak dan justru menjadi beban fiskal yang tidak produktif di masa depan.
Secara keseluruhan, sinergi antara percepatan pembangunan oleh BUMN dan pengawasan ketat dari Kementerian Keuangan menunjukkan arah kebijakan fiskal yang lebih inklusif. Jika model Sekolah Rakyat Terintegrasi di Jawa Timur ini sukses dan efisien, proyek ini layak menjadi cetak biru (blueprint) nasional untuk pengentasan kemiskinan struktural melalui jalur pendidikan berkualitas tinggi yang didanai oleh negara.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa itu Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) yang dibangun Waskita Karya?
A: SRT adalah konsep sekolah terpadu dari tingkat SD hingga SMA dengan fasilitas lengkap berstandar tinggi yang ditujukan untuk memperluas akses pendidikan berkualitas bagi masyarakat kurang mampu.
Q: Berapa nilai investasi proyek Sekolah Rakyat di Jawa Timur ini?
A: Total nilai kontrak proyek Sekolah Rakyat yang digarap Waskita Karya di lima wilayah Jawa Timur (Gresik, Jombang, Sampang, Tuban, dan Surabaya) mencapai Rp1,16 Triliun.
Q: Mengapa proyek ini dianggap penting bagi perekonomian nasional?
A: Proyek ini merupakan investasi pada infrastruktur sosial (SDM) yang didanai APBN untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja jangka panjang dan mendorong mobilitas sosial menuju Indonesia Emas.


