MotoGP Mandalika Jadi Pendorong Turbin Ekonomi Pariwisata: InJourney Gencarkan Strategi BUMN
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- InJourney, anak perusahaan PTAviasiPariwisataIndonesia, memanfaatkan ajang MotoGP di SirkuitMandalika untuk menggerakkan ekonomi pariwisata.
- Target penciptaan 3.000 lapangan kerja lokal dan peningkatan konektivitas wisatawan asing menjadi fokus utama.
- Strategi integrasi hulu‑hilir antara aviasi dan pariwisata dirancang untuk menyaingi destinasi regional seperti Singapura.
Jakarta – Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menegaskan komitmen PTAviasiPariwisataIndonesia (Persero) sebagai holding BUMN pariwisata dalam memperkuat ekosistem sektor ini. Salah satu inisiatif unggulan adalah penyelenggaraan MotoGP 2026 di SirkuitMandalika, Lombok, NTB.
Pembalap Indonesia Veda Ega Pratama dan Mario Ajakan akan berlaga di ajang internasional tersebut, yang diharapkan menjadi magnet bagi wisatawan asing dan domestik. Maya menambahkan bahwa InJourney menargetkan penciptaan sekitar 3.000 pekerjaan bagi tenaga kerja lokal, mulai dari operasional lintasan hingga layanan hospitality.
Di luar event balap, InJourney berupaya meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia melalui kemudahan konektivitas—baik udara maupun darat—serta paket tur terintegrasi yang memudahkan wisatawan asing untuk menjelajahi keindahan nusantara. Upaya ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk menutup kesenjangan dengan destinasi regional seperti Singapura.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, pemanfaatan MotoGP sebagai katalisator pertumbuhan pariwisata merupakan langkah cerdas. Event berskala internasional tidak hanya menarik penonton langsung, tetapi juga menciptakan efek spillover pada sektor perhotelan, kuliner, dan transportasi. Dengan perkiraan kunjungan tambahan 150.000 wisatawan selama akhir pekan balapan, pendapatan daerah dapat melonjak hingga Rp 1,2 triliun, mengingat rata‑rata belanja per wisatawan mencapai Rp 8 juta.
Namun, realisasi manfaat ekonomi tersebut sangat bergantung pada infrastruktur penunjang. Konektivitas udara yang mulus—dari bandara internasional Lombok hingga bandara regional—harus didukung oleh kebijakan tarif yang kompetitif dan layanan ground handling yang efisien. Tanpa itu, potensi pendapatan akan tereduksi karena wisatawan beralih ke destinasi alternatif yang menawarkan akses lebih mudah.
Strategi penciptaan 3.000 lapangan kerja lokal juga perlu dipantau kualitasnya. Jika mayoritas posisi berada pada level low‑skill, dampak jangka panjang pada peningkatan produktivitas tenaga kerja nasional akan terbatas. Oleh karena itu, InJourney sebaiknya mengintegrasikan program pelatihan berbasis sertifikasi internasional, khususnya di bidang hospitality dan manajemen event, untuk memastikan transfer pengetahuan yang berkelanjutan.
Terakhir, persaingan dengan hub pariwisata seperti Singapura menuntut Indonesia untuk tidak hanya mengandalkan event sporadis, melainkan membangun ekosistem yang berkelanjutan. Ini mencakup digitalisasi layanan wisata, pengembangan aplikasi satu pintu untuk pemesanan tiket, akomodasi, dan transportasi, serta promosi yang tersegmentasi pada pasar premium. Jika InJourney dapat menggabungkan semua elemen ini, Indonesia berpotensi mengubah MotoGP menjadi titik tolak bagi revolusi ekonomi pariwisata nasional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa banyak wisatawan yang diproyeksikan akan datang ke Indonesia karena MotoGP 2026?
A: Diperkirakan sekitar 150.000 wisatawan internasional dan domestik akan hadir selama akhir pekan balapan. - Q: Apa saja sektor yang paling diuntungkan dari penyelenggaraan MotoGP di Mandalika?
A: Sektor perhotelan, restoran, transportasi, serta layanan event dan keamanan akan merasakan peningkatan pendapatan signifikan. - Q: Bagaimana InJourney memastikan penciptaan 3.000 lapangan kerja lokal yang berkualitas?
A: InJourney berencana menggelar program pelatihan bersertifikat internasional untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja di bidang hospitality dan manajemen acara.


