Tragedi Tanker di Kalsel: 7 Tewas, Kendaraan Ternyata Bukan Armada Pertamina
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Mobil tangki minyak menabrak pikap yang mengangkut mahasiswa KKN di Jalan Alternatif Batulicin‑Banjarbaru, menewaskan 7 orang.
- Pertamina menegaskan kendaraan yang terlibat tidak terdaftar dalam armada PertaminaPatraNiaga dan tidak pernah beroperasi di terminal mereka.
- Pihak berwenang masih menyelidiki penyebab hilangnya kendali, sementara keluarga korban menanti keadilan dan bantuan.
Insiden fatal terjadi pada Sabtu (1/8) sekitar pukul 12.00 WITA di Jalan Alternatif Batulicin‑Banjarbaru, Desa Gunung Raya, Kecamatan Mantewe, Kabupaten KalimantanSelatan. Sebuah mobil tangki minyak melaju dari arah Banjarbaru menuju Batulicin, tiba‑tiba kehilangan kendali dan menabrak sebuah mobil pikap yang sedang mengangkut tujuh mahasiswa MahasiswaKKN dalam perjalanan ke lokasi wisata Sungai Alut.
Menurut keterangan KapolsekMantewe AKP Kusnin, sopir truk berinisial MI serta enam mahasiswa (MR, ACG, NIJ, NAS, VAS, TMA) tewas di tempat, sementara satu mahasiswa (MFH) selamat dan dilarikan ke RS Marina. Total korban mencapai delapan orang, termasuk sopir truk.
PT PertaminaPatraNiaga Regional Kalimantan, melalui Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Kalimantan, Edi Mangun, menegaskan bahwa kendaraan yang terlibat tidak tercatat sebagai bagian dari armada operasional perusahaan. "Kami terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan informasi mengenai kendaraan tersebut. Proses penanganan dan penyelidikan sepenuhnya kami serahkan kepada pihak berwenang," ujar Edi dalam pernyataan resmi pada Minggu (2/8).
Edi juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, menekankan harapan agar yang masih dirawat cepat pulih dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.
Analisis Pakar
Tragedi ini menyoroti celah serius dalam regulasi dan pengawasan kendaraan berat di wilayah pedesaan Kalimantan. Meskipun fleet management Pertamina tampak terkelola dengan baik, fakta bahwa sebuah truk berlabel “MI” (mungkin singkatan milik swasta) dapat melintas di jalan yang sama dengan kendaraan resmi menimbulkan pertanyaan tentang kewenangan izin operasional dan standar keselamatan yang diterapkan oleh otoritas transportasi daerah.
Selain itu, penggunaan kendaraan desa (pikap milik Desa Irigasi Batulicin) untuk mengangkut mahasiswa KKN tanpa prosedur keamanan yang memadai mengindikasikan kurangnya koordinasi antara institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan penyedia transportasi. Mahasiswa seharusnya tidak dijadikan beban logistik tanpa jaminan asuransi atau inspeksi kendaraan.
Penanganan pasca‑kecelakaan oleh Pertamina, meski cepat mengklarifikasi tidak ada kaitannya, tetap menimbulkan persepsi publik bahwa perusahaan berusaha mengalihkan sorotan. Komunikasi krisis yang transparan memang penting, namun harus diimbangi dengan action konkret, seperti membantu proses identifikasi pemilik truk dan menuntut pertanggungjawaban pihak yang melanggar regulasi.
Terakhir, kasus ini menegaskan perlunya penegakan hukum yang tegas terhadap pelanggaran transportasi, termasuk pemeriksaan rutin kendaraan berat, pelatihan sopir, serta penegakan sanksi bagi yang terbukti mengabaikan standar keselamatan. Tanpa langkah tersebut, risiko kecelakaan serupa akan terus mengintai, mengorbankan nyawa generasi muda dan warga setempat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah truk yang menabrak pikap milik Pertamina?
A: Tidak. Pertamina Patra Niaga menegaskan kendaraan tersebut tidak terdaftar dalam armada mereka. - Q: Siapa yang bertanggung jawab atas kecelakaan ini?
A: Penyidikan masih berlangsung; pihak berwenang akan menentukan apakah kelalaian pengemudi, kondisi kendaraan, atau faktor lain yang menjadi penyebab. - Q: Bagaimana bantuan bagi keluarga korban?
A: Pemerintah daerah dan lembaga sosial setempat telah menyiapkan bantuan darurat, sementara Pertamina menyampaikan belasungkawa dan menawarkan dukungan moral.


