IHSG Siap Terus Menguat di Awal Agustus: Peluang atau Risiko?

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

IHSG Siap Terus Menguat di Awal Agustus: Peluang atau Risiko?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • IHSG diproyeksi menguat pada Senin, 3 Agustus, setelah menembus MA20 harian.
  • Analisis teknikal MNC Sekuritas dan Binaartha Sekuritas menyoroti level support‑resistance kunci serta rekomendasi saham.
  • Volume transaksi mencapai Rp18,21 triliun dengan 32,44 miliar lembar saham diperdagangkan.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi menguat pada perdagangan Senin, 3 Agustus. Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menilai indeks masih berpeluang melanjutkan penguatan setelah berhasil menembus rata‑rata bergerak 20‑hari (MA20). Ia menargetkan pengujian zona 6.352‑6.545, namun memperingatkan potensi koreksi jangka pendek ke kisaran 6.108‑6.187. Rentang perdagangan yang diproyeksikan mencakup support di 6.029, 5.839 dan resistance di 6.266, 6.377. Saham yang direkomendasikan antara lain BRMS, ENRG, MBMA, dan PSAB.

Sejalan dengan itu, Ivan Rosanova dari Binaartha Sekuritas menilai IHSG masih memiliki ruang untuk melanjutkan kenaikan setelah menembus resistance minor pada sesi sebelumnya. Selama indeks dapat bertahan di atas support minor 6.138, ia memproyeksikan pergerakan menuju zona gap 6.268‑6.306. Level support tambahan yang dipantau adalah 6.183, 6.020, dan 5.887, sementara resistance berada di 6.291, 6.392, dan 6.545. Rekomendasi saham meliputi DEWA, ICBP, dan PGAS.

IHSG ditutup pada 6.236 pada Jumat, 31 Juli, menguat 49,76 poin atau 0,80 % dari sesi sebelumnya. Investor mencatat transaksi senilai Rp18,21 triliun dengan volume 32,44 miliar lembar saham. Dari 789 saham yang diperdagangkan, 437 menguat, 193 terkoreksi, dan 159 stagnan.

Analisis Pakar

Secara makro, penguatan IHSG ini mencerminkan optimisme pasar terhadap kebijakan moneter yang masih akomodatif serta ekspektasi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kuartal ketiga. Namun, volatilitas global—terutama kebijakan suku bunga Federal Reserve—masih menjadi faktor pengganggu yang dapat memicu koreksi teknikal dalam jangka pendek.

Level support di 6.029 dan 5.839 menjadi zona kritis. Jika indeks menembus salah satu dari level tersebut, kita dapat menyaksikan aliran likuiditas keluar ke aset safe‑haven seperti obligasi pemerintah atau dolar AS. Sebaliknya, penahanan di atas 6.138 akan membuka jalan bagi bullish momentum menuju zona 6.352‑6.545, yang secara historis menjadi titik masuk bagi aliran dana institusional.

Rekomendasi saham yang diberikan oleh kedua sekuritas menyoroti sektor energi (ENRG, DEWA) dan infrastruktur (MBMA, PGAS). Kedua sektor ini masih berada dalam fase akumulasi karena pemerintah terus memperkuat agenda energi terbarukan dan LNG.

Investor yang mengincar upside jangka menengah dapat mempertimbangkan posisi beli pada saham-saham ini, namun tetap menjaga stop‑loss di sekitar level support teknikal masing‑masing.

Terakhir, volume transaksi yang mencapai lebih dari Rp18 triliun menandakan likuiditas yang cukup kuat, namun distribusi volume yang terpusat pada saham-saham tertentu dapat menimbulkan risiko konsentrasi. Diversifikasi portofolio tetap menjadi prinsip utama, terutama mengingat potensi koreksi singkat yang diantisipasi oleh Herditya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa level support terpenting yang harus dipantau pada IHSG minggu ini?
    A: Level support utama berada di 6.138, diikuti oleh 6.029 dan 5.839. Penembusan di bawah salah satu level ini dapat memicu koreksi lebih dalam.
  • Q: Saham mana yang paling berpotensi naik seiring penguatan IHSG?
    A: Saham sektor energi dan infrastruktur seperti ENRG, DEWA, MBMA, dan PGAS mendapat rekomendasi karena dukungan kebijakan pemerintah dan aliran dana institusional.
  • Q: Bagaimana pengaruh kebijakan moneter global terhadap pergerakan IHSG?
    A: Kebijakan suku bunga Fed yang ketat dapat menurunkan aliran modal asing ke pasar emerging, sehingga meningkatkan volatilitas IHSG. Sebaliknya, kebijakan moneter domestik yang tetap akomodatif membantu menstabilkan pasar.
Meow! Tanya Nesi!
😾