Serangan Udara Israel ke Gaza Kembali Menewaskan 9 Warga Palestina, Meski Ada Klaim Gencatan Senjata oleh Trump
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Israel melancarkan serangan udara kedua berturut‑turut di Gaza, menewaskan minimal sembilan warga Palestina.
- Target serangan meliputi Deir al‑Balah, Kota Gaza, Khan Younis, dan Jabalia, dengan klaim Israel menyasar komandan Hamas dan operatif militer.
- Presiden Donald Trump mengumumkan terobosan gencatan senjata, namun Israel menolak penarikan pasukan sampai Hamas melucuti senjata secara menyeluruh.
Serangan berlanjut – Pada Minggu (2/8), Angkatan Udara Israel melakukan serangan udara ke tiga wilayah utama di Jalur Gaza: kota utara, Deir al‑Balah di tengah, dan Khan Younis di selatan. Menurut otoritas kesehatan Palestina, serangan tersebut menewaskan sembilan warga sipil, termasuk pasangan suami istri, seorang anak berusia 9 tahun, serta beberapa korban luka-luka.
Di Deir al‑Balah, sebuah apartemen hancur menewaskan seorang pria dan istrinya serta melukai empat orang lainnya. Di Kota Gaza, dua korban tewas, salah satunya seorang anak. Sementara di Khan Younis, sebuah rumah di kawasan Mawasi dihancurkan menjelang fajar, menewaskan ayah, ibu, dan anak laki‑lakinya yang berusia 9 tahun. Satu korban tambahan ditemukan di dekat Jabalia, wilayah utara Gaza.
Pihak militer Israel menegaskan bahwa serangan di Deir al‑Balah ditujukan untuk menetralkan dua komandan unit elit Hamas Nukhba. Serangan di Kota Gaza dan Jabalia diklaim juga menargetkan operatif militer, meski rincian masih dalam proses peninjauan.
Menteri Energi Israel, Eli Cohen, menegaskan tidak ada kesepakatan untuk menghentikan operasi militer. Ia menekankan perlunya kontrol penuh atas wilayah yang kini diperkirakan dikuasai 70 % oleh pasukan Israel. Cohen menolak anggapan Hamas akan melucuti senjata, bahkan menyatakan bahwa kelompok tersebut kemungkinan akan menyembunyikan persenjataan.
Di sisi lain, pada Kamis (30/7) Presiden Donald Trump menyatakan terobosan diplomatik setelah Hamas setuju melucuti senjata dalam kerangka inisiatif yang didukung Amerika Serikat. Badan pengawas gencatan senjata, Board of Peace, mengeluarkan peta jalan 15 poin pada Jumat (31/7) sebagai langkah akhir implementasi kesepakatan. Namun, Hamas menolak menurunkan senjata sebelum Israel menghentikan operasi militer dan menarik pasukannya, sesuai dengan perjanjian tahun lalu.
Seorang pejabat Israel menegaskan bahwa penarikan pasukan tidak akan terjadi kecuali Hamas melakukan “pelucutan senjata sungguhan”. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu belum memberikan komentar resmi, sementara Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben‑Gvir menyebut gencatan senjata tidak dapat diterima dan menuntut pembunuhan tertarget terhadap pemimpin Hamas.
Menurut data yang dihimpun sejak gencatan senjata Oktober 2025, setidaknya 1.230 warga Palestina telah tewas dalam serangan Israel, meskipun perjanjian gencatan senjata secara formal masih berlaku.
Analisis Pakar
Konflik yang kembali memuncak ini menegaskan kegagalan diplomasi tradisional dalam menengahi perselisihan antara Israel dan Hamas. Meskipun ada klaim terobosan dari pihak Amerika Serikat, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kedua belah pihak masih jauh dari konsensus yang dapat menurunkan intensitas tembakan. Penolakan Israel untuk menghentikan operasi militer sampai Hamas melucuti senjata mencerminkan strategi “kondisi sebelum tawar-menawar”, yang pada dasarnya menempatkan beban pada pihak yang lebih lemah secara militer.
Strategi militer Israel yang menargetkan komandan elite Hamas dapat dipandang sebagai upaya memecah kepemimpinan internal Hamas, namun risiko peningkatan korban sipil tetap tinggi. Setiap serangan yang menewaskan warga non‑kombatan memperburuk citra internasional Israel dan memberi bahan propaganda bagi Hamas untuk memperkuat dukungan domestik dan internasional.
Di sisi lain, klaim terobosan gencatan senjata oleh Presiden Donald Trump tampak lebih bersifat politik domestik daripada hasil negosiasi yang substansial. Tanpa mekanisme verifikasi yang kuat, janji pelucutan senjata Hamas tetap bersifat kondisional, dan Israel secara terbuka menolak menurunkan pasukannya tanpa jaminan yang dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas peran mediator ketiga dalam konflik yang telah berlangsung puluhan tahun.
Secara geopolitik, kontrol atas 70 % wilayah Gaza memberi Israel keunggulan taktis, namun juga meningkatkan beban administratif dan kemanusiaan. Pengelolaan wilayah yang hampir seluruhnya berada di bawah kontrol militer menimbulkan tantangan besar dalam hal rekonstruksi, bantuan kemanusiaan, dan pemulihan ekonomi. Tanpa solusi politik yang inklusif, siklus kekerasan ini kemungkinan akan berlanjut, menambah beban bagi populasi sipil yang sudah terpuruk.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa Israel menolak gencatan senjata meski ada klaim terobosan dari Amerika Serikat?
A: Israel menilai bahwa Hamas belum melucuti senjata secara menyeluruh dan menganggap penarikan pasukan tanpa jaminan tersebut akan mengancam keamanan nasionalnya. - Q: Apa isi utama peta jalan 15 poin yang dikeluarkan Board of Peace?
A: Peta jalan mencakup langkah‑langkah verifikasi pelucutan senjata, penarikan pasukan Israel, pembukaan jalur bantuan kemanusiaan, dan mekanisme pengawasan internasional, namun belum diimplementasikan. - Q: Berapa banyak korban jiwa sejak gencatan senjata Oktober 2025?
A: Sekitar 1.230 warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangan Israel sejak gencatan senjata tersebut.


